"Mengenalmu adalah sebuah anugerah, dan menyakitimu adalah suatu larangan."
-Alfy-
______________
"Jangan membenciku, jika kamu gak mau lihat aku kayak gini." bisiknya lirih pada telinga Nadia, membuat tubuh Nadia meremang. Apakah Desta menyiratkan sesuatu? Ya Tuhan, mengapa semuanya harus serumit ini.
Nadia bisa merasakan kehangatan kala cowok itu mendekap erat tubuhnya. Hati kecilnya memberontak ingin mencoba melepas dekapan itu, tapi logikanya masih memikirkan perasaan cowok yang tengah mendekapnya. Perasaan bersalah memenuhi ruang dalam otaknya ketika mengetahui jika dirinyalah yang telah menyebabkan Desta seperti ini. Tangan cowok itu bergerak lembut mengusap rambutnya, penuh sayang.
Perlahan, Nadia mengurai pelukan dan mengusap sudut matanya yang berair. Dia menghirup napas dalam dan membuangnya. Ia melakukan itu berkali-kali untuk menenangkan pikirannya. Mengapa ia harus terlibat dengan ini semua? Desta, cowok dengan sikap posesif, pemaksa, namun manis disaat yang bersamaan.
Desta yang melihat itu ikut terdiam, membiarkan gadisnya menenangkan pikiran. Seharusnya ia harus lebih berhati-hati, tapi apa boleh dibuat? Semuanya sudah terlanjur.
Desta melirik Nadia sekilas dengan ekor matanya, "kamu marah?"
Nadia mengernyit mendengar pertanyaan itu, marah? Mengapa dia harus marah? Tidak. Dia tidak marah sedikitpun pada Desta, ia hanya merasa...bersalah?
"Kenapa aku harus marah?" Nadia balik bertanya dan kini giliran Desta yang kebingungan. "Terus?"
Nadia menggeleng. "Gak penting." Setelah mengucapkan itu, Nadia bangkit dan meninggalkan Desta yang masih kebingungan di tempatnya. Desta termenung, jika Nadia tidak marah padanya terus disebut apa sikapnya beberapa saat lalu?
Selang beberapa saat, Nadia kembali dengan kotak P3K di genggamannya. Tanpa diminta, Nadia membersihkan luka Desta dengan alkohol. Desta meringis kala perih menjalar di tangannya, bahkan dia harus menggigit bibir bawahnya berharap mengurangi rasa perih itu. Dia masih setia menatap gadis cantik yang dengan telaten memasangkan kain kasa dan menggulungnya dengan pelan dan rapi. Nadia melakukannya dengan tulus, ia bisa merasakannya. Saat melihat binar dari kedua matanya. Lalu, apakah ia tega menyakiti gadis tulus ini? Jika sampai ia menyakitinya, ia tidak lebih dari seorang bajingan liar.
"Selesai." Nadia tersenyum puas atas apa yang baru saja ia lakukan. Desta mengamati tangannya yang sudah di balut oleh kain putih, rapi sekali. Desta juga ikut tersenyum melihatnya, benar kata orang, jika sebuah senyuman memang bisa menular, apalagi senyuman gadis dihadapannya yang membuat siapa saja ingin selalu melihat dan menikmatinya.
"Terima kasih." Ucapnya lembut, Nadia membalasnya dengan senyuman. "Kembali kasih." Nadia mengecup sekilas tangan Desta yang di balut itu. Melihat itu, Desta tertegun sebelum akhirnya terkekeh.
"Wah, pasti langsung sembuh ini lukanya." Kata Desta sumringah.
"Lho? Mana bisa?"
"Bisa, kan habis di kasih kecupan sama bidadari," goda Desta membuat Nadia memalingkan wajahnya, ia yakin pasti pipinya sekarang sudah memerah, Desta memang paling bisa membuatnya merasa malu sekaligus senang. Andai saja Desta selalu bersikap seperti ini, ramah, lembut, dan tulus. Nadia pasti dengan senang hati akan membuka hatinya untuk cowok itu.
"Apaan sih, gak lucu." Balas Nadia dengan wajah kesal yang dibuat-buat.
"Aku suka kalau kamu lagi blushing. Imut. Aku jadi makin cinta." Desta tertawa lagi ketika dia melihat Nadia menutupi kedua wajahnya dengan telapak tangan gadis itu.
"Desta, aku malu."
....
"Alfy, lo kenapa? Perasaan diem mulu," cowok berambut cepak yang di ketahui bernama Luki itu menghela napas. Sekali lagi, dia memperhatikan teman sebangkunya yang masih betah mengunci mulutnya. Sejak jam pertama di mulai, Alfy memang lebih banyak diam. Jika biasanya Alfy akan aktif dalam kegiatan belajar mengajar apalagi pelajaran yang menurutnya menantang, kali ini cowok itu terlihat tidak bersemangat mengikuti pelajaran.
Sebagai teman yang baik, Luki tentu akan bertanya dan mencari tahu apa yang telah terjadi pada teman sebangkunya itu.
"Alfy, gue berasa kayak ngomong sama makhluk halus." Luki mendengus, pandangannya terfokus pada papan tulis dan buku catatannya bergantian. Pelajaran kali ini adalah Fisika, dan di depan sana, ada salah satu teman sekelasnya yang di ketahui bernama Hana mendapat giliran maju mengerjakan soal. Raut wajah Hana berubah pias, dia sudah berdiri di depan papan tulis sekitar enam menit yang lalu. Memandangi deretan angka yang entah di matanya terlihat bagai coretan asal-asalan.
Tangan Hana mencengkram spidol dengan kuat, keringat dingin mulai membasahi dahinya, dan dia benci situasi ini. Dimana ia bertindak sebagai orang bodoh yang sama sekali tidak bisa mengerjakan soal Fisika di hadapannya.
"Ada apa, Hana? Tidak bisa mengerjakan soalnya?" tanya Guru Fisika dengan sinis, Hana menoleh dan hanya bisa menunduk. "Maaf, Bu. Saya tidak bisa mengerjakannya,"
Guru Fisika itu mendengus, "kamu itu kalau saya sedang menerangkan ngapain saja? Tidur?" sinisnya.
Hana masih menunduk dan bibirnya terasa kelu untuk menjawab."Sudahlah, kamu duduk saja sana!"
Hana mengangguk dan segera berjalan menuju kursinya, dalam hati ia bersorak senang.
"Alfy, kerjakan soal di depan!"
Luki memandang Alfy yang masih menatap lurus ke depan. Hei, apakah temannya ini mengalami gangguan pada sistem pendengarannya? Sampai suara interupsi dari guru yang lumayan keras saja tidak terdengar? Dengan kesal, Luki menabok lengan Alfy cukup keras, membuat Alfy menatapnya tajam.
"Itu lo di suruh ngerjain soal di depan!" Luki meringis dan menunjuk papan tulis. Alfy mengikuti arah tunjuk Luki.
"Alfy, ayo kerjakan!" Guru Fisika itu meletakkan spidol di hadapan Alfy. Mengisyaratkan cowok itu agar segera maju ke depan dan mengerjakan.
Alfy menatap spidol cukup lama sebelum akhirnya ia mendengus. "Maaf, Bu. Saya mau ke toilet." tanpa menunggu persetujuan dari sang guru, Alfy terlebih dahulu bangkit dan berlalu keluar kelas. Semua pasang mata yang memandang kejadian itu menutup mulutnya. Setahu mereka, Alfy bukanlah seorang murid yang berani keluar kelas ketika sedant ada guru yang mengajar, meski hanya sekedar pergi ke toilet. Tapi kali ini? Bahkan tanpa persetujuan guru, Alfy dengan santainya berlalu dari dalam kelas.
Sudah cukup berspekulasi tentang Alfy, semua murid menatap Guru Fisika. Mereka kompak meringis ketika menyadari ekspresi wajah guru tersebut. Wajahnya merah padam, sangat tidak bersahabat. Dan mereka hanya bisa berharap agar bel segera berbunyi.
Sementara di tempat lain, Alfy mengusap wajahnya kasar dan mendengus. Bayangan seorang gadis yang berusaha melindunginya terus merayap dan hinggap di syaraf otaknya, di tambah perasaan bersalah yang semakin mendalam.
Meski sudah meminta maaf dan di maafkan, tentu saja masih belum bisa membuatnya tenang. Ia masih ingat betul, ketika Desta, cowok brengsek itu melayangkan satu bogeman keras yang mengarah ke arahnya malah melesat dan menumbangkan gadis itu.
Apa kabar gadis itu? Apakah ia sudah masuk sekolah? Apakah keadaannya sudah membaik? Ingin rasanya dia menemui gadis itu dan bertanya kabarnya. Tapi, itu belum bisa ia lakukan. Ia terlalu malu untuk menemui gadis itu.
Dan tujuannya kali ini, ia akan menuntaskan rasa bersalahnya. Rencana yang sudah ia susun akan segera di laksanakan. Semuanya akan di mulai. Dan dia harus memastikan semua rencananya berjalan mulus tepat kepada targetnya.
Alfy tersenyum sinis. Inilah awal dari semuanya. Dan untuk itu, bersiaplah.
.
.
.
.
..
Tbc....Thank you untuk 1k readers PS😍 Kalian luar biasa, terus beri dukungan supaya cepet update ya😊
Salam literasi,
fitrimayesa

KAMU SEDANG MEMBACA
Possessive Senior
Teen FictionDia Desta. Lelaki keras kepala juga angkuh. Semua yang dia inginkan harus terwujud, tidak peduli apa pun resikonya. Semua perintah darinya bersifat mutlak, tak terbantahkan. "Mine," Satu kata yang menyebabkan seorang gadis lugu terjebak dalam sangka...