Hari telah memasuki sore namun Leya masih ada di rumah Suhaa sambil bermain game bersama lelaki pujaannya.
Amara sebelumnya telah berpamitan ingin ke kamar karena pekerjaan rumah yang harus ia kerjakan. Maka dari itu, Suhaa dan Leya hanya berdua di ruang tamu sambil memainkan game PS di televisi.
Skor mereka berdua sangat berbeda. Suhaa tentu lebih ahli dalam bermain game daripada Leya, beberapa kali Leya merasa kesal karena kalah telak dari Suhaa.
Leya baru menang 2 kali sementara Suhaa telah menang sebanyak 13 kali dalam 15 ronde permainan. Beberapa kali Leya hampir menang dan kalah telak sebanyak 8 kali.
"Udahlah, Leya capek... Suhaa mainnya curang." Leya meletakkan stick game yang ada di tangannya ke atas meja dengan kesal.
Pipinya mengembang sambil menatap Suhaa jengkel yang masih serius dengan permainannya.
"Loh, gue curangnya dimana? Perasaan tadi lu bangga banget pas ngalahin gue, giliran kalah langsung nyalahin gue," ucap Suhaa datar tanpa memalingkan wajah dari layar.
"Tapi 'kan Suhaa nggak ngasih tau cara mainnya gimana, Leya baru tau pas Leya udah kalah 9 kali," ujarnya jengkel sambil memukul pelan bahu Suhaa.
"Lah, kok jadi salah gue," balas Suhaa dengan ekspresi yang lebih ceria, tawa kecil keluar dari mulut Suhaa begitu saja tanpa sengaja.
Leya terdiam di tempat, baru kali ini ia bisa membuat Suhaa tertawa karena perlakuannya. Baru kali ini ia melihat Suhaa tertawa karenanya, tawanya juga terdengar lucu sampai-sampai membuat Leya terpesona.
Keheningan membentang, Suhaa tidak mengerti apa yang terjadi pada gadis itu sehingga mulutnya yang tadinya tidak bisa berhenti sekarang telah tertutup rapat tanpa alasan.
Suhaa hanya membiarkannya karena berpikir Leya lelah berdebat dengan Suhaa yang tentu saja tetap akan menang melawannya.
Ia hanya terus fokus kepada layar sambil menekan tombol stick game dengan lincah. Ia tidak menghiraukan Leya yang masih menatapnya dengan ekspresi membingungkan.
"Suhaa sayang nggak sama Leya?" Leya bertanya tiba-tiba. Meskipun begitu, kesadarannya masih terjaga, ia mengatakan hal itu dalam kondisi seratus persen tengah sadar.
Suhaa hanya spontan mengangguk tanpa memalingkan wajah, "hm.." ucapnya sambil mengangguk.
Sepertinya Suhaa mengatakan hal itu tanpa berpikir dan mendengarkan perkataan Leya dengan jelas karena terlalu fokus kepada layar televisi.
Meskipun begitu, Leya tetap merasa senang, ia masih bisa melihat wajah Suhaa yang terkejut malu ketika Suhaa sadar dengan perkataannya.
"Beneran, Suhaa sayang sama Leya?" kembali Leya bertanya, kali ini ia menyandarkan kepalanya di bahu Suhaa yang tegap.
Mendengar hal itu, Suhaa spontan menjatuhkan stick game nya sambil menatap Leya karena sadar dengan pertanyaan yang di lontarkan gadis manis di sampingnya.
"E-enggak... itu, maksud gue nggak gitu... anu..." tiba-tiba saja Suhaa gagap saat berusaha menjelaskan maksud dari balasannya barusan.
Leya hanya tertawa kecil menanggapi sikap lucu Suhaa yang tiba-tiba. Lagi-lagi Leya melihat sikap itu, sikap yang sangat menggemaskan jika di lihat oleh mata Leya.
"Nggak apa-apa. Leya ngerti kok." Leya kembali menegakkan tubuhnya dan meraih tas ransel miliknya, "Leya pulang dulu ya, mama pasti khawatir."
"G-gue antar aja kalau gitu-" Suhaa yang tadinya hendak berdiri dari posisi duduknya, berhenti seketika saat tangan mungil Leya menyentuh bahunya.
"Nggak, Leya bisa pulang sendiri. Lagian dekat kok, Suhaa temenin Ara aja di sini." Leya melangkah ke arah pintu pelan lalu kembali menatap Suhaa, "Leya pulang ya, dah Suhaa."
"I-iya... dah."
***
***
"Kamu dari mana?"
