"Cinta tidak pernah salah. Tapi, yang salah adalah orang yang menyalahgunakan cinta dan membuat orang lain terluka."
_____________
Alfy berjalan tergesa-gesa dengan langkah lebarnya, sebenarnya yang Alfy lakukan lebih tepat disebut berlari. Cowok itu berlari menyusuri koridor kelas dua belas yang sangat ramai di jam istirahat, karena terlalu terburu-buru Alfy tidak sengaja menyenggol beberapa murid yang berada di dekatnya. Berbagai bentuk umpatan dilemparkan dari mulut murid, melayangkan protes atas perbuatan Alfy yang menabrak mereka. Alfy seakan menulikan pendengarannya, ia masih terus berlari.
Di depan pintu UKS, Alfy sempat terhenti. Ia mencoba mengatur napasnya yang tersenggal akibat berlari tadi, setelah dirasa cukup, dia memegang knop pintu dan membukanya.
"Desta, kok cepet banget belinya?"
Baru saja membuka pintu, dia sudah disambut oleh sebuah pertanyaan. Alfy mengamati gadis di depannya dengan seksama. Gadis itu rupanya juga tengah menatap kearahnya dengan mata beningnya.
"Alfy?"
Dengan raut wajah yang masih terlihat bingung juga terkejut, Nadia terdiam. Melihat ekspresi Nadia, Alfy hanya tersenyum tipis. Perlahan, ia melangkah mendekat kearah brankar menghampiri Nadia.
"Natapnya kok gitu amat," tangan Alfy terulur mengusap lembut kepala Nadia. Seolah tersadar, Nadia langsung mengalihkan pandangannya kearah lain. Dalam hati ia meringis.
"Sakit apa?"
Nadia diam. Alfy mengerutkan kening heran, "Nad?" kali ini Alfy mengusap pundak Nadia. Kaget dengan sentuhan Alfy, Nadia refleks menepis pelan tangan Alfy yang bertengger di pundaknya.
"Ya? Kenapa?" Nadia masih bersikap layaknya orang linglung, yang justru membuat Alfy semakin dibuat bingung. "Lo sakit apa?"
"Ah, gue gak sakit kok, cuma mual aja,"
Nadia mencoba untuk tersenyum ketika melihat Alfy yang menautkan kedua alisnya. Sungguh, sekarang ia sedang gelisah, memikirkan apa yang akan terjadi ketika Desta melihat Alfy disini, berbagai kemungkinan Nadia pasti Desta akan marah, dan ia tidak mau menimbulkan masalah lagi. Sebenarnya yang lebih ia takutkan adalah Desta akan kembali menghajar Alfy seperti sebelumnya, Desta yang tempramen itu pasti tidak tinggal diam melihat Alfy.
Alfy memperhatikan gerak-gerik Nadia yang sedang gelisah, gadis itu menautkan kedua jemarinya dengan gugup, keringat juga membasahi pelipis gadis itu.
"Nad, lo gak apa-apa?"
Nadia segera menoleh takut, "ah, gak apa-apa kok." ujar Nadia sambil tersenyum tipis. "Lo gak masuk kelas?" lanjutnya lagi.
"Ini masih istirahat, Nad. Lo gak tau?"
Skakmat. Nadia mendesis, ia merutuki dirinya sendiri. Bagaimana dia bisa lupa akan hal itu? Padahal jelas-jelas tadi ia mendengar bel yang berbunyi sangat keras. Nadia merasa kepalanya semakin pening, bukan karena sakit, tapi karena memikirkan Alfy dan juga Desta.
"Em, lo gak istirahat? Maksud gue, makan gitu?"
Alfy terkekeh. "Lo gak suka gue ada disini?"
Pertanyaan Alfy membuat Nadia langsung terkesiap. "Bukan, bukan itu maksud gue. Tapi-
Belum sempat Nadia melanjutkan perkataannya, Alfy terlebih dahulu memotong dengan jawaban tepat, membuat Nadia membelalakkan mata, dengan tubuh yang menegang.
"Karena Desta?"
Melihat reaksi Nadia yang seperti itu, Alfy langsung mengusap bahu Nadia. "Tenang, aja. Gue bakal hadapin Desta." ujar Alfy seraya tersenyum menenangkan seolah menyatakan dan menjamin jika semuanya akan baik-baik saja.

KAMU SEDANG MEMBACA
Possessive Senior
Teen FictionDia Desta. Lelaki keras kepala juga angkuh. Semua yang dia inginkan harus terwujud, tidak peduli apa pun resikonya. Semua perintah darinya bersifat mutlak, tak terbantahkan. "Mine," Satu kata yang menyebabkan seorang gadis lugu terjebak dalam sangka...