Namjoon terus mendengarkan cerita Jimin dan Hoseok dengan saksama, meski tatapan dan gelagatnya terlihat seperti orang tak perduli.
Satu yang Namjoon simpulkan adalah, dia mungkin orang yang jahat.
Jimin bilang dirinya bahagia memiliki Yoongi yang selalu bersikap manis dan sabar padanya, meski Yoongi lelah, namun pria itu selalu menyediakan telinga dan bahu untuk Jimin berkeluh kesah juga bersandar. Membuat sang istri merasa tak masalah jika harus sesekali kesal menghadapi kesibukan suami atau kenakalan anak-anaknya. Jimin selalu bersyukur memiliki Yoongi.
Hoseok bilang, dia juga kerap merasa bersalah pada sang istri- Jung Wendy, setiap kali harus lebih mengedepankan pekerjaan kebanding keluarganya di banyak waktu. Namun Hoseok selalu berusaha menebusnya di sertiap kesempatan, seperti membelikan hadiah dari tiap pulang perjalanan dinasnya, mengajak makan malam romantis hanya berdua sang istri, mengutarakan pujian dan rayuan ringan yang menyenangkan dan di sukai oleh setiap pasangan. Hoseok bilang Wendy tipe istri yang jarang sekali marah, hanya sesekali. Wanita itu selalu berprilaku lembut dan sabar dalam menghadapinya. Dan Jimin menanggapi cerita itu dengan pujian, bahwa Hoseok telah berhasil memposisikan diri dengan baik sebagai seorang suami dan ayah, maka Wendy dan Jake bahagia bersamanya.
Jadi.. Apa Seokjin merasa tak bahagia saat bersama Namjoon?
Namjoon akui, dari semua kalimat manis yang di utarakan kedua orang didekatnya itu, tak ada satupun yang Namjoon ingat pernah dia lakukan untuk Seokjin. Justru tanpa diingat, memori tentang Seokjin yang selalu tersenyum ke arahnya setiap dia pulang bekerja, menyediakan makan untuknya dan anak-anak lalu menanyakan harinya, itu lah yang berputar dengan mudah di kepalanya.
Ternyata benar, harus kehilangan dulu, baru seseorang akan sadar bahwa dia membutuhkan. Bahwa sesuatu yang hilang itu penting untuknya.
"Daddy?" suara itu menginterupsi lamunan Namjoon, membawa tatapannya yang masih setengah fokus pada si anak bungsu yang sudah berdiri di dekat para orang tua bersama kedua temannya.
Namjoon tersenyum melihat putranya,
"Hai, sayang" sapanya dengan senyum manis,
"Kenapa kemari?" tanya Sunoo dengan raut datar, tak memperdulikan senyuman antusias sang ayah saat melihatnya.
"Hanya... Ingin memastikan keadaan mu." Namjoon berusaha mempertahankan senyumnya,
"Kau tahu, mommy tak pulang?" tanya Sunoo lagi,
"Hum, dari paman Hoseok" Namjoon mengedikan dagunya pada pria yang duduk disebelahnya. Hoseok tersenyum penuh kharisma, Sunoo menunduk memberi salam lalu mengangguk paham pada sang ayah.
"Kau mau ikut pulang kerumah daddy?" tanya Namjoon,
Sunoo menatap ayahnya seksama, terlihat menimbang sesuatu. Lalu gelengan kecil membuat Namjoon merasa begitu patah hati, dia bertanya dengan lirih,
"Waeyo?"
"Aku ingin bersama Soobin hyung, dia pasti lebih memilih disini. Jadi aku disini saja" jelas Sunoo yang sedikit merasa tak tega kala melihat raut kecewa terang-terangan sang ayah.
Keadaan ruangan itu berubah canggung, seakan mencekik siapa saja yang mendengar percakapan barusan. Bola mata masing-masing orang bergerak gelisah karena merasa tak enak dengan obrolan pribadi ayah dan anak disana.
Namjoon menghela nafas berat, dia paham maksud anaknya. Tak mau semakin memperkeruh suasana, pria jangkung itu berdiri menghampiri si bungsu yang masih berdiri kaku lalu menepuk pundaknya pelan.
"Kalau begitu, tak apa, daddy hanya ingin memastikan kau baik. Hm?" tangan Namjoon yang semula berada di pundak, mengusap wajah anaknya lembut. Pemuda itu hanya diam menatap manik ayahnya yang menyendu, kekecewaan itu terpahat jelas, yang pasti juga disadari semua orang disana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Divorce
Fanfiction🎖 #1 - leeruby (Aug, 08 '21) 🎖 #1 - jhope (Mar, 01 '22) 🎖 #2 - txt (Feb, 08 '23) Mengapa mereka berpisah? Dan apakah mereka akan kembali bersama? Mana yang akan di pilih, Keluarga ataukah Ego? BXB MPREG 21+
