Part 27 | Gagal

67 10 1
                                        

Sepasang kekasih gelisah penuh kecemasan. Rasa takut akan kehilangan putri satu-satunya, berbolak-balik dan menyalahkan diri sendiri.

Dengan tatapan sendu, anak itu meminta maaf. "Tante, ini salah Deven. Harusnya Deven yang jagain Charrisa, ta-tapi-"

Wanita itu percaya. Dengan kelembutannya, ia menyuruh Deven untuk pergi ke sekolah tetapi ia tidak mau. Lagipula, hari ini pembelajaran kosong.

Dokter yang menangani pun keluar. Kesehatannya baik secara fisik, tetapi tidak pada mentalnya. Ia harus melakukan perawatan agar mentalnya tidak terganggu.

Mereka masuk.

"Dev ...."

Langkahnya terhenti dan menuju ke suara itu. Siapa lagi kalau bukan JOA. Ia mengangguk dan menjenguk Charrisa.

Perlahan-lahan, mata itu terbuka. Dengan keadaannya yang terbaring lemas, sontak membulatkan matanya.

"PERGI!"

Cha, Lo kok kayak gini. Ada apa? Katanya Lo mau ngomong sesuatu, tapi keadaan Lo kayak gini. - kata Deven yang bersedih dalam hatinya.

Ia meronta-ronta, melemparkan benda yang ada. Seisi ruangan panik dan segera memanggilkan Dokter. Vas bunga kaca pun berhasil mengenai tangan Joa. Melihat kejadian itu, Deven mengajak Joa keluar. Dokter memberikan obat penenang dan terpaksa orang tuanya memutuskan untuk homeschooling.

"Ahk .... " ringis Joa yang tangannya berdarah.

Deven dengan sigap mengobati lukanya. Ada perasaan curiga, tetapi ia tetap berfikir positif.

Sial! Tangan gue kena. Tapi bagus deh, Charrisa gila itu nggak akan membuka semuanya. Orang dia takut dengan ancaman gue, sampai-sampai mentalnya terganggu. - kata Joa dalam hati dengan senyum kemenangan.

"Lo gak apa-apa, kan?

"Eh, nggak apa-apa kok. Thx ya!" kata Joa dengan senyuman.

Kenapa Joa nggak terlihat sedih, ya? Aneh.

Setelah selesai, ia berpamit untuk mengantarkan pulang tetapi Joa menolak dan memutuskan untuk pulang sendiri.

"Tante, gimana keadaan Charrisa?" tanya Deven yang menuju ruangan Charrisa.

Mama Charrisa hanya tersenyum. "Dia nggak apa-apa, Dev. Dokter sudah memberikan obat penenang. Sebaiknya kamu pulang, ini sudah sore dan besok bisa ke sini."

Deven mengangguk dan pulang. Tidak lupa juga mengabari kepada orang tuanya.

Di sisi lain, mereka berkumpul untuk merayakan kemenangan di hotel milik Marsha.

"Bagus, hebat juga ide Lo! Gue suka," ucap Marsha sambil meminum segelas anggur dan bertepuk ria.

Mereka bersorak dan menyalakan musik seperti disko.

***

"FRIDEN!"

"Lailah, UWA!" teriak Friden yang terkejut. "Sakit kuping gue."

Gogo hanya menyimak. Nashwa memberi tahu sahabatnya, jika Charrisa masuk rumah sakit. Sempat di tolak untuk menjenguk karena sudah tidak menerima lagi.

"Heh, ingat apa yang diajarkan guru agama. Seberapa buruk perlakuan dia ke kita, jangan pernah membenci atau membalas dendam. Paham?!" ceramah Nashwa yang sendari tadi kesal dengan ucapan Gogo dan Friden.

"Iya, Bu Guru!" jawab Gogo dengan lantang.

Nashwa bersiap-siap untuk pergi. Setelah selesai, ia menanyakan alamat rumah sakit kepada Deven karena dia yang memberi tahu.

Gue ikut nggak, ya? - kata Friden yang bingung.

"Gue nggak ikut, lagian ini juga udah malem. Nggak baik Nas, biarkan Charrisa istirahat," ucap Friden yang membuat Gogo setuju dengan ucapannya.

Nashwa mengecutkan bibirnya. "Gue udah siap-siap, sayang! Tanggung kalau buka lagi."

Friden menambahkan sedikit candaan. "Mataku ternodai, Wa, kalau Lo buka baju!"

"Nggak gitu juga, Friden! Pikiran Lo parno mulu. Berobat Lo!" tegas Nashwa.

"Besok lagi Uwa cantik yang taat beribadah seperti bidadari haluan, besok aja pulang sekolah." ketus Gogo.

"Y!"

Nashwa langsung menutup telponnya.

Tau kayak gini, gue nggak usah siap-siap daritadi. - kata Nashwa yang merebahkan badannya.

SPECIAL - [LOVE ANNETH] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang