[13] Pesan yang Tak Diharapkan

4.6K 265 36
                                    

"Disaat pintu hati saya tertutup, adakah yang nekad untuk mendobraknya? Ada, kamu."

_______________

Seperti janjinya tadi siang di sekolah, setelah selesai bertemu dengan teman-temannya di markas, malam ini Desta langsung pulang ke rumah sebentar untuk mengambil buket Anyelir, kemudian melajukan motornya membelah jalanan ibu kota yang lumayan ramai. Tujuan kali ini jelas dirinya akan pergi ke rumah sakit, menemui seseorang.

Jarak rumah sakit dari markas lumayan jauh, Desta memerlukan waktu sekitar dua puluh lima menit untuk tiba di rumah sakit umum swasta yang terletak di penjuru kota. Dia bergegas menelusuri lorong rumah sakit.

Langkahnya terhenti di salah satu ruangan nomor satu di rumah sakit itu, di depan sana, seorang wanita paruh baya tengah duduk dengan pandangan menerawang kosong ke depan. Desta segera menghampiri wanita itu dan duduk di sampingnya. Cowok itu menatap wanita itu, ada air mata yang tak berhenti mengalir dari kedua sudut matanya.

"Dia baik-baik aja, 'kan?" tanyanya langsung.

Wanita itu terdiam.

"Tan," bukan menjawab, wanita paruh baya itu langsung terisak dan memeluk Desta erat. Tangannya mencengkram jaket Desta, sambil memukul pelan punggung cowok itu. Desta terdiam, mengelus punggung rapuh itu, memberi sedikit ketenangan. Tak bisa dipungkiri, sikap wanita yang ia panggil dengan sebutan 'Tan' ini juga membuat dirinya cemas bukan main.

"Desta," panggil wanita itu setelah mengurai pelukannya. Dia menghapus air mata yang masih menggenang di kelopak matanya. "Tante ikhlas kalau memang harus kehilangan dia." lanjutnya dengan suara parau.

Desta melotot kemudian menggeleng. Napasnya serasa tercekat. "Nggak, Tan. Aku gak mau, dia pasti sadar," jawabnya cepat.

"Tapi ini udah dua tahun, Desta. Dan gak ada kemajuan sama sekali,"

"Tan,"

"Tante gak tega,"

"Nggak, Tan."

Wanita itu menyeka air matanya pelan dan kembali terdiam. Mata Desta memerah, napasnya juga mulai memburu. Dia bangkit dan masuk ke dalam ruangan setelah sebelumnya mengontrol emosinya, meninggalkan wanita paruh baya itu sendiri dalam linangan air mata dan harapan yang semu.

Pintu terbuka menampilkan seorang gadis yang terbaring lemah dengan berbagai alat medis yang menempel pada beberapa titik bagian tubuhnya. Napas Desta menderu, tangannya semakin erat menggenggam Anyelir dan melangkah perlahan. Di letakkannya buket Anyelir itu di nakas bersama dengan Anyelir lain yang ada disana, yang pasti semua kiriman Desta.

Duduk di kursi, Desta meraih tangan gadis itu dan mengusapnya pelan.
"Selamat malam," sapanya.

Tak ada jawaban.

Hanya ada bunyi alat-alat medis.

"Udah dua tahun, kamu gak capek tidur terus?"

Tenggorokan Desta terasa kering, matanya juga mulai memanas, "aku disini, nunggu kamu. Mau sampai kapan?"

Desta mendongak menatap langit-langit ruangan yang putih, mencoba menahan air mata untuk tidak terjatuh. Ia tidak mau terlihat lemah di hadapan gadis itu, tidak mau. Cowok itu kemudian menautkan jemari mereka. Dingin. Itulah yang Desta rasakan ketika tangan hangatnya bersentuhan dengan tangan gadis itu. Di bawanya tangan itu kearah bibir nya dan mengecupnya lembut.

Desta memandangi wajah gadis itu lama, sesekali ia mengusapnya lembut, ada banyak yang ingin cowok itu katakan, tapi entah mengapa semuanya hanya berakhir di tenggorokannya.

Suara getaran ponsel di balik saku jaketnya membuat cowok itu menghentikan gerakannya. Dia merogoh saku nya dan terpampang dengan jelas nama Nadia disana. Desta memilih nembiarkan panggilan itu hingga benar-benar berakhir. Kemudian, dia kembali mengusap tangan dingin gadis itu.

Ponsel kembali bergetar, cowok itu melirik sekilas, masih dengan panggilan yang sama seperti sebelumnya. Desta mendengus, sebelum memilih menonaktifkan benda pipih itu.

Pintu ruangan kembali terbuka, menampilkan sosok wanita paruh baya tadi sedang melangkah kearahnya. "Tante mau pulang sebentar, ada masalah sedikit di rumah. Tolong jaga dia ya," pintanya sambil menatap gadis itu pilu. Desta mengerti perasaan Tante nya itu, untuk itu dia mengangguk.

"Pasti,"

......

Semilir angin sore terasa menyejukkan, di tambah dengan cuaca yang mendung menghiasi langit kota menambah kesan kenyamanan bagi setiap orang yang berada di taman itu.

Begitu pun dengan dua orang gadis berseragam sekolah berbeda yang duduk di salah satu kursi panjang yang ada di taman itu masih diam, tidak ada yang mau memulai percakapan, memilih untuk menikmati udara sore yang sejuk.

"Gimana hari ini di sekolah lo?" Gadis berambut hitam tipis itu memilih memulai percakapan, tubuhnya ia geser mendekat dengan lawan bicaranya.

"Ya gitu. Seperti biasa, gak ada yang istimewa," balas lawan bicaranya. Gadis berambut hitam tipis itu pun terkekeh pelan. "Masa sih, Nad? Lo nya aja kali yang terlalu Introvert."

Gadis yang di panggil 'Nad' itu berdecak malas. Nadia memandang gadis di sampingnya. "Jangan mulai, deh."

"Nadia, ayolah! Gue tau lo lagi berduka atas kematian bokap lo. Lo boleh nangis, boleh sedih, tapi jangan sampai kayak gini lah."

"Lo gampang ngomong kayak gitu, karena lo gak ngerasain gimana ada di posisi gue."

Nadia terdiam. Masih terbayang di benaknya saat untuk terakhir kalinya tangan besar itu menyentuhnya, tangan yang sudah bertahun-tahun mencukupi kebutuhan keluarganya, tangan yang menjadi saksi bagaimana perjuangan sebagai kepala rumah tangga. Sebelum akhirnya tangan itu tak bergerak lagi, tak ada nyawa lagi, meninggalkan duka mendalam bagi dirinya.

"Gak ngerasain? Nadia, gue dari kecil gak pernah dapet perhatian sama kasih sayang dari orangtua gue. Apa itu yang lo maksud? Gue gak ngerasain?" Gadis itu tersenyum miris sebelum akhirnya melanjutkan perkataannya. "Lo masih punya nyokap yang sayang sama lo, Nad. Gak kayak gue, punya orang tua tapi mereka udah gue anggap mati."

Nadia melebarkan matanya mendengar kalimat terakhir yang di lontarkan gadis itu. "Lo gak seharusnya ngomong kayak gitu, mereka orangtua lo!"

Gadis itu tertawa. "Orangtua? Orangtua mana yang tega nitipin anaknya ke pembantunya? Mereka bukan orangtua gue." lirihnya pelan.

Nadia mendengus pelan. Mengerti apa yang sedang di rasakan temannya, dia mengelus pundak gadis itu dan mengulas senyum hangat yang juga di balas tak kalah hangat oleh teman nya itu. Mencoba menyampingkan kesedihannya, karena ia sadar, ada orang yang mempunyai alur hidup yang terbilang sulit darinya.

Nadia tersadar ketika kejadian itu kembali menghampirinya. Tangannya mulai mengeluarkan keringat dan terasa dingin. Di liriknya jam yang menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Sudah beberapa kali dia mencoba menghubungi Desta, dan tidak ada satu pun yang dibalas cowok itu. Nadia curiga, tentu saja. Bagaimana tidak curiga, jika biasanya Desta selalu sempat berkunjung kerumahnya, bertanya kabarnya setiap satu jam sekali, dan sekarang cowok itu bahkan belum melakukan itu semua.

Nadia penasaran dengan kelakuan Desta, apa sebenarnya yang telah terjadi pada cowok itu? Dia akan memastikannya besok. Ya, harus!

Nadia menutup mulutnya, dia menguap dan tak sanggup lagi menahan kantuk nya, untuk itu dia memilih untuk segera menarik selimut tebalnya sebatas dada.

Baru hendak memejamkan mata, suara notifikasi pesan masuk terdengar. Nadia tersenyum. Sudah pasti ia tahu siapa pengirimnya. Cowok yang sedari tadi menguras pikirannya. Membuka ponsel, seketika itu juga senyum Nadia memudar, ia menghela napas kecewa.

Alfy: Nad, besok gue jemput ya! See you, tomorrow😊
.
.
.
.
.
.
.
.
Tbc...

A/n: Jangan jadi Silent readers, ya?😢
Terimakasih untuk 5K readers PS😭😍

Salam literasi,
fitrimayesa

Possessive SeniorTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang