Aku masih singgah di depan warteg Ibu Emah. Terik matahari masih setia menyinari. Seplastik es teh udah tandas, tinggal sisa es batu yang sekarang lagi di gerogoti sama Randa. Aku nggak tau apa enaknya es batu, tapi si Randa suka banget kayaknya. Apa nggak ngilu gigimu, Ran?
Malas melihat muka Randa, aku berdiri menghampiri motor. Memperhatikan ban bagian belakang sambil mikir, kenapa bisa motorku kempes. Padahal baru bulan lalu aku menyuruh Bapak untuk ganti ban dalam.
"Motornya kenapa Mbak?"
Kepalaku menoleh ke sumber suara. Ternyata si pemilik warteg yang bertanya.
"Bannya kempes, Bu." jawabku lesu.
"Kempes? Kalo kempes, Ibu ada kompa motor. Tapi nggak tau masih fungsi apa nggak, soalnya jarang dipake. Mau coba?" tawarnya.
Aku mengangguk antusias. "Boleh saya pinjam, Bu?"
"Sebentar ya." Ibu-ibu yang kuyakini bernama Ibu Emah itu masuk ke dalam warungnya dan kembali lagi sambil bawa kompa motor.
"Monggo dicoba. Nanti kalo sudah selesai jangan dibawa pulang ya kompanya." ujar Bu Emah. Aku ngangguk aja biar cepet. Setelah Bu Emah masuk ke warung, barulah aku mulai beraksi.
Bismillah semoga bisa.
Beberapa kali aku memompa, tapi ban motorku sama sekali nggak bergerak menunjukkan kalo anginnya masuk. Aku menghembuskan napas. Kayaknya kompanya Bu Emah rusak.
Sambil menyeka keringat di dahi, kepalaku menoleh ke samping. Memperhatikan sejenak posisi Randa yang lagi asik ongkang-ongkang di kursi panjang depan warteg sambil mulutnya sibuk mengunyah es batu.
"Heh, semprul! Bantuin aku ngompa, malah enak-enakan makan es batu! Cepet!"
"Iya, iya." Wajahnya yang sudah semerah tomat akibat terik matahari itu bersungut. Tapi Randa tetep berdiri, membuang plastik es ke sembarang tempat kemudian menghampiriku. Tolong jangan ditiru, ya.
"Yang kenceng peganginnya, biar anginnya masuk," komentarku pada Randa yang sudah berjongkok di depanku memegangi tempat masuknya angin di ban motor.
Giliran aku kembali memompa dengan kekuatan super. Nggak masalah napasku yang terdengar keras, yang penting motor bapakku bannya kembali semula. Setidaknya bisa digunakan untuk pulang.
"Gimana Ran, anginnya masuk nggak?" tanyaku disela-sela kesibukan memompa.
Randa mencebik melepas tangannya dari ban dan menatapku sangsi. "Ngompanya yang bener, Ning. Yang cepat, jangan sebentar-sebentar berhenti. Nanti anginnya keluar lagi," cerocosnya.
Kok dia salahin aku? Dengan wajah kesal aku balas ucapannya. "Nih, coba kamu yang ngompa."
"Nggak ah, napasku sesek. Kamu mau tanggung jawab kalo asmaku kumat tiba-tiba? Bahaya lho."
Demi Tuhan aku menyesal jalan bareng Randa! Dia sama sekali nggak mau repot. Padahal sama-sama butuh. Pantas Ambar selalu menolak ajakan jalan-jalan dari si Randa. Ternyata Randa sejenis manusia yang kemayu.
Emosi yang sedari tadi aku berusaha padamkan sekarang jadi semakin membara. "Kalo nggak mau ya nggak usah—"
Bibirku berhenti ngomong kala mataku melihat dua orang berseragam khas guru berjalan di sisiku. Mas Dhanu dan seorang guru wanita berjalan menuju motor yang mereka parkirkan. Dia sama sekali nggak melirikku. Oh ya, aku juga nggak berharap diliriknya! Oke, fine.
"Ning, minta tolong ke guru yang cowok itu aja. Dia kan cowok, pasti tenaganya kuat nggak kayak kamu. Sana cepat minta bantuan."
Rasanya aku ingin mencomot bibir Randa yang suka asal nyuruh. Dia sebelas duabelas seperti Ibuku. Sama-sama suka nyuruh. Padahal dirinya sendiri nggak mau kalo disuruh-suruh.
KAMU SEDANG MEMBACA
All About Me and Him!
Fiksi UmumAku malas dengan pelajaran Matematika sejak SD sampai lulus SMK, aku tidak suka Guru Matematika dan aku benci Mas Dhanu! Mas Dhanu, pria sok cool yang kebetulan di utus Tuhan untuk melihat rambut kepalaku disaat aku sudah ber-nadzar di hadapan yang...
