[37] I'll Text You, Again

543 19 3
                                    

"Apa kabar?"

___________

Lima bulan berlalu sejak kepindahan Nadia ke tempat baru. Nadia menarik napas pelan, dilihatnya bangunan megah bercat abu-abu yang mulai pudar itu dengan saksama. Mata gadis cantik itu menatap jauh ke depan, membaca sebuah kalimat di papan. SMA Nusa Wiramandala. Salah satu sekolah menengah swasta yang ada di Semarang, Jawa Tengah. Sebuah awal baru untuk dirinya.

Nadia melangkah masuk ke dalam, suasana sekolah masih sepi, hanya ada beberapa siswa yang sudah datang dan juga petugas kebersihan. Nadia masih tidak menyangka, dirinya kini sudah memasuki tingkat akhir, kelas dua belas. Disini, di sekolah ini, dia akan memulai kembali kisah barunya. Meski mungkin hanya beberapa bulan disini, Nadia berharap dirinya bisa memaksimalkan pencarian jati dirinya.

"Murid baru ya?" tanya seorang gadis berambut ikal penuh senyum. Nadia mengangguk.

"Gue denger ada murid baru. Dan muka lo asing. Jadi siapa nama lo?" gadis itu menghadapkan diri duduk di depan Nadia setelah sebelumnya menggeret kursi di sebelahnya.

"Nadia." jawab Nadia disertai senyum kecil. Gadis itu balas tersenyum. "Gue Nadin." Nadia menatap uluran tangan dihadapannya, lalu meraihnya.

"Salam kenal, Nadin." Nadia mengayunkan tangan Nadin perlahan. "Salam kenal juga, Nadia." balas Nadin.

.....

Jam istirahat tiba, Nadia dan Nadin memutuskan untuk berbincang di depan kelas mereka. Sesekali Nadin menanyakan hal-hal terkait dengan kehidupan Nadia di sekolah yang lama. Tentu saja Nadia dengan semangat menjawab.

"Lulus SMA ada rencana kuliah?" tanya Nadin yang dijawab anggukan oleh Nadia. "Kemana?" lanjut Nadin.

"Masih belum tau, liat nanti aja deh. Kalau lo gimana?"

"Sama. Mau kuliah juga."

"Dimana?"

"Masih belum tau, liat nanti aja deh." jawab Nadin mengikuti jawaban Nadia sebelumnya. Keduanya tertawa.

"Lo udah ada cowok?" tanya Nadin tiba-tiba. Pandangan Nadia yang asik menatap siswa lain pun teralihkan. Dia menatap Nadin. "Kenapa nanya itu?"

Nadin melihat raut wajah Nadia yang sulit dijelaskan. "Eh? Gue salah ya?" Nadin membenarkan posisi duduknya. "Maaf, maaf."

Suasana hening.

Nadin melirik Nadia yang masih menatapnya. Ditatap seperti itu membuat Nadin kikuk sekaligus tidak enak, lebih tepatnya merasa bersalah.

"Nad, gue--"

"Gak ada."

Mereka terdiam. Nadin kembali memperhatikan Nadia, menunggu gadis itu melanjutkan perkataannya.

"Gak ada cowok." tegas Nadia, ragu? Nadia menghela napas pelan dan mengernyit heran. Tunggu, kenapa dia harus ragu? Bukankah itu faktanya? Fakta bahwa dia memang benar-benar tidak memiliki pacar. Atau mungkin fakta yang tidak bisa Nadia terima. Nadia menggeleng keras.

"Kenapa, Nad?"

"Hah?"

"Lo kenapa?"

Nadia berdehem. "Gak apa-apa."

"Lo abis putus ya?" Nadia menatap Nadin. Gadis itu tersenyum kecil. "Iya, dua bulan yang lalu."

.....

Pulang sekolah, Nadia memutuskan untuk mampir sebentar ke cafe yang terletak tidak jauh dari sekolah barunya. Nadia menatap sekitar, sudah lama dia tidak pergi sendiri seperti ini. Namun, banyak yang menatap ke arah dirinya. Nadia yang menyadari hal itu pun acuh, memangnya salah jika pergi sendiri? Makan sendiri?

Pesanan Nadia sampai. Hot coffe latte. Nadia menatap lama pesanannya. Memperhatikan asap yang mengepul dari sebuah cangkir dihadapannya. Entah mengapa, melihat itu rasanya seperti ada perasaan tenang. Atau mungkin mengingatkan dirinya akan suatu hal?