Ketika sampai di rumah, Leya yang tadinya ingin langsung istirahat di cegah oleh ayahnya yang saat ini tengah duduk di teras sambil menikmati teh di sore hari.
Leya benar-benar lupa jika ayahnya masih ada di rumah, ia akan mendapat hukuman lagi karena pulang terlambat.
"Biasanya kamu pulang jam 2 siang, kenapa hari ini kamu pulang jam 5 sore?" kembali Agraham bertanya kepada putrinya yang masih berdiri menunduk di hadapannya.
"Itu yah.. Leya habis jenguk temen." Wajah Leya masih tertunduk dengan tangan yang menyatu di depan perutnya saat menjawab pertanyaan ayahnya.
Agraham meneguk tehnya dengan anggun lalu kembali meletakkannya ke meja bundar di depannya, "Masuk, Satria nungguin kamu dari tadi."
Mendengar nama adiknya di sebut membuat Leya terkejut, Satria sudah pulang? Tapi bukankah Satria bilang jika ia akan pulang minggu depan? Lalu kenapa Satria sudah ada di rumah sekarang?
Dengan cepat Leya melangkah masuk ke dalam rumah dan masuk ke dalam kamar adiknya. Ketika ia telah berada di dalam kamar, Leya melihat sang adik tengah duduk di pinggir ranjang sambil menatap ponselnya.
Leya segera menuju Satria yang tampak tenang, "Satria, kapan kamu pulang? Kenapa nggak ngabarin kakak? Mama udah tau?"
Satria meletakkan ponselnya ke atas nakas samping ranjang lalu kemudian menegakkan tubuhnya, "Raka di jemput sama papa.. eh, sama ayah maksudnya. Lagian Raka lagi libur, jadi ayah jemput Raka."
"L-libur, bukannya kamu bakal ulangan akhir semester minggu depan?" kembali Leya bertanya karena merasa tak yakin dengan apa yang di katakan oleh adiknya.
"Raka udah selesai ulangan. Nggak mungkin ayah jemput Raka kalau Raka masih ulangan. Ayah malah nggak bakalan izinin Raka pulang kalau ayah tau Raka ulangan," jawabnya dengan santai.
"Mama juga udah tau kok, kakak tenang aja. Kakak mau masakin Raka nggak? Raka laper," lanjut Satria sambil tersenyum saat menyentuh lengan kakaknya.
"E-em... tunggu bentar, kakak ganti baju dulu ya..," dengan tubuh yang kaku, Leya pergi meninggalkan kamar dan naik ke kamarnya sendiri untuk mengganti seragamnya.
***
***
Setelah semua makan malam telah selesai di masak, Leya segera meletakkan masakannya di meja makan agar mereka semua bisa menyantapnya bersama.
Satria dan Darna juga telah menunggu di meja makan sedari tadi. Sebenarnya Darna ingin membantu Leya tadi, tetapi Leya menolak dengan tegas dan mengatakan jika ia bisa melakukannya seorang diri.
"Loh, ayah mana?" Satria bertanya karena ia tak melihat sang ayah dari tadi. Tadinya ia berpikir mungkin saja sang ayah sedang berada di kamar dan akan keluar begitu makanannya telah siap.
Tetapi sudah beberapa menit berlalu sang ayah sama sekali tidak kelihatan seolah-olah di telan oleh bumi dalam sekejap.
"Ayah lagi keluar, katanya ada urusan sama klien," jawab Darna sambil tersenyum ke arah putra kesayangannya.
Agraham bekerja di sebuah perusahaan ternama di Jakarta, ia menjadi wakil Direktur yang kompeten dan tak pernah membuat atasannya mengeluh dengan pekerjaannya.
Untuk itulah Agraham sangat jarang ada di rumah, ia selalu mendampingi atasannya setiap mengadakan rapat atau bertemu dengan klien di kota lain.
Setelah semua makanan telah ada di atas meja, Leya ikut duduk di samping adiknya dan memberikan satu piring berisi nasi ke ibu dan adiknya.
Mereka semua akhirnya menyantap makan malam nikmat itu dengan raut wajah yang lebih cerah dari biasanya. Sudah lama mereka tidak berkumpul seperti ini, untuk itulah mereka terlihat seperti orang yang baru saja bebas dari penjara jika Agraham tidak ikut bergabung di antar mereka.
***
***
Gak tau:>
KAMU SEDANG MEMBACA
Menggapai Suhaa (END)
RomanceWARNING! (Peringatan!) Please everyone who sees this, please stop and never plagiarize/copy other people's work!!! I beg you so much! whoever it is! (Siapapun yang melihat ini, tolong berhenti dan jangan pernah menjiplak/menyalin karya orang lain...
