36. Undangan Pernikahan

14.7K 759 19
                                        

Kabarin kalo ada typo.

Pagi ini Stela sudah di perbolehkan pulang dari Rumah Sakit. Dan sekarang dia dalam perjalanan menuju apartemen Alfa yang akan dia tinggali bersama Alfa beberapa hari kedepan.

"Masih sakit ya?" Tanya Alfa melirik Stela yang sedang melamun menatap keluar kaca mobil.

"Enggak, cuma kangen Mama aja" Alfa menghentikan mobilnya di pinggir jalan sebentar. "Mau kunjungi Mama sebentar?" Tanya Alfa lembut membuat Stela luluh.

"Iya, sekalian sama kak Angkasa" Alfa terdiam beberapa saat kemudian mengangguk. Saat Stela menyebutkan nama Angkasa barusan membuat ingatan kelam Alfa tentang kecelakaan hari itu sontak kembali terulang. Laki laki berjaket hitam yang membuat sahabat karibnya meninggal dengan cara mengenaskan.

"Kak Alfa kenal kak Fajar kan?" Nafas Alfa sontak tercekat saat Stela menanyakan hal itu. Laki laki yang menghilang tepat setelah kejadian kelam itu menimpa Angkasa.

"Iya, kenapa?" Stela tidak menyahuti karena mereka sudah sampai di pemakaman.

Pertama mereka mendatangi makam Ibu Stela, sekedar berdoa lalu pergi ke makam Angkasa. Alfa terdiam melihat Stela yang langsung terduduk dan menangis di samping makam Angkasa. Ternyata opininya selama ini benar, Jika Stela adalah adik dari Angkasa. Sahabat karibnya yang meninggal secara mengenaskan.

"Kak Alfa kenal kan sama Kak Angkasa?" Alfa menatap Stela lalu mengangguk. "iya".

"Kakak tau kan kalo Kak Angkasa itu musuh bebuyutan kak Fajar, kakaknya Jihan?" Lagi lagi Alfa hanya bisa mengangguk.

"Kakak juga tahu kan kejadian itu? Dimana badan kak Angkasa di temuin di pinggir jalan raya sama motornya?. Jujur aja, waktu aku denger kabar kak Angkasa meninggal aku gak percaya, kak Angkasa itu baik, penyayang, sabar, berani, ganteng, pokoknya dia kakak terbaik yang pernah aku punya" Stela menatap Alfa dengan mata yang berkaca kaca.

"Sampai akhirnya dia dipanggil Tuhan buat pulang" Alfa tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat ini. Kehidupan Stela ternyata jauh lebih kacau dari pada yang ada dalam pikirannya.

"Mau bantu aku cari pelakunya kan?" Alfa tersenyum lalu mengangguk. "Iya, kita pulang ya udah mau hujan" Stela mendongak menatap langit yang mulai menggelap lalu berjalan pergi dari area pemakaman.

*****

"Jadi disini kalian bakal berdua doang?" Tanya Laskar pada Alfa dan Stela yang duduk bersampingan.

"Iya, emang mau tambah siapa lagi?".

"Ya kali aja mau nampung si Liam biar gak jadi beban keluarga terus" sindir Laskar membuat sang pemilik nama melempar kacang padanya.

"Mulutnya minta di ratain pake buldoser ya bapak Laskar" geram Liam sambil memasang wajah marah.

"Oh iya, Ini Al, Stel undangan dari Jihan sama Aska, kemarin undangan yang di kasih ke lo belum resmi, ini yang udah resmi" Justin memberikan dua undangan untuk Stela dan Alfa.

"Lusa mereka nikah?" Tanya Alfa laku di angguki mereka. Justin menatap Galaksi yang sedari tadi merokok dan sering melamun.

"Lo kenapa Gal?" Tanya Justin membuat Galaksi menatapnya sejenak.

"Gak apa apa, lo dateng sama siapa lusa?" Tanya Galaksi mengalihkan perhatian.

ALFAREZ [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang