"Awali hari-harimu dengan melakukan kebaikan sedikit demi sedikit."
Mereka sudah bersiap dengan pakaian rapi. Mackie mendekat kepada Anneth dan berbicara sesuatu. Mereka duduk di kursi dekat jendela, dimana mereka bisa melihat keindahan pagi dengan sarapan. Mackie bercerita kalau ada seseorang yang menelpon dan tak sengaja ia mengangkatnya.
PLAK!
"LO GILA, YA. SUDAH BERANI PEGANG HP GUE. KALAU ADA YANG MENELPON, LO BILANG DULU SAMA GUE. BUKAN KAYAK GINI!"
"Kan gue nggak tau." dengan wajah polos Mack menjawab.
Anneth segera menghabiskan makanannya dan pergi meninggalkan Mack. Entah apa yang menghantuinya, Anneth berbeda dengan yang dulu. Mack pun tak menyangka, jika Anneth bersikap seperti itu.
Namun, Mack menganggap itu hal biasa. Mungkin ada orang yang merubahnya atau ada hal sesuatu yang membuat dia trauma. Mack sebetulnya paham dengan kondisi Anneth tetapi Anneth tidak memberitahunya sama sekali. Mack memutuskan pulang ke Indonesia untuk memantau Anneth, sekaligus belajar bersama Anneth.
Anneth pergi meninggalkannya, tidak peduli mau dia jatuh atau bercerita kepada mamanya. Mackie berusaha untuk membuat Anneth tenang lagi. Dengan begitu, ia memberikan sebuah permintaan apapun itu. Langkahnya terhenti dengan ucapan Mack.
"Pertama, Lo harus ikut kemana pun gue pergi sewaktu di sekolah. Kedua, Lo traktir gue beli Ice Cream Vanilla Chocolat kalau gue lagi malas. Itu saja yang gue mau. Selebihnya terserah apa mau Lo," sahut Anneth.
"OK! GUE TERIMA PERMINTAAN LO! Sebaiknya Lo ikut gue jalan-jalan. NGGAK ADA PENOLAKAN!"
"Hmmm ...."
Mack menarik tangan Anneth dan berpamitan pada maminya. Karena kamarnya sebelahan dengan mereka. Mereka pergi ke suatu tempat dimana mereka bermain. Anneth menghampiri sebuah ayunan dimana itu adalah kesenangannya. Seketika Mack membelikan Anneth Ice Cream, Anneth sendirian. Tiba waktunya yang tepat, Deven melihat Anneth di ayunan tersebut. Ketika Deven ingin menghampirinya ... Langkah Deven terhenti karena melihat seorang laki-laki menghampirinya.
Siapa laki-laki itu? Baru gue kenal. Kenapa Anneth bersama laki-laki itu? Gue harap Lo jauh-jauh sama dia dan Lo dekat sama gue. Karena Lo itu istimewa di mata gue.- kata Deven dalam hati.
"Neth, ini buat Lo." sambil memberikan ice cream kesukaannya.
"Kie baik deh." dengan wajah tersenyum Anneth bicara.
"Neth, Lo harus tau. Semenjak gue bersahabat dengan Lo, gue punya pegangan hidup dengan saran dari Lo. Gue mau Lo bahagia, Neth. Gue nggak mau Lo menderita. Gue sudah mengganggap kalau Lo it--"
"Kie, gue kan sahabat Lo. Jadi nggak apa-apa kalau Lo cerita sama gue tentang apapun itu. Gue akan selalu ada di saat Lo susah maupun senang," kata Anneth sambil memotong pembicaraan Mack.
Anneth memberikan sebuah gelang kepada Mack, "Kie ... ini gelang buat Lo. Gue harap ini Lo simpan. Jika suatu saat gue nggak ada, Lo tatap saja gelang dari gue."
"Thank you, Neth. You are my true friend." jawabnya dengan tersenyum.
"Ok, I always support you."
Mereka tersenyum dan tibalah hujan melanda. Mack bergegas untuk berteduh di pohon, sedangkan Anneth dia tetap tersenyum dan menikmati hujan.
"Neth, cepat Lo ke sini. Kalau Lo terus disana, Lo akan sakit! Anneth!" teriak Mack di bawah pohon.
"Gue senang kalau ada hujan. Hujan penuh makna buat gue. Gue bahagia bersama hujan, Kie!" jelas Anneth sambil merentangkan kedua tangannya.
"Maksud ... Lo?" Mack pergi menghampiri Anneth.
"Jadi, hujan it-"
"ANNETH!" teriak seorang pria yang memanggil namanya.
"De-ven," ucap Anneth pelan.
"Kenapa, Neth?" tanya Mack pada Anneth.
Anneth mengajak Mack untuk segera pulang. Entah kenapa ia seperti itu. Mack pun heran dengan sikap Anneth. Anneth nggak mau kalau Deven salah paham sama Mackie.
Anneth kenapa, ya? Gue panggil malah pergi. Hmm ... Sudahlah lebih baik aku pulang.- bicaranya sendiri dalam hati.
"Mudah-mudahan Deven nggak marah sama gue." kata Anneth dengan pelan.
"Ada apa, Neth? Dari tadi kamu diam saja. Ada masalah?"
"Nggak ada, ko. Pulang saja sekarang, besok kan sekolah," ujarnya dengan mengalihkan pembicaraan.
Mack hanya mengangguk dan mereka pulang. Anneth hanya diam. Sesampainya di hotel, Anneth duduk dan menatap awan.
Kembali ... jangan pergi 'ku di sini
Kembali ... senja menanti bersama lagi
Kembali ... kau takkan pernah sanggup sendiri
^_^
~Berkawan Dengan Rindu~
Mackie memerhatikan Anneth karena wajahnya tampak sedih. Menanyakan kabarpun, Anneth hanya mengangguk.
BRAK!
"LONTONG KUCINGKU MASUK SELOKAN." Latahnya sambil terkejut.
Mack terkekeh dengan kejutan Anneth. Itu semua membuat Anneth marah.
PLAK!
"Kalau jantung gue lepas, Lo mau tanggung jawab?"
"Ya ... Maaf. Makanya jadi cewek jangan pikiran kosong terus. Raganya masih ada, pandangan entah kemana. Kan kayak gini jadinya. KASIAN DEH LO," ucap Mack sambil berlari.
"LO ITU BENAR-BENAR, YA. SAHABAT GILA KAYAK ORANG GILA DI JALANAN, TAU NGGAK? KESAL GUE LAMA-LAMA. PERGI LO, GUE KUNCI SEKALIAN. BIAR LO TIDUR DI LUAR!" geram Anneth pada Mack.
"Kebalik! Gue sudah kunci Lo di kamar hotel ini. Biar Lo nggak bisa keluar! Ha-ha-ha!" ketawa Mack.
Anneth melotot dan ternganga. Ia tak sadar kalau Mack mengunci pintunya. Anneth langsung berlari dan berteriak.
"MACK! BUKA PINTUNYA, WOY! GUE TAKUT SENDIRI DI SINI, BUKA PINTUNYA, MACK! LO ITU, YA, SAHABAT TERGILA, TERSETAN, TERMALAS. BUKA PINTUNYA, MACK!" teriak Anneth dengan menggedor pintu.
"Anneth-Anneth ... kalau Lo ingin keluar, gampang banget. Tinggal Lo bilang ke gue, Mack yang ganteng dari surga turun ke hati Anneth. Tolong buka pintunya PANGERAN TAMPAN, Anneth rindu berat sama Mack." ucap Mack sambil tersenyum.
"NGGAK! GUE NGGAK AKAN MAU. LO TAMPAN DARI MANANYA, NGESELIN JUGA!"
"Ya sudah kalau gitu, gue pergi saja," ancam Mack.
"Iya-iya. Mack yang GAN-TENG dari surga TU-RUN ke hati Anneth. TO-LONG! Buka PIN-TU-NYA pangeran tampan. Anneth rindu BE-RAT sama MACK," ujar Anneth dengan malasnya.
Pintupun terbuka sedangkan Mack terkekeh. Akhirnya ekspresi Mack berubah menjadi datar dan menatap tajam Anneth. Anneth yang tadinya malas tiba-tiba mata Anneth melotot dan diam tak berkata. Karena Mack melangkah menuju Anneth hingga dekat.
Mau apa itu si Mack? Jarak nya dekat banget sama gue.- pikir Anneth dan bertanya-tanya dalam hatinya.
Mack berbisik kepada Anneth, "Nggak usah tegang, An-neth!"
Mack lari ke kamar Maminya dan kesabaran Anneth sudah habis.
"MACK! AWAS YA LO, GUE PUKUL + TENDANG, TAU RASA LO!"
KAMU SEDANG MEMBACA
SPECIAL - [LOVE ANNETH]
Short StorySPECIAL - [LOVE ANNETH] "Aku bukan manusia yang terlahir sempurna karena tidak ada orang yang sempurna kecuali Yang Maha Kuasa. Dengan kehadiran dirimu, aku semakin yakin. Bahwa kamu adalah orang yang baik dan menjadikannya terbaik untukku." - Anne...
![SPECIAL - [LOVE ANNETH]](https://img.wattpad.com/cover/228622565-64-k734326.jpg)