"Tak perlu ditanya sedang apa saya disini. Nanti kamu juga akan tahu kalau saya sedang menunggu orang yang baru saja bertanya."
________
"Lanjutin, nggak? Lanjutin, nggak? Lanjutin, nggak?" Gadis berambut hitam itu sibuk memikirkan keputusan apa yang hendak ia ambil. Kali ini Nadia berada di depan perpustakaan, yang berarti tinggal beberapa langkah lagi dia akan segera sampai ke taman belakang sekolah. Nadia menggigit kukunya, jika dia melangkah lagi itu artinya jaraknya ke taman belakang sekolah semakin dekat dan pasti akan bertemu Desta disana dengan wajah---mencekamnya. Tapi, jika dirinya diam disini, sudah pasti cowok itu juga tidak tinggal diam, Desta pasti akan semakin mengamuk. Pilihan yang tidak menguntungkan Nadia!
"Mau sampai kapan berdiri di sana?"
Nadia terlonjak mendengar suara khas itu. Matanya menangkap Desta yang berdiri di samping sebuah kursi panjang yang mulai keropos. Sambil bersedekap dada, Desta menatap datar dirinya. Nadia meneguk saliva susah payah. Aduh, ketahuan!
Tersenyum kikuk, dengan langkah gemetar Nadia melanjutkan langkahnya hingga sampai di samping cowok itu. Pandangannya masih tertunduk. Nadia takut, sekali.
"Duduk!" Nadia kembali tersentak mendengar nada bicara dingin cowok itu, yang kini sudah duduk di kursi panjang yang mulai keropos. Ragu, Nadia mengikutinya, dan----
"Aduh!!"
Nadia terjungkal kesamping. Posisi duduknya tadi terlalu minggir, menyebabkan dirinya terjungkal. Nadia meringis.
Desta yang melihat itu menautkan alis sambil mendengus, lalu mengulurkan tangannya ke arah Nadia tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Nadia melihatnya, lagi-lagi dia meringis. Sakitnya memang tidak seberapa, tapi malunya itu yang membuat Nadia ingin sekali mengubur dirinya sendiri.
"Makasih," ucapnya setelah menerima uluran tangan Desta. Nadia kembali duduk, kali ini dengan posisi yang benar, tidak mau mengulangi kesalahan yang sama lagi.
"Sakit?"
Nadia menoleh, Desta menatapnya. Datar. "Nggak," balasnya gugup.
Hening.
Nadia mencuri pandang ke arah Desta yang untungnya sedang fokus menatap ke depan. Dalam hati Nadia mendesis, kesal akan sikap Desta kini. Desta yang Nadia kenal walaupun angkuh dan pemaksa, tapi juga tidak pernah mendiaminya seperti sekarang. Cowok itu bahkan tidak pernah marah selama ini pada dirinya, tidak peduli seberapa banyak Nadia membuat cowok itu kesal. Tapi sekarang?
"Des,"
Nadia merutuki Desta yang tidak menjawab, jangan 'kan menjawab, menoleh padanya juga tidak. Ia tidak tahan jika harus berlama-lama disini.
"Aku bisa jelasin soal aku yang tadi pagi berangkat bareng Al--,"
"Nggak perlu. Lupakan!"
Nadia terdiam mendengar balasan cowok itu. Lupakan? Wow, bukan Desta sekali. Ada yang aneh dari cowok itu selama beberapa hari terakhir ini, Desta tidak pernah marah lagi jika dirinya berurusan dengan Alfy, dan itu suatu kemajuan.
"Maksudnya?"
"Aku yakin kamu cukup pintar, jadi tidak ada kata ulang."
Sialan!!
Sikap angkuh dan menyebalkannya muncul kembali.
"Terserah." balas Nadia sewot. Lama-lama jika menghadapi sikap Desta yang seperti ini membuat dirinya sendiri yang ikut kesal.

KAMU SEDANG MEMBACA
Possessive Senior
Teen FictionDia Desta. Lelaki keras kepala juga angkuh. Semua yang dia inginkan harus terwujud, tidak peduli apa pun resikonya. Semua perintah darinya bersifat mutlak, tak terbantahkan. "Mine," Satu kata yang menyebabkan seorang gadis lugu terjebak dalam sangka...