Nadia mengecek ponselnya. Tidak ada notifikasi. Dari siapapun. Dari 'orang itu'. Sama sekali tidak ada.

Sudah lima bulan Nadia selalu seperti ini. Mengecek ponsel hanya untuk memastikan ada notifikasi atau tidak. Lebih tepatnya, menunggu sebuah pesan dari 'orang itu'. Ah, bahkan lima bulan belum cukup bagi Nadia untuk melupakan sosoknya.

Tangannya menggulirkan rentetan pesan ke bawah secara perlahan. Melihat riwayat obrolan Nadia dengan teman-teman dan kenalannya, sampai akhirnya pergerakannya terhenti di sebuah riwayat obrolan. Nadia tertegun dan menatap lama. Dia membuka riwayat obrolan itu. Membaca kembali pesan-pesan yang tertulis disana, lalu tersenyum.

15.30
Take care ya, Nad. Semoga betah ditempat baru.

15.56
Iya kak, terima kasih.

Sudah lima bulan yang lalu, ya?

Nadia menghela napas panjang. Ditutupnya riwayat obrolan itu. Lalu, dia membuka Instagram. Sebuah aplikasi yang selama lima bulan ini Nadia abaikan. Dia tidak pernah sekalipun membukanya. Melihat cerita orang lain yang bahkan Nadia tidak kenal dekat dengan orang itu. Nadia tersenyum melihat orang-orang menunjukkan momen mereka. Sampai akhirnya, dia menyadari suatu hal. Tangannya berhenti, menahan agar cerita itu tidak terlewati. Lagi-lagi Nadia dibuat tertegun. Kali ini beda, rasanya seperti sesak?

Nadia melihat foto itu lama. Seorang laki-laki yang sedang merangkul pinggang perempuan disampingnya. Lelaki itu tersenyum memamerkan giginya. Tangan satunya mencubit gemas pipi perempuan disebelahnya. Nadia menatap tulisan yang tertera di foto itu. Sebuah tulisan kecil berwarna putih yang hampir tidak terlihat.

Sunshine.

Itu Heny, sahabat baiknya. Dan foto itu merupakan foto Heny dengan 'orang itu'.

Nadia tersenyum miris. Kenapa rasanya sangat sesak? Nadia menarik napas dalam dan memegang dadanya. Dia segera menyeruput kopi dihadapannya yang mulai mendingin. Pandangannya kosong menatap ke depan. Ada apa dengan dia akhir-akhir ini?

"Gue nggak merima penolakan. Mulai sekarang, lo jadi pacar gue."

Suara itu, kalimat itu, seperti....

Nadia menoleh. Matanya tertuju pada sebuah meja seberang yang menampakkan laki-laki jangkung sedang menggenggam tangan gadis di hadapannya. Gadis itu kebingungan. Dia bahkan sampai gemetar.

"Mine."

"You're mine."

Kata itu, kenapa persis sekali?

Nadia bungkam. Melihat kejadian dihadapannya membuat dirinya seperti merasa de javu. Kejadian ini, persis dengan kejadian ketika Desta memintanya untuk menjadi pacar cowok itu. Ah, Desta. Susah payah Nadia menahan agar tidak memikirkan nama cowok itu, tapi ujung-ujungnya sia-sia juga.

Nadia kembali melihat interaksi mereka. Namun, cowok itu membawa gadis itu pergi. Dengan menariknya. Paksa. Tanpa menunggu gadis itu menjawab.

Melihat kejadian itu, lagi-lagi Nadia tertegun. Apa sebenarnya yang telah terjadi? Kenapa rangkaian kejadian hari ini begitu memaksanya mengingat sosok Desta. Ada apa dengan dirinya? Perasaan ini, kenapa mengganggu sekali? Apa dia tidak bisa melupakan Desta?

Ting.

Sebuah notifikasi masuk dari ponselnya. Nadia melirik. Satu pesan masuk dari Instagram. Nadia mengeryit bingung. Diambilnya ponsel itu, lalu Nadia menegang. Matanya berkedip beberapa kali memastikan jika dirinya tidak salah lihat.

(@dsta_56) mengirimkan pesan baru:
Hai, Nad. Apa kabar?

Atau mungkin dia masih mencintai cowok itu...

Mencintai Desta.




Tbc...
.
.
.
.
.
.
Halo, setelah 2 tahun akhirnya cerita ini update. Terima kasih, karena kalian masih membaca dan memberi dukungan untuk cerita ini.

Cerita ini akan di update secepatnya. Janji. Maaf dan terima kasih, semua🤍

Possessive SeniorTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang