"Udahlah Mackie! Lo nggak usah ketemu sama gue lagi. Lo udah bikin kesayangan gue putus!"
"Apanya yang putus, Neth?" Sahut pria berjaket hitam itu.
Seketika Anneth terhenti karena ucapannya, ia menengok ke arah samping. Dan ternyata itu Deven bukan Mackie. Anneth terkejut, ia tak tau harus bilang apa. Bukan hanya masalah di hotel tetapi masalah yang ia hadapi ada di depannya. Anneth menyembunyikan kalung yang putus itu agar Deven tidak curiga dengan sikap diamnya.
Namun, Deven mencoba untuk melihat apa yang disembunyikan Anneth.
Akan tetapi, Deven mengalihkan pembicaraan dan mengajaknya ke suatu tempat. Ia harus berbicara hal penting karena Anneth sahabat yang Special bagi Deven.
Di perjalanan menuju tempat itu, handphone Anneth berbunyi. Ya, jelas Anneth menolak untuk menjawab panggilan tersebut. Pesan yang dikirimkan Mackie pun ia just read meskipun sudah banyak pesan yang dikirimkan. Dengan lebih baik, Anneth mematikan handphone nya agar tidak ada yang mengganggu.
Deven yang ada disampingnya menanyakan kepada Anneth, tetapi jawabannya tetap sama.
Nggak penting.
Rasa penasaran dan curiga tampak jelas di wajah Deven. Karena tidak biasa Anneth bersikap seperti ini. Deven tetap fokus apa yang menjadi tujuannya. Sesampainya di sana, Deven membelikan coklat kepada Anneth agar ia bisa seperti biasanya.
Deven mengajak Anneth ke rumah pohon dan melaksanakan rencananya. Anneth bahagia karena menarik dan nyaman dengan tempat itu. Setelah melihat foto di kanan atas, wajah Anneth berubah. Ada rasa yang mengganjal di hatinya. Ternyata, selama ini Deven sudah mempunyai seseorang yang lebih baik darinya.
Anneth tetap positif thinking.
Deven meminta tolong agar Anneth membantunya. Karena di depan Deven ada hadiah yang harus dibungkus semenarik mungkin.
Boneka, coklat dan buku diary? Semua kan favorit aku. Dan kata-kata itu .... Kenapa seperti ini? Rasanya sesak sekali. - dalam hatinya ia berkata.
Anneth bergegas untuk turun dari rumah pohon itu. Deven bingung dengan sikap Anneth.
"Neth! Kamu kenapa tiba-tiba turun, ada apa? Nggak biasanya lho, kamu kayak gini," ucap Deven yang melihat mata Anneth dengan Jelas, "apa kamu ada masalah?"
"Nggak apa-apa, kok. Aku mau pulang barusan mama telfon. Maaf-"
"Mau aku antar pulang? Atau--"
"Nggak usah. Aku pamit, ya. Bye!" Sambil berlari Anneth pergi.
Kenapa sih, Neth. Kamu terus menghindar. Tadi kamu bilang bisa bantu, di pertengahan langsung seperti semula. Mencurigakan - Kata Deven dalam hatinya.
"Astaga! Aku harus menyelesaikan hadiah tadi untuk Khatlien." sambil menepuk jidat, Deven bergegas menyelesaikannya.
Khatlien? Siapa dia? Kelihatannya Deven sudah mengenalnya lebih jauh daripada denganku. - Ucap hatinya yang bersembunyi dibalik pohon.
Akhirnya, Anneth pulang ke Hotel dengan sikap yang malas. Perasaannya saat ini bercampur aduk.
"Bagus! Baru pulang sekarang, dari mana aja? Di cari nggak ada, telfon di tolak dan pesan cuman dibaca. Kalau ada apa-apa it--"
"Lo bisa diem nggak? Capek gue dengerin ocehan yang NGGAK GUNA sama sekali," ujar Anneth dengan malas. "Awas minggir!" sambil masuk kamar dan mendorong Mackie ke luar dan mengunci pintunya.
"Lah, dikunci pula. Anneth buka nanti gue tidur dimana, buka Neth!" sambil menggedor-gedor pintu.
Anneth membuka pintu sambil membawa bantal dan selimut, lalu melemparkannya kepada Mackie. "Tidur sana di kamar Mama, di sini Lo berisik!"
Pintu kembali tertutup bagi Mackie.
Yang dipikirkan sekarang hanyalah nama Khatlien dan Khatlien. Siapa Khatlien itu?
KAMU SEDANG MEMBACA
SPECIAL - [LOVE ANNETH]
Historia CortaSPECIAL - [LOVE ANNETH] "Aku bukan manusia yang terlahir sempurna karena tidak ada orang yang sempurna kecuali Yang Maha Kuasa. Dengan kehadiran dirimu, aku semakin yakin. Bahwa kamu adalah orang yang baik dan menjadikannya terbaik untukku." - Anne...
![SPECIAL - [LOVE ANNETH]](https://img.wattpad.com/cover/228622565-64-k734326.jpg)