"Asal kamu tahu, mempertahankan sesuatu tidak sebercanda itu,"
______________
Suara derum motor terdengar di sekitar pelataran perumahan, seorang cowok memberhentikan motornya di depan salah satu rumah yang terkesan simpel, namun mewah secara bersamaan. Sementara itu, gadis yang berada di belakangnya sibuk melepas kaitan helm. Setelah berhasil, dia menyerahkan helm pada Desta. Nadia turun dari motor, dan segera membuka pintu pagar rumah.
"Nad?"
"Ya," sahutnya sambil masih berusaha membuka kunci pagarnya. Nadia sedikit geram karenanya, kenapa mendadak susah di buka sih? Biasanya juga mudah. Oke, mungkin karena dia tidak sabaran sehingga jadi susah. Nadia mencoba menenangkan dirinya dan kembali berusaha membuka pagar. Usaha gadis enam berumur enam belas tahun itu tidak sia-sia. Gadis itu memekik senang ketika pagar itu berhasil terbuka.
Desta tersenyum melihat tingkah Nadia. Ketika gadis itu dengan geramnya mencoba membuka pagar. Bisa saja Desta membantunya, tapi sayangnya Desta lebih memilih memperhatikan Nadia lebih lama lagi.
"Kenapa, Des?"
"Aku mau ngomong," jawab Desta.
Nadia mengerutkan kening. "Di dalem aja kek biasa," balasnya sambil menunjuk kearah rumah. Desta menggeleng tak setuju.
"Aku mau pulang,"
"Lho? Gak mampir? Bunda pasti udah nungguin, setiap hari juga kamu mampir, Des." Desta memang tak pernah absen mengunjungi rumah Nadia di jam-jam tertentu, dia biasanya mampir pada pagi hari untuk menjemput Nadia yang akhirnya berujung sarapan bersama dirumah gadis itu. Terus, di siang hari, selepas pulang sekolah, Desta tak pernah absen untuk mampir hanya sekedar menemani gadis itu menonton film romance kesukaannya. Terakhir malam hari, itu pun karena Desta yang memaksa. Jadi, Desta rutin mengunjungi rumah Nadia tiga kali sehari, sudah seperti minum obat saja.
"Aku ada urusan,"
"Tumben, penting banget, ya?"
Desta mengangguk singkat. Nadia sempat berpikir urusan penting apa yang membuat Desta seperti ini? Tapi, Nadia mencoba untuk mengerti, mungkin memang benar Desta memiliki urusan yang sangat penting.
"Nanti malam datang, 'kan?"
Desta berdehem. "Lihat nanti,"
Lagi-lagi jawaban Desta membuat Nadia semakin penasaran. Perasaan Nadia jadi semakin tidak enak, takut terjadi sesuatu pada Desta. Cowok itu juga terlihat aneh semenjak disekolah tadi.
"Yaudah deh, kalau begitu aku masuk ya," pamit Nadia dengan suara pelan, tapi sebelum Nadia masuk, panggilan dari Desta membuatnya kembali berhadapan dengan cowok itu.
Nadia menaikan sebelah alisnya, pertanda menanyakan sesuatu pada Desta. "Jangan percaya terlalu besar, nanti kecewa," suaranya pelan, terkesan lirih.
Mendengar ucapan Desta tentu saja Nadia kaget, "maksud kamu?"
Desta tersenyum tipis dan mengusap kepala Nadia sayang, "udah sana masuk!" Setelah mengucapkan itu, Desta kembali memakai helm nya dan pergi dari depan rumah Nadia, setelah sebelumnya mengingatkan Nadia untuk istirahat total. Menyisakan Nadia yang masih tertegun ditempatnya.
Rupanya gadis itu masih memikirkan kata Desta tadi, mungkin dia akan tetap berdiri disana macam patung selamat datang hingga malam. Tapi, keberuntungan masih menjadi milik Nadia, ketika mendengar suara panggilan bagaikan pengeras suara yang berasal dari sang Bunda menyadarkan Nadia.
.....
Sebuah motor berhenti di depan toko bunga yang menyediakan beraneka macam jenis dan spesies bunga. Seorang cowok dengan jaket kulit berwarna hitam menghampiri toko tersebut dan memilih berbagai bentuk bunga yang menurutnya menarik.

KAMU SEDANG MEMBACA
Possessive Senior
Teen FictionDia Desta. Lelaki keras kepala juga angkuh. Semua yang dia inginkan harus terwujud, tidak peduli apa pun resikonya. Semua perintah darinya bersifat mutlak, tak terbantahkan. "Mine," Satu kata yang menyebabkan seorang gadis lugu terjebak dalam sangka...