[01] Dia Milikku

20.4K 1.2K 155
                                    

"Salah satu hal paling melelahkan di dunia ini adalah ketika kita ingin melepaskan, namun ia tetap mengejar kita."

_______________

Jakarta, 17 Juli 2017

HARI ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah menghabiskan waktu libur akhir semester selama dua pekan. Seperti biasa, jika hari pertama sekolah otomatis tidak ada kegiatan belajar mengajar, karena biasanya seluruh penghuni kelas sibuk membersihkan kelas mereka yang akhir-akhir ini tidak terawat.

Begitu pula dengan tiga orang gadis yang kini tengah berbincang di kantin. Setelah melakukan kegiatan membersihkan kelas, mereka duduk berkumpul di salah satu meja paling pojok.

"Gak habis pikir gue. Kantin rame banget." celetuk salah satu dari mereka menyebabkan yang lainnya memandang kearahnya dengan tatapan datar.

"Ck. Salah lagi." keluh gadis itu.

"Kalau otak itu di pake, Heny stupid!" balas gadis yang memiliki panjang rambut sebahu. Gadis yang bernama Heny itu memandang cewek itu dengan perasaan tersinggung.

"Riana, language." tegur gadis berambut hitam itu memperingatkan.

"Sorry." Riana, gadis dengan panjang rambut sebahu itu menunduk lesu.

"Betewe, lo tau gak--

"Gak tau." balas Heny cepat, semua kembali memandang dia dengan tatapan jengah. "Heny, diem dulu."

Jika gadis berambut hitam itu telah mengeluarkan suara, Heny langsung mengangguk patuh. Gadis itu langsung mengatupkan kedua bibirnya rapat-rapat.

"Heran gue sama lo, kalau gue yang nyuruh cuek aja lo. Tapi, kalau Nadia yang nyuruh langsung patuh." protes Riana tidak terima. Ia merasa kesal dengan Heny yang selalu patuh pada semua ucapan Nadia tetapi tidak dengan dirinya.

"Lo nya kek mak lampir, gue males jadinya." jawab Heny santai membuat Riana menggeram dan menatap kesal kearahnya. "Tuh 'kan mulai lagi, lo." lanjut Heny, Riana yang mendengarnya hanya bisa menghela napas panjang.

"Tadi mau ngomong apa, Ri?" tanya Nadia, gadis pemilik rambut hitam yang terkenal bijak itu.

"Gak jadi deh." jawab Riana dengan wajah masam sambil melirik Heny dengan sinis.

"Ciih, dasar ngambekan."

"Diem lo, stupid."

"Lo yang diem, cabe."

Akhirnya terjadilah adu mulut antara Riana dan Heny. Nadia yang melihatnya memutar bola mata malas, kadang ia heran kepada kedua temannya, sudah kelas sebelas tapi kelakuan masih sama kayak bocah SD.

"STOP IT!!"

Riana dan Heny kompak menoleh setelah mendengar teriakan itu, jika sudah seperti ini mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain menunduk dan mau tidak mau harus siap mendengarkan ceramah dari Nadia, yang sudah mereka anggap sebagai 'emak' sendiri. Karena memang diantara mereka bertiga, Nadia lah yang mempunyai sifat lebih dewasa dan kalem.

Nadia menatap ke sekeliling kantin, rupanya teriakannya itu mengundang perhatian penghuni kantin, lihat saja semua pasang mata kini mengarah pada dirinya. Nadia hanya tersenyum kikuk sambil mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada. Bibirnya mengucapkan kata 'maaf' tanpa suara. Setelah memastikan situasi sudah kembali tenang, dia memandang kedua sahabatnya yang masih setia menunduk.

"Anjir, gara-gara kalian gue jadi malu." geramnya kesal.

"Sorry," balas Riana dan Heny kompak, lalu mendengus. Nadia hanya menanggapinya dengan decakan.

Possessive SeniorTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang