Part 39 | Masing-masing

100 12 1
                                        

Berteriak, menangis, menahan yang bisa Anneth lakukan. Ia tidak tahu harus bercerita dan bertindak seperti apa. Disaat semua menjadi bahagia dan memulai kehidupan baru, masa lalu terukir kembali. Ingin membenci tetapi tidak bisa karena rasa cinta. Begitu lemah jika memilih diantara keduanya. Mungkin semesta tidak berpihak pada keduanya, sehingga sulit sekali untuk bersatu.

Mau tidak mau, Anneth harus mengakhiri semuanya meskipun rasa sakit yang ia rasakan. Menepuk pundak dan mencoba menenangkan, membuat Anneth mengarah pada seorang lelaki. "Friden ka--"

"Udah, ya .... " ucap Friden menghentikan pembicaraan Anneth dengan telunjuknya tepat pada bibir Anneth.

Terdiam.

Friden tau apa yang dirasakan oleh Anneth. Tanpa aba-aba, Ia menarik tangan Anneth hingga keduanya saling berpelukkan.

Lo nggak perlu cerita, Neth. Cukup keluarin semuanya, gue tau kalau Lo hanya butuh dukungan dan menenangkan semuanya. batin Friden mengusap rambut Anneth yang menangis tanpa suara.

Thanks, Friden. Anneth berderai air mata dengan terisak dan lelah. Perlahan keadaan Anneth sedikit tenang.

"Oh, jadi ini yang Lo suruh gue datang ke sini buat liat kalian berpelukkan?" Deven dengan santainya bertepuk tangan melihat keduanya tersadar dan melepaskan pelukannya.

Friden membulatkan matanya dan tidak enak pada Deven. "De-Dev, ini nggak seperti yang Lo liat. Biar gue jela--"

Deven menyentak omongan Friden dan tidak mau mendengarkan siapa-siapa. Pandangannya hanya tertuju pada Anneth yang matanya sembab. Melangkah dan menggenggam tangannya, namun ditepis oleh Anneth. Yang bisa Anneth lakukan hanyalah memalingkan wajahnya dan menolak semua apa kata Deven.

"Gue mau akhiri semuanya dan mulai sekarang gue dan Lo nggak ada hubungan apa-apa." ketus Anneth pada Deven dan hendak pergi. Deven terus menahan dan tidak terima.

BUGH!!

Deven yang emosi dan tertuju pada Friden membuatnya berdarah di sudut bibirnya.

Salah gue apa, Ven. Apa Lo mikir ini semua gara-gara Anneth putus karena kehadiran gue? Friden meringis kesakitan membuat Anneth mengarah padanya.

"Mending Lo pergi dan tanya pada keluarga Lo, gue nggak mau berhubungan sama anak PEMBUNUH papa gue!"

PLAK!!

Tamparan keras mengenai pipi Anneth karena kata-katanya begitu menyakitkan bagi Deven apalagi menyangkut keluarganya.

Lu gila Neth, nggak waras! Lo udah ngehina keluarga gue dua kali.

Friden yang ingin membalas hanya mendapat kode dari Anneth untuk pergi meninggalkan Deven. Sesampainya di depan ruangan Mama, Anneth berinisiatif mengobati luka Friden tetapi ia menyuruhnya untuk menemui keluarganya.

Perlahan ia membuka pintu dan menemui Mama yang terbaring memanggil namanya. Sam yang tersadar pun meminta maaf pada Anneth atas perlakuannya di rumah.

Anneth berjalan menghampiri Mamanya dan meminta maaf. Ia berharap ketika bertemu dengan Anneth akan tersadar dan sembuh seperti dulu. Tangannya bergerak membuat Anneth dan Sam tersenyum. Mereka merindukan suasana dulu yang terlengkapi walau Papa sudah tenang di sana.

"Ma, maafin Anneth. Anneth udah nggak dengerin kata mama," sesal Anneth yang membuatnya senang. "Anneth juga udah nggak ada hubungan lagi sama Deven. Anneth sudah--"

Mama hanya tersenyum sambil mengelus-elus. "Sudah lupakan semuanya. Yang terpenting kamu jangan dendam, maafkan saja. Kita fokus pada kehidupan selanjutnya."

"Sebelum itu Sam mau lewat jalur hukum. Mereka harus tanggung jawab. Sam masih tidak terima. Kalau perlu sekara--"

Anneth yang kesal dengan ocehan Sam memotong. "Besok aja, Abang. Tunggu Mama sembuh. Biar ada kesaksian."

Mama hanya tersenyum. Friden yang melihat keluarga Anneth membaik pergi dan memutuskan pulang ke rumah.

Friden kemana, ya? Tadi dia mau ke sini kok nggak datang? batin Anneth yang merasala bersalah pada Friden karena ia sudah membantunya. Tanpa banyak pikir, Ia mencoba mengirimkan pesan.

Friden

Lo dimana Friden? Kenapa
nggak nemuin gue?

Gue nggak apa-apa, Neth.
Gue pulang duluan karena
ada urusan. Maaf.

Makasih, ya, Lo baik
sama gue. Gue juga
minta maaf karena gue
Lo jadi luka.

Santai aja, cantik.
Ini cuman luka kecil.
Udah ya, gue mau tidur.
Bye!

Iya-iya.

Anneth lega mendengar Friden baik-baik saja. Senyum yang terlintas membuat Sam bergidik ngeri.

"Lo kesambet apaan. Senyam-senyum kayak orang gila," ucap Sam sambil memakan cemilan. "Lo udah punya gebe--"

Anneth menampar Sam membuat Mamanya hanya menggeleng-gelengkan. "Sok tau, gue mau tidur. Lo jaga Mama, bergandang sekalian."

***

Di sisi lain, Deven masih kesal dan pulang dengan kecepatan di atas rata-rata. Sudah kebiasaan agar dirinya terlepas dari semua masalah dan membuatnya tenang.

Siapa yang harus gue percaya? Gue udah berakhir. Arghhhh! batin Deven yang pulang ke rumahnya.

Deven yang mendengar keributan menghampiri dan masuk. Hanya ada orangtuanya yang sedang asik menonton, Deven kira ada keributan karena mereka bertengkar.

"Pa, Deven mau tanya sama Papa. Apa bener keluarga Deven ini ngebunuh Papanya Anneth?"

Kedua orangtuanya dibuat terkejut atas pertanyaan Deven. "Kamu dapat berita darimana, sayang?" Mamanya berusaha untuk menutupi dari Deven.

"Dari Anneth pacar Deven sendiri, Ma. Sekarang udah nggak ada hubungan apa-apa lagi." Deven duduk di samping orangtuanya.

Papa Deven memberi penjelasan bahwa dia tidak melakukan itu. Ia tidak mau jika kejadian lalu terbongkar dan membuat anak semata wayangnya membenci dan tidak mengakui keluarga nya.

Sayang sekali, Deven percaya begitu saja. "Deven ke kamar dulu, Ma, Pa." beranjak pergi dan kecewa dengan perkataan Anneth.

"Kenapa kamu nggak jujur aja sih, sama anak sendiri?" Mama Deven yang sudah sakit hati mendengar ayahnya berbohong berkali-kali.

Hanya cuek dan tidak peduli. "Mendingan kamu diam dan tidak usah ikut campur. Saya hanya mencintai dia yang lebih baik daripada kamu."

Papa Deven bergegas pergi karena kesal dengan perlakuan istrinya. Membuat telinganya panas dan malas.

SPECIAL - [LOVE ANNETH] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang