Di pingit = di kurung. Itu menurutku. Seminggu sebelum hari H, aku di larang kemana-mana. Ibu senantiasa mengawasiku sembari sibuk bersama keperluan hajatan. Aku benar-benar seperti di penjara dalam rumah sendiri. Jangankan untuk keluar cari angin, langkah kaki keluar satu jengkal saja dari pintu utama—Ibu sudah langsung memberiku ceramah.
Berlebihan memang. Tapi begitulah Ibuku. Padahal aku cuma pengin duduk di teras rumah.
Ini hari kelima aku di pingit. Rasanya semakin membosankan 24 jam ubek-ubek hanya di rumah. Ketemu kasur lagi, ketemu tivi lagi dan ketemu hape.
Tapi untuk sekarang, aku nggak terlalu bosan karena di samping kiri dan kananku ada Ninid serta Mbak Ipar—Mbak Gendis. Mereka lagi sibuk memberi kulitku luluran. Ini sebenarnya ide dari Mbak Gendis. Katanya, dulu semasa menikah dengan Mas Nando—Mbak Gendis melakukan luluran disela-sela kebosanan melanda selama masa pingit.
"Aku masih nggak menyangka Mbak Ning bakal nikah sama Pak Dhanu, Guruku sendiri." Ujar Ninid.
Aku meliriknya sekilas kemudian menggerutu dalam hati. Andai kamu tau, Nid. Kalo pernikahan ini sebenarnya bukan pernikahan yang aku inginkan.
"Jodoh itu misteri, Nid. Kita nggak tau akan bersama siapa kita bersanding." Itu sahutan dari Mbak Gendis.
Iya, sangkin misterinya, aku sampai nggak habis pikir akan menikah dan bersanding dengannya. Dhanu. Dhanu Mahesa.
"Iya, Mbak Gendis. Padahal nih ya, yang aku lihat di sekolahan, Pak Dhanu selalu dekat sama Bu Katrin. Murid lain sampai mengira mereka pacaran. Ehh.. ternyata jodoh Guru Matematika-ku, Mbak aku sendiri."
Seharusnya aku cukup bangga ketika Mas Dhanu dekat dengan Bu Katrin tapi malah nikahnya sama aku. Secara nggak langsung, itu artinya pesonaku lebih unggul dari Bu Katrin yang cantiknya bak Titi Kamal.
Tapi ternyata hal itu nggak lantas membuatku bangga karena yang memilih dan menikahiku adalah musuhku sendiri.
Lagi asyik mengobrol, pintu kamarku di ketuk dari luar kemudian terbuka. Kami serempak menoleh dan mendapati Ibu berdiri di sana dengan senyum sumringah mengarah padaku.
"Ehh, calon bojonya Kakanda Dhanu lagi luluran, ya? Baguslah. Biar proses bikin anaknya nanti bisa lancar jaya."
Kurang asem!
Anakonda mungkin maksud Ibu.
Secepatnya aku membuang muka. Proses bikin anak? Aku bahkan nggak pernah berpikir sampai sana. Yang aku pikirkan adalah bagaimana caranya agar aku bisa membuatnya terpuruk dan bertekuk lutut padaku.
"Oh iya, Nid. Tolong belikan gula merah satu kilo, ya. Ibu masih ada perlu di dapur soalnya."
Selain protektif padaku selama beberapa hari belakangan, Ibu juga sekarang sudah jarang menyuruhku lagi. Bukan jarang sih, lebih tepatnya sudah sama sekali nggak menyuruhku. Dari perintah kecil sampai yang berat, sekarang Ibu membebankan itu ke Ninid.
Dan satu lagi perubahan sikap Ibu padaku. Soal makanan. Kalo biasanya Ibu akan menyisakan lauk spesial cuma untuk Ninid, maka sekarang aku juga mendapat lauk spesial. Intinya, Ninid sekarang menjadi nomor dua sedangkan aku yang utama.
Seneng sih, Ibu jadi lebih mulai menyayangiku layaknya anak sendiri. Tapi, masa untuk dapat kasih sayangnya aku harus menikah dulu sih? Andai aku nggak nikah, mana mungkin Ibu mau mengelu-elukan aku.
Kulihat Ninid langsung beranjak dari duduknya menyusul Ibu.
Nggak lama Mbak Gendis juga ikutan keluar dari kamarku karena mendengar suara tangisan anaknya. Aku sendiri termenung duduk di sisi ranjang dengan balutan kemben dan badan penuh luluran.
KAMU SEDANG MEMBACA
All About Me and Him!
General FictionAku malas dengan pelajaran Matematika sejak SD sampai lulus SMK, aku tidak suka Guru Matematika dan aku benci Mas Dhanu! Mas Dhanu, pria sok cool yang kebetulan di utus Tuhan untuk melihat rambut kepalaku disaat aku sudah ber-nadzar di hadapan yang...
