Rhea berangkat ke kampus diantar Pak Soleh karena ia sedang malas menyetir. Hari Senin adalah hari yang sangat sibuk karena itu jalanan selalu macet.
Rhea membuka ponselnya. Sejak semalam Alexandre belum menghubunginya. Selama lima bulan menjalin hubungan ini, Alexandre menunjukkan keposesifannya. Kemanapun Rhea pergi ia harus tahu. Ia juga sering mengantar dan menjemput Rhea di kampus jika ia tidak sibuk.
Rhea turun dari mobil setelah mengucapkan terima kasih pada Pak Soleh. Hari ini ia akan ke perpustakaan kampus mencari referensi untuk skripsinya.
Ditempat lain tak jauh dari kampus Rhea, Alexandre sedang rapat dengan koleganya. Roby sedang mempresentasikan keunggulan perusahaan agar orang tersebut yakin dengan keputusannya berinvestasi di KL Creative.
Pukul 10 pagi rapat selesai dengan penandatanganan surat perjanjian diatas materai. Itu berarti koleganya tersebut resmi menjadi investor di KL Creative.
Setelah makan siang yang lebih awal, mereka keluar dari restoran Jepang seraya mengobrol ringan. Ekor mata Alexandre sekilas menangkap sesosok yang sangat dikenalnya didepan perpustakaan. Rhea, batinnya.
"Rhe, please! Aku janji akan perbaiki sikapku. Aku mau kamu jadi pacarku lagi." mohon Nathan pada Rhea ketika tak sengaja bertemu.
"Udahlah, Nath. Aku udah punya cowok yang jauh lebih baik dari kamu. Please kamu jangan ganggu aku lagi."
"Bohong! Kamu bohong, Rhe!" teriak Nathan seraya menggenggam tangan Rhea.
Rhea terkejut kemudian menyentakkan tangan Nathan. "Jaga sikapmu ya, Nath."
Tetapi Nathan tidak peduli, ia kembali meraih tangan Rhea dan menggenggamnya erat. "Aku janji, Rhe! Aku janji akan jadi cowok baik-baik." tiba-tiba Nathan memeluknya. Rhea melotot dan berusaha melepaskan pelukan itu.
Diseberang sana, Alexandre menatap kekasihnya dan orang asing itu tajam. Rahangnya menegang, tangannya terkepal. Belum hilang amarahnya semalam sekarang ditambah lagi dengan melihat adegan kekasihnya berpelukan dengan pria lain.
"Balik ke kantor!" perintahnya pada Roby.
Alexandre melemparkan semua barang yang ada diatas meja kerjanya. Kepalanya panas, otaknya seakan mendidih. Tangannya terkepal kemudian meninju kaca diatas meja. Seketika darah segar mengalir dari buku-buku jarinya.
Kemudian ia berteriak frustasi. Roby yang mendengar teriakan Alexandre segera menghubungi nomor ponsel Rhea untuk mengabarkan keadaan Bossnya saat ini.
Dari dalam ruangan wakil CEO itu kembali terdengar suara barang-barang pecah. Roby bergidik ngeri melihat Alexandre yang seperti orang kalap.
Beberapa menit kemudian Rhea sampai kantor dan Roby menyuruhnya masuk. Alexandre mendengar seseorang membuka pintu dan membalikkan badannya. Napasnya ngos-ngosan. Ia berjalan mendekati Rhea yang tampak ketakutan. Rhea menelan ludahnya dengan susah.
Pria didepannya ini bukanlah Alexandre yang ia kenal. Dengan mata merah karena menangis atau amarah yang memuncak. Rhea mundur perlahan tapi sial ia malah menabrak dinding.
Alexandre terus berjalan mendekatinya dengan tatapan elangnya. Tetapi kemudian ia tersenyum.
"Siapa pria itu?" tanyanya dengan rahang mengatup.
"A-apa?" tanya Rhea gugup.
"Siapa dia!! Jawab!!" Alexandre berteriak didepannya.
"Di-dia Nathan."
"Aku ga peduli siapa namanya!! Siapa dia?!!"
"Ma--man-mantan aku, Mas." Rhea menjawab pelan.
Alexandre mengusap kasar wajahnya kemudian ia menjambak rambutnya frustasi. Rhea melihat luka berdarah ditangan kekasihnya itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mantan Sang CEO (TERBIT)
RomanceCinta pertama itu sulit dilupakan. Betul? Apalagi kalau banyak sekali kenangan yang telah kita lalui bersama. Cinta pertama bisa menjadi cinta sejati. Betul? Tidak akan pernah ada yang menggantikan karena selalu terbayang-bayang wajahnya. Alexandre...
