dua puluh enam

415 71 17
                                        

Part baru nih!
Happy reading~

.
.

Aku mengambil beberapa potong bolu yang baru jadi kemudian membawanya ke ruang tengah. Ini kali pertama aku bikin bolu pake oven mahal milik Mas Dhanu. Kira-kira rasanya ikutan mahal nggak ya?

Malam-malam begini nonton tivi sambil ditemani secangkir kopi sama bolu buatan sendiri rasanya syahdu sekali. Apalagi tanpa gangguan si Dhanu. Ah ya, ngomong-ngomong dia tadi pergi buru-buru. Selesai solat isya di mesjid, dia langsung masuk kamar terus pergi lagi. Nggak tau kemana, karena nggak pamit. Dan aku pun tak ingin tau menahu soal dia.

Baru mau bersandar di sofa sambil makan bolu, tiba-tiba bel rumah bunyi nyaring.

"Issh! Siapa sih yang malem-malem bertamu!" Rutukku tapi tetep bangkit buat bukain pintu. Kepo juga sih sebenarnya.

"Iyaa, sebentar!" Seruku karena si tamu yang di luar nggak sabaran dan terus menekan bel berulang kali.

Saat pintu kubuka, tubuhku langsung di tubruk oleh pelukan dari si tamu nggak sabaran yang ternyata adikku sendiri. Iya, si Ninid.

"Ngapain kamu kesini, Nid?" Tanyaku agak heran karena dia kesini sambil bawa ransel yang kayaknya isinya penuh. Mana pake peluk-peluk segala. Eh, sekarang dia malah nangis!

"Kenapa sih?" Tanyaku lagi makin penasaran.

"Ak—aku takut Mbak, di rumah sendirian." Katanya masih sambil nangis dan meluk aku. Sebenarnya agak aneh sih di peluk begini sama Ninid. Tumben banget dia manja ke aku. Biasanya kan ngajak ribut.

Aku mengernyit mendengar jawabannya. Sendiri?

"Memangnya Bapak sama Ibu kemana?"

"Ikut tour ziarah Walisongo."

"Kok Ibu nggak bilang apa-apa sama aku?"

"Waktu itu aku di suruh WhatsApp ke Mbak, tapi aku lupa. Mbak, aku nginep disini, ya? Aku nggak berani tidur sendirian."

Aku melirik Ninid judes dan setengah kesal. Bisa-bisanya dia lupa memberiku kabar penting seperti ini.

"Kenapa nggak ke rumah Mas Nando saja sih? Ngerepotin!" Aku menggeser tubuh ke samping memberinya jalan untuk masuk.

"Mas Nando sekeluarga lagi nginep di rumah mertuanya."

Mengabaikan jawaban Ninid, aku berjalan mendahuluinya. "Tasnya taro disini dulu." Kataku melirik sofa di ruang tengah kemudian menyuruhnya untuk duduk.

"Mbak, haus..."

"Tsk! Ambil sendiri lah!"

"Nggak mau ah. Mbak aja."

"Dih, manja. Biasa juga seenaknya."

"Ini kan di rumah guruku." Aku memutar bola mata kemudian bangkit untuk mengambilkan minuman kemasan di lemari pendingin. Tapi ternyata Ninid mengikutiku dari belakang.

"Oh iya, tadi Mas Dhanu yang ngantar Bapak sama Ibu ke tempat titik kumpul Ziarah. Aku lihat di mobil juga ada Orangtuanya."

Aku mematung di depan kulkas mendengar info Ninid. Jadi Mas Dhanu tau soal itu? Dan, mungkin tadi dia buru-buru karena mau nganterin mereka? Ya ampun, begitu buruk komunikasi di kehidupan pernikahanku ini.

"Dia bilang sesuatu nggak?" Tanyaku sambil menyerahkan botol Teh Cucuk ke Ninid.

Dia mengangguk. "Katanya, kalo aku nggak berani tidur sendiri di rumah, bisa ke rumah Mas Nando atau kesini. Terus, aku dikasih uang jajan."

Oh, jadi Ninid kesini gara-gara usulannya? Sok baik sekali dia.

"Kamu terima?"

"Iya. Kata Ibu jangan malu-malu sama kakak ipar sendiri. Karena mereka juga keluarga kita."

All About Me and Him!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang