"Aku ingin menjadi orang satu-satunya yang mencintaimu, tanpa ada yang lain."
-Desta Rasin Herdiansyah-
__________
Bel pulang sekolah telah berbunyi lima menit yang lalu, semua siswa sudah meninggalkan kelas. Terkecuali dengan seorang gadis yang masih sibuk mencatat materi yang belum ia selesaikan. Sebenarnya, dia bisa saja meminjam catatan Heny atau Riana, tapi karena mereka tergolong orang-orang yang lebih suka 'menunda' sesuatu, yang membuat mereka kelabakan juga pada akhirnya. Berbeda dengan Nadia, gadis itu lebih memilih untuk 'secepatnya' menyelesaikan sesuatu. Menurutnya, jika sesuatu itu belum di kerjakan, pasti perasaannya menjadi gelisah. Didikan dari kedua orangtua rupanya di praktikan dengan baik oleh Nadia.
Gadis itu masih sibuk berkutat dengan catatan miliknya, sambil sesekali melirik papan tulis yang menampilkan deretan huruf yang tersusun menjadi rangkaian kata dan membentuk sebuah kalimat. Gadis itu juga sempat meletakkan bolpoin nya sebentar, menghentikan kegiatannya mencatat, hanya untuk sekedar meregangkan otot jari tangannya yang terasa kaku.
"Nad, mau pulang bareng?" Suara seorang cowok setengah berteriak terdengar dari luar kelas. Nadia menoleh sekilas mendapati Alfy tengah bersandar pada pintu kelasnya. Cowok itu tersenyum kearah Nadia yang juga dibalas senyumnya oleh Nadia, kemudian dia melangkahkan kakinya masuk ke kelas.
"Lagi apa?" tanyanya sambil meneliti Nadia yang sibuk berkutat dengan pulpen dan buku catatannya.
"Gue ketinggalan materi hari ini, lo kan tau tadi gue abis mendekam di UKS," ujar Nadia tanpa menoleh di sertai kekehan pada akhir kalimatnya.
Alfy tersenyum tipis. Seketika perasaan bersalah kembali menghampiri cowok itu.
"Mau gue bantuin?" tawar cowok itu sambil menaruh ranselnya ke atas meja dan duduk di samping Nadia. "Nggak usah, dikit lagi beres kok," tolaknya sambil terus mencatat materi yang ada di papan tulis.
"Yakin?" tanya Alfy memastikan. Nadia mengangguk. Alfy hanya bisa pasrah dan memilih untuk memperhatikan Nadia. Gadis yang selalu cantik dalam keadaan apapun. Meski ada luka lebam di pipi nya, gadis itu masih bisa tersenyum. Dan Alfy menyukainya, apalagi jika Nadia tersenyum untuknya.
"Nah, beres." ujarnya sambil menutup buku catatan miliknya. Gadis itu merapikan alat tulisnya dan memasukkannya ke dalam tas miliknya. Nadia menoleh ketika tidak ada respon dari cowok di sebelahnya. "Kenapa?" tanyanya sambil memakai tas nya.
"Lo cantik." ujar Alfy spontan. Nadia tertegun.
"Alfy, kebiasaan deh," rengek Nadia sambil mengerucutkan bibirnya. Ia merasakan pipi nya memanas. Ya ampun, cowok ini selalu saja membuatnya malu, jago sekali. Eh, apa Nadia yang mudah baper? Dia kemudian meringis.
"Pulang sekarang?" tawar Alfy yang di angguki Nadia.
Alfy mengambil ranselnya dan ia sampirkan di bahu kirinya dan berjalan berdampingan di sebelah Nadia meninggalkan kelas. Tak ada percakapan lagi diantara keduanya, Nadia yang sibuk menetralkan degup jantungnya dan Alfy yang terlihat tenang.
Setelah kepergian mereka, seorang cowok keluar dari tempat persembunyiannya. Tangannya terkepal melihat kedekatan mereka.
Desta. Cowok itu melihat semuanya, dia sengaja memperhatikan mereka dari jauh agar bisa memantau gadisnya. Dan emosi cowok itu tersulut ketika mendengar cowok brengsek itu memuji gadisnya.
....
"Mau mampir?" tawar Nadia ketika mereka sampai depan gerbang rumah Nadia. "Lain kali aja deh, udah di tunggu sama temen." tolak Alfy halus dan Nadia hanya mengangguk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Possessive Senior
Teen FictionDia Desta. Lelaki keras kepala juga angkuh. Semua yang dia inginkan harus terwujud, tidak peduli apa pun resikonya. Semua perintah darinya bersifat mutlak, tak terbantahkan. "Mine," Satu kata yang menyebabkan seorang gadis lugu terjebak dalam sangka...
