"Bukan menunggu, tapi keraguanmu yang membuatku lelah."
__________
Sang surya mulai menampakkan dirinya, memberi penerangan sekaligus kehangatan bagi setiap makhluk. Suara kicauan burung dan dinginnya angin yang berhembus membelai lembut kulit, menemani Nadia yang tengah duduk di halaman rumah. Nadia mengetukkan kakinya pada rumput dengan gelisah.
Sesekali Nadia melirik arloji berwarna navy yang melingkar manis di pergelangan tangan kirinya. Sudah jam enam lewat empat puluh menit, dan Desta masih belum menjemputnya. Padahal, gerbang sekolah akan tutup tepat jam tujuh pagi.
Mendadak Nadia menjadi gelisah. Pikiran-pikiran buruk menghantuinya. Desta kemana? Apa dia baik-baik saja? Ya Tuhan.
Namun, Nadia segera menepis semua pikiran buruk itu. Tidak baik, bagaimana jika memang kejadian? Untuk itu Nadia tak sanggup membayangkan. Karena Desta tak kunjung datang, Nadia memilih bangkit dan berjalan menuju pagar rumahnya. Dia menatap jalan yang biasanya di lewati Desta jika menuju kerumahnya. Mencari-cari jejak cowok itu disana. Namun, disana tidak ada tanda-tanda keberadaan Desta.
Nadia menghembuskan napas kasar, lima belas menit lagi masuk, dan dia masih berada disini. Tidak mau telat, akhirnya Nadia memutuskan untuk berjalan ke depan, berharap ada taksi atau minimal angkot yang akan mengantarnya ke sekolah.
Jika saja kedua orang tuanya ada, pasti kini mereka mencemaskannya apalagi jika Nadia telat, bisa kena semprot Ayah dia. Untung saja mereka sedang menghadiri acata keluarga sampai sore nanti. Nadia berjalan tergesa-gesa, takut ketinggalan angkot atau apalah. Tangannya mencengkram erat tali tas nya. Perutnya juga sudah berdemo dari tadi, Bunda tidak ada juga tidak ada yang mempersiapkan sarapan untuknya.
Di tengah perjalanan, Nadia di kejutkan dengan suara klakson motor, lantas dengan cepat dia mengusap dada. Siapa yang berani mengagetkannya? Cari mati memang! Dengan kesal, Nadia menoleh.
"Hai."
Belum sempat pulih dari keterkejutannya tadi, Nadia kembali dibuat terkejut dengan orang itu. Setelah membuatnya panik karena takut telat, ditambah dengan kejutan yang hampir membuat jantungnya copot, tapi dengan seenaknya Desta mengucapkan 'Hai'? Wah, cowok ini memang minta ditimpuk. Tapi berhubung Nadia tak suka kekerasan, dia hanya melotot tajam.
Nadia menatap Desta kesal, "hai? Ngeselin banget sih!" Nadia mencebik.
Desta yang melihat ekspresi Nadia hanya terkekeh, lalu tangannya terulur untuk mengacak puncak rambut gadisnya, gemas.
"Ih Desta! Rusak rambut aku!" keluh Nadia sambil merapikan tatanan rambutnya.
"Maaf, yaudah ayuk naik! Enam menit lagi gerbang di tutup."
Nadia membolakan matanya, enam menit lagi menentukan kedislipinannya, melupakan kekesalannya, Nadia dengan cepat naik di jok belakang Desta. Setelah duduk, Nadia mengernyitkan dahi, karena Desta belum juga menjalankan motornya, "ayo jalan!" titahnya menepuk bahu Desta.
Dibalik helm, Desta tersenyum. Dia meraih kedua tangan Nadia dan meletakkan di pinggangnya. Nadia langsung melotot, "modus banget sih!" protes Nadia setengah berteriak.
"Bukan modus, Nad. Aku cuma gak mau kamu jatuh." alibi Desta, membuat Nadia hanya bisa memutar bola mata jengah. Alasan!
"Ayo jalan! Nanti telat!" titah Nadia. Desta mengangguk dan mulai menjalankan motornya dengan kekuatan super, membuat Nadia yang di bonceng tak henti-hentinya mengumpat.
.....
"Nad, kamu gak apa-apa?" tanya Desta setelah keluar dari parkiran. Nadia mendengus keras. Masih terputar kejadian beberapa menit lalu, dimana Desta yang mengendarai sepeda motor seperti orang kesetanan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Possessive Senior
Ficção AdolescenteDia Desta. Lelaki keras kepala juga angkuh. Semua yang dia inginkan harus terwujud, tidak peduli apa pun resikonya. Semua perintah darinya bersifat mutlak, tak terbantahkan. "Mine," Satu kata yang menyebabkan seorang gadis lugu terjebak dalam sangka...
