Kenapa harus berakhir seperti ini?
-Nad-
_______________
Seusai bel istirahat berbunyi, Desta langsung bergegas keluar kelas. Gilang bilang, ada masalah di ekstrakulikuler mereka, futsal. Mundurnya Gerald dari anggota futsal memperumit keadaan. Padahal, turnamen tahunan antar sekolah tinggal menghitung minggu. Sebagai penanggung jawab anggotanya, tentu Desta tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Gerald, pasti ada alasan mengapa Gerald mengundurkan diri.
Yang jadi masalah disini, bagaimana caranya dia mendapatkan pengganti Gerald dalam waktu dekat?
"Satria aja gimana?" usul salah satu dari anggotanya.
"Anak kelas 11 IPS 3 maksud lo?"
"Iya, gimana Des?"
Desta menggeleng tegas. Satria? Maksudnya cowok sableng yang kemarin baku hantam dengannya? Cowok yang menyukai Nadia? Heh, enak saja!
"Gue nggak setuju. Cari yang lain!" dengusnya tak terima.
"Satria skill nya bagus kok, gue sering lihat dia main futsal di lapangan kota setiap sore. Ajak aja kali." tutur yang lainnya. Desta masih tak merespon.
Gilang yang melihat itu menghampiri Desta dan menepuk bahunya pelan. "Profesional dong, bro. Lo nggak bisa seenaknya kayak gini." sahutnya santai.
"Maksud lo apa?" tanya Desta dengan sebelah alis terangkat.
"Pisahin antara urusan pribadi sama urusan bersama. Lo boleh aja nggak suka sama si Satria itu, tapi lo juga nggak bisa seenaknya ngambil keputusan. Masalahnya, anggota futsal sekarang kekurangan personil, karena Gerald out. Turnamen juga makin deket, lo mau kita gagal ikut cuma karena dendam lo sama Satria? Lo mau bikin anggota sama sekolah kita malu? Ayolah! Pikirin lagi." penjelasan Gilang membuat Desta terdiam. Apa yang dikatakan Gilang memang benar, tidak seharusnya dia mengambil keputusan hanya karena urusan pribadinya, bagaimanapun juga mereka sudah berlatih dengan keras, tidak etis jika anggotanya menanggung malu hanya karena ulahnya sebagai ketua yang terkesan egois.
"Yaudah, gue setuju." putus Desta akhirnya, semua anggota yang hadir tersenyum lega mendengarnya. Mau bagaimana lagi? Tidak ada pilihan lain.
......
Heny yang baru saja keluar dari ruangan marching band tersenyum. Dia tidak sabar menanti festival tahunan yang akan di adakan tidak lama lagi. Arahan dari seniornya tadi semakin membuat semangat. Apalagi dengan di tetapkannya dia menjadi ketua marching band untuk periode selanjutnya oleh kak Della. Ini berita bagus, dia harus merayakannya.
"Kak Desta!" panggilnya lantang ketika melihat Desta berjalan di depannya.
"Kak Desta darimana?" Heny berusaha mensejajarkan langkah kaki Desta. Cowok itu pun memperlambat langkahnya.
"Rapat futsal."
Heny mengangguk paham. "Eh, Kak. Gue terpilih jadi ketua ekskul marching band untuk periode selanjutnya lho. Astaga gue seneng bangettt. Gak nyangka." tutur Heny dengan mata yang berbinar. Desta tersenyum geli.
"Selamat kalau begitu." Desta mengulurkan tangannya dan disambut cepat oleh Heny.
"Makasih. Eh iya, kita ke kantin yuk? Gue traktir!" ajaknya masih dengan mata yang berbinar.
"Tumben amat,"
"Yeee, anggap aja sebagai syukuran terpilihnya gue jadi ketua ekskul. Gimana mau nggak?" kerlingnya jahil.
"Ayo!"
Heny tersenyum semringah, mereka akhirnya menuju kantin. Sampai di tujuan, mereka tertegun. Heny merasa terganggu dengan bisik-bisik siswa maupun siswi yang membicarakan dirinya, tadinya dia ingin melawan. Tapi, tidak jadi ketika Desta berbisik,
KAMU SEDANG MEMBACA
Possessive Senior
Teen FictionDia Desta. Lelaki keras kepala juga angkuh. Semua yang dia inginkan harus terwujud, tidak peduli apa pun resikonya. Semua perintah darinya bersifat mutlak, tak terbantahkan. "Mine," Satu kata yang menyebabkan seorang gadis lugu terjebak dalam sangka...
