Part 7 | Putus

203 18 11
                                        

"Maafkan aku. Karena dengan susah payah kamu mencarikan sesuatu yang berharga, tetapi aku menghancurkannya."

***

Suara pintu menutup dengan keras karena Mack berlari menghindari Anneth. Ia tahu kalau kelakuan Anneth dari dulu tidak berubah sampai sekarang.

Marah.

Suara Anneth terdengar jelas oleh mama. Mackie berusaha untuk membuat Anneth naik darah secara terus-menerus. Akan tetapi, Anneth bukanlah tipe orang yang menyerah. Ia berusaha agar pintunya terbuka, walaupun nekat untuk mendobrak pintu.

Anneth mencoba mendobrak pintu walaupun terkunci dari dalam. Sedangkan mama Anneth dan Mack terus menasehati Mack agar membuka pintunya. Anneth berlari dari belokkan menuju pintu mamanya.

"MAMA!!!"

Bughhh.......

Anneth menabrak Mack yang didepannya dan terjatuh. Karena pintu dibuka oleh Mack. Bukan hanya sakit badan tetapi kalung yang diberikan Deven putus.

"What the--"

"Diam! Masih mending Lo masih hidup."

"Kalau mendoakan itu yang baik-baik, jangan yang buruk-buruk. Ingat, doa yang nggak baik tidak akan terkabul meskipun terkabul pasti ada karmanya dan itu lebih KEJAM!"

Kali ini, hari yang paling sial untuk Anneth. Segala yang ada di sekitarnya berusaha untuk menguji kesabaran Anneth. Bukannya meminta maaf, tetapi mereka menyalahkan satu sama lain.

Dengan malas, Anneth pergi ke luar mencari tempat untuk mengungkapkan isi hatinya. Mackie semakin berteriak dan membuatnya panas.

Bukannya terimakasih malah pergi. Beruntung diselamatkan oleh Mackie yang baik hati dan tidak sombong. Heh, dasar puding. Marah-marah tetapi asik juga kalau di tambah. - Bicaranya dalam hati hingga tersenyum dengan sendirinya.

Mama hanya menggeleng-gelengkan kepala, melihat anaknya bertingkah seperti itu.

Rasanya aku mengingat masa-masa mudaku dulu. - Mama Anneth tersenyum dan bicara dalam hati.

Anneth pergi kesebuah kolam yang ada di tengah taman. Tempat itu menjadi favorit bagi Anneth dan Deven. Setetes air matanya, berhasil turun membasahi pipinya yang merah merona.

Tuh, kan. Kalungnya susah disatuin. Mana, nggak bisa dibenerin lagi. Kalau Deven marah, gimana? - Ocehan dalam hatinya.

Tampak seorang pria yang berdiri, memandangi gadis berambut panjang itu. Dengan langkah penasaran, ia mulai mendekat. Saat menangis, sampailah pria itu tepat disamping Anneth.

"Neth ..."

SPECIAL - [LOVE ANNETH] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang