"Ada tiga hal yang harus kamu miliki dalam hidup. Perubahan, Pilihan, dan Prinsip."
_________________
Dua hari berlalu sejak berakhirnya hubungan Nadia dan Desta. Kabar hubungannya yang berakhir tersebut rupanya sudah di ketahui oleh semua warga sekolahnya. Secepat itu menyebar. Banyak yang menyambut kabar itu dengan desah lega, khususnya bagi para penggemar perempuan Desta yang menanti kabar ini. Ada pula yang menyayangkan kabar itu, karena menganggap Nadia dan Desta merupakan sepasang kekasih yang cocok.
Nadia tak ambil pusing. Meski hatinya masih tidak terima dengan keputusan Desta yang tiba-tiba mengakhiri hubungan mereka, Nadia masih bisa bersikap biasa, tak ada raut murung, sedih atau pun tangisan patah hati. Hal itu menimbulkan keheranan bagi siapa pun yang melihatnya. Bahkan, beberapa berspekulasi jika Nadia memang benar-benar tidak pernah jatuh hati pada Desta.
Dari jauh, ia melihat kedua sahabatnya datang menghampiri. Sebisa mungkin, Nadia mengatur ekspresinya, ia tidak mau jika Riana dan Heny mengasihaninya hanya karena hubungannya yang berakhir.
"Are you okay?"
Mendengus, Nadia melirik Riana yang barusan bertanya. "Gue nggak selemah itu, Ri, cuma gara-gara putus cinta." jawabnya sinis lalu mendengus jengah.
Mendengar jawaban sinis itu, Riana meminta maaf. Riana tahu, Nadia tidak selemah itu. Tapi dia juga tahu jika Nadia tidak pernah bisa menyembunyikan sorot lelah dari matanya.
Kali ini giliran Heny yang mendekat ke arahnya. Memandangi Nadia lekat, dan bertanya lirih. "Lo sama Kak Desta beneran putus?"
Nadia tertegun. Putus? Ya tentu saja, bukan kah semua orang sudah mengetahuinya? Lantas, kenapa gadis di depannya malah kembali bertanya. Nadia balas menatap Heny, mendekatkan wajahnya, meneliti ekspresi gadis itu, dia tersenyum sinis kemudian mundur satu langkah. "Kenapa? Bukannya ini yang lo mau? Gue sama Desta putus?" nada bicaranya memang santai, tapi terkesan menyindir. Semua tersentak.
"Nad, kok lo ngomongnya gitu?" Heny shock, tidak menyangka jika Nadia akan berbicara seperti itu. Dia maju mendekati Nadia dan memegang lengannya. "Gue nggak ngerti,"
Nadia berdecih. Dia menepis kasar tangan Heny yang berada pada lengannya. "Nggak usah pegang-pegang!" sewotnya.
Sikap Nadia barusan rupanya mengundang atensi orang-orang yang ada di sekitar, berusaha mencari tahu apa yang sedang terjadi hingga mengerumuni mereka. Tatapan penasaran tak luput dari mereka, beberapa bahkan bertanya mengenai sikap Nadia barusan. Nadia menyadarinya dan tersenyum puas. Tapi, lagi-lagi dia bersikap tak peduli.
"Nadia, tenangin diri lo!" Riana yang berada diantara keduanya berusaha menengahi. Nadia hanya terkekeh sinis. Entahlah, dia muak sekarang. Benar-benar muak.
Seseorang yang mendengar keributan di dalam kelas Nadia langsung menerobos kerumunan.
"Ada apa?" tanyanya yang memang tidak tahu penyebab keributan yang telah terjadi. Lalu, pandangannya berhenti pada Nadia, wajah gadis itu memerah. Kemudian beralih pada gadis di samping Nadia, dia terlihat gelisah.
"Nad?" Tidak ada yang menjawab. Nadia masih di selimuti emosi dan enggan menjelaskan. Dia hanya menatap cowok yang tadi bertanya dengan datar. Dan Satria memilih tak menanyakan lebih lanjut.
"Minggir!" Sebuah suara tergesa terdengar kemudian, orang-orang yang berkerumun disana memberi jalan untuk pemilik suara tergesa tersebut. Mereka bersorak, suasana kelas semakin tak kondusif sekaligus kian menantang.
"Kak Desta!" kompak semua orang yang ada disana. Yang di panggil namanya mendengus. Selalu seperti ini. Semua orang pasti langsung heboh jika melihat sosoknya, dia merasa sebagai siswa ter-charming di sekolah ini. Haruskah dia mensyukurinya?

KAMU SEDANG MEMBACA
Possessive Senior
Teen FictionDia Desta. Lelaki keras kepala juga angkuh. Semua yang dia inginkan harus terwujud, tidak peduli apa pun resikonya. Semua perintah darinya bersifat mutlak, tak terbantahkan. "Mine," Satu kata yang menyebabkan seorang gadis lugu terjebak dalam sangka...