Chapter 10

15.1K 680 25
                                        

Rhea turun dari mobilnya tepat didepan lobi gedung. Hari ini ia berangkat magang diantar oleh Rio, kakak laki-lakinya.

Setelah kejadian semalam ia tidak bisa tidur. Rhea memantapkan hatinya untuk tidak tergoda pada atasannya yang playboy itu.

Ia bergidik ngeri memikirkan hal-hal apa saja yang mereka lakukan jika hanya berdua saja didalam satu ruangan. Apalagi itu malam-malam.

Rhea berjalan cepat menuju ruangannya dilantai 3.
Bruk!

"Oh maaf!" tidak sengaja ia menyenggol seseorang.

"It's okay!" jawab orang itu sambil berlalu.

Rhea tertegun melihatnya.
Apa diluar sedang hujan?
Kok rambut Bu Mita basah? Tanyanya dalam hati.

Ya, yang Rhea senggol barusan adalah Bu Mita. Ia berjalan tergesa-gesa ke ruangannya.

Ketika Rhea sampai diruangan divisi iklan, ternyata sudah banyak karyawan yang datang. Mereka bergerombol disatu tempat. Tepatnya dimeja Allyn.

"Jadi sekarang kalian percaya kan gossip itu?" tanya Allyn.

Teman-temannya mengangguk-anggukkan kepala. Rupanya Allyn sedang menceritakan penemuannya kemarin sore di mall kepada teman-temannya yang lain.
Huh! Pagi-pagi sudah bergossip!

"Aku juga liat tadi rambut Bu Mita basah guys!"

Rhea seketika menoleh ke sumber suara.
"Yang bener, Put?" tanya yang lain tak percaya.

Oh ternyata itu suara Putri, karyawan magang dari divisi desain.
Gila! Gossip tentang kisah cinta atasan dan manager ini sungguh telah menyebar keseluruh karyawan.

"Apa mereka sudah ehem-ehem?" tanya Bella sambil menggerak-gerakkan jari telunjuk kiri dan kanannya.

Mereka melongo mendengar pertanyaan Bella. Pikirannya seketika travelling.

Rhea duduk termenung di kursinya. Kemudian ia menyalakan komputer dan mulai bekerja. Ia tidak peduli dengan gerombolan tukang gossip itu lagi. Ia mengambil earphone kemudian memakainya. Memutar lagu agar ia kembali semangat.

Pukul 11:00 siang Rhea naik ke lantai 4 untuk melihat progres divisi desain mendekor ruang meeting.

"Hari Sabtu bisa kita pakai syuting," kata Gilang, orang yang bertanggung jawab segala tetek bengek dekorasi dan desain. Rhea menganggukkan kepalanya.

"Oke, kalo gitu aku lapor Pak Robert. Makasi Gilang."

Rhea keluar ruangan tersebut dan tiba-tiba tangannya dicengkeram seseorang kemudian menariknya masuk kesebuah ruangan yang tidak asing lagi.

Rhea menghela napas lelah.

"Apa lagi?!" tanyanya malas.

"Kenapa semalem langsung matiin hape?" tanya Alexandre.

Rhea hanya mengedikkan bahu, tak peduli. Alexandre mengeratkan cengkeramannya membuat Rhea meringis.

"Kenapa?" ulangnya.

"Jadi aku harus melihat dan mendengar seorang boss dan manager cantik nan seksi bermesra-mesraan?!" ucap Rhea sinis.

"Apa maksudmu?"

Ck! Rhea menyentakkan tangannya sehingga cengkeraman itu lepas.

Alexandre menatap wajah perempuan didepannya itu. "Rhe... " panggilnya meraih tangan Rhea.
Rhea kembali menyentakkan tangannya.

"Dasar playboy! Maniak! Kamu udah punya calon istri cantik, seksi, pinter tapi masih meluk-meluk aku, pegang-pegang tanganku!" serunya.

Dadanya bergerak naik turun menahan amarah seperti bom yang siap meledak sewaktu-waktu.

Mantan Sang CEO (TERBIT) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang