"Hargai yang berjuang untukmu, setidaknya dengan cara peduli dan perhatian. Jika tidak begitu, berarti dirimu sangat tega dan tidak punya rasa kasihan."
_________________
Hari senin yang cukup sibuk. Pukul setengah tujuh pagi siswa-siswi berkeliaran untuk bersiap melaksanakan upacara bendera, ritual wajib di hari senin. Riana memakai topi upacaranya, bersiap berdiri dan keluar kelas.
"Ri, tunggu sebentar!" seru Heny.
Riana menoleh sebentar, "ayo cepetan!"
"Bantuin gue cari topi dulu dong, topi gue nggak ada nih," ucap Heny sambil mengacak-acak isi tasnya, mencari topinya.
"Kemarin lo simpan dimana?"
"Gue lupa, Ri. Lo mah banyak nanya. Bantuin dulu dong!" gerutu Heny.
"Ogah ah, lo cari sendiri aja. Upacara udah mau mulai, gue nggak mau kena hukuman lagi. Lagian lo sih, kalau apa-apa harus di cek dulu biar nggak ada yang ketinggalan. Kalau udah kayak gini, siapa yang mau disalahin?"
"Ck. Bawel lo ngalahin emak gue, udah lah sana! Percuma minta bantuan sama lo mah, bukannya ngebantu malah ceramah." ujar Heny menatap tajam Riana.
"Dikasih tahu malah ngeyel." jeda sejenak, "gue mau baris, siap-siap kena hukuman Heny, sayang." ledek Riana seraya mengedipkan sebelah matanya yang langsung di respon dengan tatapan tajam Heny kembali.
Riana melenggang pergi keluar kelas dengan santai, tidak peduli dengan Heny yang masih merasa kesal ditempat. Nyatanya, orang yang kita anggap sebagai sahabat pun belum tentu akan selalu membantu kita.
"Dasar siluman bebek!" teriak Heny kesal.
"Gue masih bisa dengar, Hen!" balas Riana dengan teriakkan juga.
.......
"Guys, kalian tau nggak kalau kambing ternyata bisa di jodohin sama harimau." ujar Gilang serius.
Perkataan Gilang barusan mendapat tatapan jengah setiap siswa yang ada disana. Meski begitu, mereka memakluminya karena mereka tahu jika cowok itu kemungkinan menderita gangguan jiwa.
"Udah lah, candaan lo tuh garing tau nggak. Bikin enek," ucap Rayhan memberitahu yang langsung diangguki semua orang yang ada disana.
"Sewot mulu kalau sama gue. Biarin gue seneng dikit napa, susah amat kayaknya," protes Gilang tidak terima.
"Terserah lo, tapi abis itu jangan gabung lagi sama kita." tambah Hans, membuat Gilang melotot sebelum akhirnya mendengus keras.
"Gini nih nasib jadi orang baik, selalu di Dzholimi," keluhnya mendramatisir.
"Najis!" seru mereka bersamaan.
"KALIAN!! BUKANNYA KE LAPANGAN MALAH MASIH NGUMPUL! AYO, UPACARA AKAN DI MULAI! KE LAPANGAN SEKARANG!!" teriak pak Komar keras sambil mencubit pinggang muridnya dengan kuat, mereka akhirnya mengalah dan bergerak cepat menuju lapangan untuk mengikuti upacara hari senin.
Upacara dimulai, pembina upacara telah berdiri diatas mimbar untuk mengutarakan pesannya tentang kedislipinan dan juga masalah kebersihan yang membuat murid-murid mendesah bosan.
"Bagi siswa-siswi yang tidak memakai topi dan dasi, harap memisahkan diri dari barisan!" seru pembina upacara setelah selesai memberikan amanat, sontak para siswa yang merasa tidak lengkap berjalan gontai untuk memisahkan diri dari barisan disertai mulut yang terus menggerutu.
Heny yang mendengar seruan itu pun langsung menciut, wajahnya berubah pias. "Ayo, Hen. Maju sana!" kata anak-anak kelasnya, namun Heny tak kunjung memisahkan diri dari barisan.

KAMU SEDANG MEMBACA
Possessive Senior
Novela JuvenilDia Desta. Lelaki keras kepala juga angkuh. Semua yang dia inginkan harus terwujud, tidak peduli apa pun resikonya. Semua perintah darinya bersifat mutlak, tak terbantahkan. "Mine," Satu kata yang menyebabkan seorang gadis lugu terjebak dalam sangka...