dua puluh tujuh

415 66 31
                                        

Lama-lama aku bisa gila mendadak kalo otak kecilku terus-terusan membayangkan kejadian semalam. Iya, semalam. Malam dimana dia tiba-tiba meminta hal di luar nalar. Yah, menurutku itu di luar nalar.

Bukan rasanya yang terngiang-ngiang, ini lebih ke malunya. Dan, sedikit nggak percaya pada kenyataan kalau aku sudah tidak perawan lagi. Si songong Dhanu Mahesa benar-benar sudah merenggut keperawananku.

Nggak tau kenapa, setelah kejadian itu aku jadi malu sendiri kalo lihat atau ketemu Mas Dhanu. Alhasil, setelah mengerjakan pekerjaan rumah aku langsung pergi ke rumah Ibu. Dan disinilah aku berada. Duduk di kursi yang ada di dapur sambil bengong. Aku sudah memutuskan untuk nginep disini nanti malam. Aku juga sudah bilang ke Ninid kalo pulang sekolah langsung pulang ke rumah saja, bukan ke rumah Mas Dhanu.

Kayaknya aku harus ngomong masalah ini ke Ambar, karena aku nggak mau kalo harus menanggung rasa pusing ini sendirian.

Jadi, di pagi menjelang siang ini aku memutuskan untuk ke rumah Ambar. Biasanya jam-jam segini calon mahmud lagi duduk santai di ruang tengah. Dan yah, benar dugaanku. Begitu sampai di rumah Ambar dan langsung masuk, aku menemukan sosoknya lagi duduk sambil nonton tivi.

"Ehmm!" Sengaja aku berdehem keras sambil berjalan mendekat ke sofa.

Ambar noleh dengan mata melotot. "Lhoh, Ning? Kamu kesini? Iiihh.. tumben!" Dia langsung berdiri tapi aku segera menahannya agar tetap duduk di tempat diikuti olehku.

Aku memasang wajah murung di depan Ambar dan sahabat karibku yang satu ini langsung konek. "Kamu kenapa? Mau curhat, nggak?"

Aku mengangguk.

"Aku tebak, pasti masalah Mas Dhanu!" Aku kembali mengangguk membenarkan tebakannya.

"Jadi?"

"Tapi—kamu jangan kaget ya, Mbar?"

Ambar justru mencebik mengabaikan peringatanku. "Apasih?"

"Eumm... aku... aku dan Mas Dhanu sudah—aku dan Mas Dhanu sudah melakukan hubungan suami istri—"

"Affah?!"

Nah, kan. Aku bilang juga apa. Dia pasti kaget.

"Gi—gimana bisa? Maksudku, kok kamu mau sih, Ning? Eh, kamu di perkosa sama dia ya? Iya, Ning? Kalo dia mintanya maksa dan tanpa persetujuan kamu, itu namanya pemerkosaan, Ning!" Cerocosnya.

Aku cuma bisa menghembuskan napas panjang. Semenjak menjadi ibu hamil, sikap dan pola pikir sahabatku ini jadi semakin sempit. Seperti sekarang ini contohnya. Tapi ya, aku maklumi.

"Gimana kalo aku ceritakan dari awal mulanya saja, Mbar? Terus, kamu nyimak dan jangan motong ucapanku." Saranku.

Wajah Ambar yang masih dipenuhi sama ekspresi terkejut itu akhirnya mengiyakan saranku.

Ceritaku pun mulai mengalir. Dari awal mula Mas Dhanu yang tiba-tiba meminta haknya sebagai suami, sampai alasan kenapa dia meminta hal itu.

"Ya ampun Ning, Ning! Jangankan punya anak, hubungan kalian saja masih semrawud! Masa ada suami istri tinggal serumah tapi tidurnya pisah kamar. Terus, memangnya ada gitu istri yang mengklaim suaminya sendiri sebagai musuh? Cuma kamu dan Mas Dhanu, Ning. Kalian tuh aneh, tapi nyata." Komentar Ambar yang kali ini cukup masuk akal.

Ambar tiba-tiba menarik tanganku dan menggenggamnya. "Sebagai sahabat, aku saranin kamu mending jangan hamil dulu, Ning. Walaupun orangtuamu atau mertua kamu menginginkan itu, mending tunda dulu untuk masalah anak."

Kayaknya, apa yang Ambar khawatirkan itu sama seperti yang aku pikirkan. Mungkin maksud Ambar memintaku untuk menunda kehamilan, karena Mas Dhanu bisa kapan saja menceraikan aku. Iya, aku juga sempat mikir begitu.

All About Me and Him!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang