[24] Comerlo

3.5K 229 54
                                    

"Selama manusia ada, rasa benci juga akan selalu ada."

___________

Tahu bagaimana rasanya mendapat kejutan kecil? Kejutan yang ditunggu-tunggu untuk didapat? Bagaimana rasanya? Senang bukan? Itulah yang Nadia rasakan saat ini. Kejutan yang membuat jantungnya berdebar-debar tidak karuan. Sikap Desta yang semula acuh padanya kini mulai kembali menghangat.

Nadia mengamati jemari dirinya dengan Desta yang masih bertaut, seketika hati juga wajahnya terasa menghangat. Nadia suka Desta yang seperti ini, bersikap sebagai pelindung yang siap maju paling depan jika ada bahaya yang mengancamnya.

Langkahnya kian terasa menyenangkan ketika mendengar bisik-bisik siswa yang dilintasinya, memuji Nadia dan Desta sebagai pasangan muda-mudi yang serasi. Meski juga ada beberapa siswi yang berdecak iri melihat perlakuan Desta pada Nadia yang dirasa terlalu manis.

"Masuk!" perintah Desta.

Nadia tak menghiraukan perintah cowok itu, merasa tak rela kala Desta melepas tautan jemari mereka. Nadia masih setia berdiri di depan kelasnya, menunggu apa yang akan dilakukan Desta setelahnya.

Desta menautkan alis kala melihat Nadia masih berdiri di hadapannya, gadis itu sekarang bahkan berani menatapnya, jauh berbeda dengan Nadia yang dulu selalu menunduk jika berhadapan dengannya.

"Kenapa?" tanya Desta datar.

"Kamu udah nggak marah?" bukannya menjawab, Nadia malah balik bertanya. Matanya masih setia menatap cowok di depannya, menunggu jawaban atas pertanyaan yang baru saja ia lontarkan.

"Pulang sekolah tunggu di parkiran!" itu yang di ucapkan Desta atas pertanyaan Nadia, dia tidak menjawab dan memilih untuk beranjak pergi dari sana.

Nadia menatap sendu kepergian Desta, mungkinkah Desta masih kecewa? Tapi mengingat perkataan terakhir cowok itu, akhirnya Nadia tersenyum juga, Desta mengajaknya kembali pulang bersama. Ah, Nadia tak sabar untuk itu.

Desta yang selalu menaruh tas sekolahnya di depan, sengaja rem mendadak sebagai modus agar Nadia memeluknya, itu manis. Dari awal Nadia memang tak menyukai, tapi kali ini Nadia ingin momen itu kembali terulang.

Suara bel pertanda akan di mulainya pelajaran berbunyi, Nadia segera memasuki kelasnya bersama dengan teman kelasnya yang lain.

......

Bel istirahat telah berbunyi tujuh menit yang lalu, Nadia, Riana juga Heny memutuskan untuk bergegas ke kantin menuntaskan perut mereka yang sedari tadi meminta untuk diisi.

Berbeda dari biasanya, kantin hari ini sangatlah sepi, hanya ada beberapa murid yang mengisi meja kantin karena kebanyakan mereka memilih untuk memesan dan membawanya pergi.

"Yakin mau makan disini?" tanya Riana sambil melirik beberapa murid yang meninggalkan kantin dengan beberapa makanan berat ditangan mereka.

"Kenapa emang?"

"Ya nggak kenapa-napa sih, yaudah lah lupain. Duduk disana yuk!" cetus Riana sambil menunjuk meja yang terletak paling pojok. Heny dan Nadia memilih mengangguk dan berjalan menuju meja tersebut.

"Kalian mau pesan apa? Gue pesanin deh," kata Heny.

"Bayarin?" usul Riana pada Heny yang diangguki Nadia.

"Nggak ada duit," balas Heny cuek.

"Yaelah, kali ini aja dong, Hen. Nadia udah sering lho traktir kita, gue juga. Gini deh, anggap aja sebagai ucapan terima kasih karena lo udah dapet maaf Nadia, gimana?" Riana mencoba membujuk Heny. Nadia yang awalnya tidak setuju, memilih pasrah ketika Riana menatap tajam kearahnya.

Possessive SeniorTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang