[31] Akhir dan Harapan

2.9K 155 49
                                        

Nb: Baca sampai bawah! Biar nggak salah paham😴💆🏻

"Selamat tinggal, hubungan.
Selamat datang, kesendirian."

-Anonim

_________________________

Hembus angin terasa begitu menenangkan. Daun-daun yang berguguran seolah mendukung suasana tempat itu. Nadia duduk tenang dibawah naungan pohon besar yang menyelamatkan dirinya dari sengatan mentari sore, memejamkan mata, Nadia terhanyut dalam ketenangan yang tidak sengaja tercipta.

Derap langkah kaki menggema, terdengar jelas di tempat sepi ini. Semakin mendekat, hingga Nadia menghela napas dan terpaksa membuka matanya kembali, menoleh pada sang pemilik langkah yang kini sudah duduk di sampingnya.

Desta menoleh, tangannya berusaha memegang lengan gadis itu, tapi Nadia lebih cepat untuk menghindar, memberi jarak antara keduanya. Tersenyum miris, Desta meletakkan tangannya di atas paha. Cowok itu berkali-kali menghela napas dengan disertai tepukan kedua tangannya diatas paha.

"Nad, aku mau bicara."

Desta memperbaiki posisi duduknya, menghadap pada Nadia. Gadis itu menoleh sebentar dan mengikuti posisi duduk Desta, menyamping, hingga kini mereka duduk berhadapan. Netra keduanya beradu, tak lama karena Nadia memilih menunduk.

"Nad?" panggilnya lagi, dengan tangan terulur menyentuh tangan Nadia. Tidak seperti sebelumnya, kali ini Nadia membiarkan Desta menyentuhnya. "I miss you." Ibu jarinya bergerak pelan dengan gerakan mengusap, "kangen banget sama kamu."

Nadia berdebar mendengarnya.

"Kamu ingat nggak pertama kali kita ketemu? Di kantin, waktu itu aku dengan nggak tau malunya nyamperin kamu," Nadia mengangkat wajahnya, memberanikan diri menatap Desta dan mendapati senyum kecil dari cowok itu.

Nadia mencoba mengalihkan pandangannya, pada apa pun, asal tidak menatap cowok itu. Gerakan ibu jari Desta yang mengelus punggung tangannya terhenti. "Saat itu, aku langsung klaim kamu sebagai milik aku." Gadis itu masih diam, mencoba memikirkan maksud Desta yang mencoba menceritakan awal mereka bertemu juga Desta yang saat itu memaksanya menjadi miliknya.

"Nad, aku tau aku egois. Tapi, sebelum aku meminta, maksudnya memaksa kamu buat jadi pacarku, aku lebih dulu nyari tentang kamu. Aku stalking kamu, seniat itu karena aku betul-betul tertarik sama kamu. Sampai akhirnya aku memaksa kamu buat jadi milikku, kenapa aku maksa? Karena aku nggak mau mendengar kata penolakan dari mulut kamu."

Desta kembali menggerakkan ibu jarinya, mengelus punggung tangan Nadia. "Aku tau sikapku ini keterlaluan, ngebuat kamu ngerasa aku terlalu ngekang kamu, ngatur kamu. Aku tau aku egois. Tapi, Nad, di dunia ini nggak ada yang sempurna. Prinsip aku, apa pun yang aku mau, maka harus tercapai, nggak peduli jika itu memakan korban. Kamu bilang aku posesif, ya itu benar. Cowok mana sih yang nggak marah liat ceweknya dekat dengan cowok lain? Bukan apa-apa, Nad. Tapi, kamu milik aku, aku nggak rela jika harus berbagi apalagi terbagi."

Nadia masih diam, telinganya awas mendengar semua kalimat yang dilontarkan Desta. "Selama kamu sama aku, aku kira kamu bakal luluh karena terbiasa, tapi sikap kamu yang keras kepala buat aku sadar, sebesar apa pun aku berjuang untuk meluluhkan hati kamu, jika kamu nggak mau sama aku, percuma."

Desta menghela napas beratnya. Dia menatap Nadia dan tersenyum. Sebuah senyum miris, yang disambut senyum canggung Nadia. "Hari ini, tepat satu tahun lalu, aku memaksa kamu buat jadi pacarku."

Nadia menarik napas, satu tahun? Bahkan dirinya tidak mengingat apa pun. Dia terkekeh dalam hati, ketidak peduliannya pada Desta sudah memasuki tahap parah ternyata. Kini, Nadia merasa bersalah.

Possessive SeniorTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang