Part 2 | Penasaran

357 44 1
                                        

"Lo tidak apa-apa, kan?" tanya Deven sambil menarik tangan gue dan jalan.


"Tidak! Gue mau nanya sama Lo. Sebenarnya, cewek itu siapa? tidak punya sopan santun tau tidak! Marah-marah sama gue, memang gue salah apa sama dia? Jangan - jangan, Lo--"

"Bisa tidak sih, Lo jangan banyak nanya? Lo itu cerewetnya kelewat batas, mendingan Lo diam!" bentak Deven yang memotong pembicaraan gue.

Deven membawa gue ke rumahnya dan ternyata, Dia tetangga gue? - berbicara dalam hatinya.

Deven tertawa dengan senangnya dan gue emosi karena kelakuannya. Sesampainya di rumah Deven, gue lari pulang ke rumah tanpa pamit. Jelas sekali Deven marah dan khawatir, karena gue bersikap seperti itu.

Anneth masuk ke kamar dan segera berganti pakaian. Anneth tidak peduli mami bilang apa, yang penting Anneth datang menyapa dan pergi pamit. Anneth lupa tidak sarapan terlebih dahulu, entah karena semangat atau malas makan.

Namun, ketika Anneth di depan rumah Deven, dia sudah menunggu sambil melipat kedua tangannya. Pandangan mata yang tajam membuat Anneth tegang.

"Darimana saja Lo? Pulang tanpa pamit dan sekarang, datang tanpa menyapa. Lo pikir gue ini apa. 'kan gue sudah bilang, Lo ke rumah gue dahulu. Kalau Lo hilang, gimana, siapa yang tanggungjawab? Cepat Lo ikut sama gue ke dalam," suruh Deven yang sudah ceramah panjang lebar.

Deven membawa Anneth ke lantai 3 di mana itu adalah ruangan favoritnya. Anneth capai jalan karena tangganya banyak banget. Sesampainya di ruangan, Anneth sangat terpukau. di mana tanaman yang indah mengelilingi sebuah kolam dan ada jalan menuju alat musik dengan pintu yang bertuliskan Love. Rasanya nyaman sekali. Lampu-lampu kecil melingkari dinding ruangan dengan hiasan seperti lukisan, foto-foto dan juga boneka di sudut ruangan.

"Gue ke belakang, mau baca buku sebentar. Lo main saja dahulu di sini." pinta Deven.

Anneth duduk di samping kolam sambil memainkan air. Di tengah senangnya itu Anneth berhenti dan diam sejenak. Hanya melihat sebuah air dan bayangannya. Mengingatkan Anneth pada seorang laki-laki yang membuat Anneth trauma dan trauma.

Anneth menangis dan takut kembali dengan air. Entah mengapa tangan Anneth bergetar dan berjalan mundur. Melihat kesana-kemari yang membuat Deven bingung dan cemas.

"Neth!" teriak Deven

Anneth terkejut dan menjerit, "Mami, tolong Anneth! Anneth takut."

Anneth yang tiba-tiba duduk dan menutup kedua telinga dengan menjerit ketakutan. Anneth menangis dan merasakan masa lalu. Deven langsung menghampiri dan merangkul, sambil mengelus-elus rambut Anneth.

"Lo mengapa, Neth? Lo tenang, ada gue di sini." ucap Deven sambil menenangkan gue.

"Gue takut, Dev. Gue takut," ujar gue sambil memeluk Deven dan menangis.

Sebenarnya, Lo mengapa? Rasanya ada yang aneh dengan Anneth. tidak seperti biasanya. Anneth yang cerewet, sinis, malas, berubah menjadi cewek takut. Gue semakin penasaran dengannya. - batin Deven yang mencemaskan gue.

"Papi mana, Dev? Mengapa Lo diam, jawab Deven!"

"Papi siapa, Neth?"

"Papi gue! Papi dima--"

Anneth terjatuh dan badannya lemas. Deven yang sendari bingung kini mulai khawatir dengan keadaannya.

Dia mengambil kayu putih. Seketika datang, Anneth bangun dan wajahnya sedikit pucat.

"Kepala gue pusing banget."

"Mungkin Lo capai gara-gara banyak pikiran." ucap Deven sambil berbohong.

Deven memberikan segelas air agar Anneth bisa tenang.

Gue boleh tanya sesuatu tidak sama Lo?" tanya Deven dengan hati-hati.

"Boleh, memangnya mengapa?"

"Sebenarnya apa yang terjadi sama Lo, sampai-sampai Lo ketakutan sama Air. Memangnya mengapa? Apa ada sesuatu di balik semua itu?"

Anneth terkejut dan mengingat lagi semua kejadian masa lalunya. Anneth terdiam dan menundukkan kepala.

"Masalahnya, Gue takut, Dev. Gue trauma." ucap gue sambil menutup mata.

"Lo tidak usah takut. Cerita sama gue, mungkin gue bisa mengerti dengan keadaan Lo."

"Se-sebenarnya .... "

"Sebenarnya apa?" tanya Deven penasaran.

"Mendingan kita bicarakan soal besok, mau menampilkan apa sama gue. Soalnya waktunya sudah jam 5. Fokus saja dahulu dengan hari ini untuk besok. Iya itu," kata Anneth sambil mengalihkan pembicaraan.

Gue yakin, kalau Anneth menyembunyikan sesuatu dari gue. Sehingga, dia tidak mau cerita soal kejadian itu. Mendingan gue fokus dahulu untuk besok dan ketika selesai gue mau menanyakan soal itu. - batin Deven sambil menganggukkan kepala.

Tuhan, apakah aku harus cerita atau tidak, ya? Rasanya aku takut dan trauma, tetapi sepertinya Deven orang yang bisa menjaga rahasia gue, yang terjadi pada masa lalu. - Bicara Anneth dalam hati.

Anneth dan Deven hanya memandang satu sama lain. Tatapannya begitu serius. Tetapi dengan bola mata yang indah dan bersinar, rasanya ada kebahagiaan yang Anneth rasakan. Tiba-tiba bunyi suara handphone yang menyadarkan Anneth dan Deven.

"Itu dari siapa? Coba lihat siapa tau penting."

Deven melihat dan ternyata itu pesan dari Friden sahabatnya. Deven hanya bilang kalau dia lagi kerja kelompok karena dia ingin bersama Anneth untuk cerita.

"Dari siapa, Dev?"

"Oh, ini dari Friden."

"Ada apa?"

"Gimana kalau kita bernyanyi saja. Gue yang bermain piano dan Lo bernyanyi. Setuju?"

"Boleh juga, tetapi mau lagu apa?"

"Gi-ma-na kalau lagu My Heart?"

"Boleh juga. Ayo kita bernyanyi!"

Setelah bernyanyi Anneth dan Deven diam sejenak karena lelah. Di suasana itu Deven menanyakan kembali.

"Neth, Lo cerita sama gue. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Lo tadi? Jawab gue," kata Deven yang membuat gue terdiam.

"Jawab, Neth. Cerita semuanya sama gue." Deven menatap gue.

Anneth menatap Deven dan berkata,"Sebenarnya ...."

SPECIAL - [LOVE ANNETH] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang