Lembur adalah alasanku selalu pulang malam. Sudah sebulan full pabrik memberikan lembur overtime kepada seluruh karyawannya. Bahkan hari minggu pun karyawan diharuskan berangkat. Aku sih oke-oke saja lembur setiap hari. Tapi yang jadi masalah itu ketika pulang lewat jam tujuh malam, maka Mas Dhanu akan mencibirku habis-habiskan. Dia bahkan seringkali menuduhku yang tidak-tidak. Seperti, main dengan teman. Atau, aku punya kerjaan sampingan yang terbilang haram. Jahat, ya? Memang.
Tapi aku nggak terlalu mempedulikan tuduhannya. Anggap saja suaranya itu sebuah suara peluit yang lebih baik aku abaikan.
Hari ini aku berangkat ke pabrik menggunakan motor Mas Dhanu. Bukan karena sudah bosan pakai angkot, tapi karena setelah pulang kerja aku harus ke rumah Ambar. Iya, Ambar. Sahabatku satu-satunya yang saat ini sedang mengandung anak pertamanya.
Semalam ambar menghubungiku, dia bilang lagi ngidam tahu gejrot seberang pabrik. Dan harus aku yang membelikan tahu gejrot itu, dia tidak mau orang lain. Yah, daripada anak sahabatku nanti suka ileran, jadi aku iyakan saja kemauannya yang aneh itu.
Tapi menurutku sih, ini hanya akal-akalan Ambar saja biar aku bisa main ke rumahnya. Tapi karena Ambar gengsi, jadi dia gunakan momen ngidamnya sebagai alasan.
Setelah membeli tahu gejrot tiga porsi, aku langsung melajukan motor menuju rumah Ibu Ambar. Jam sudah memasuki pukul tujuh malam dan aku sama sekali nggak mengabari Mas Dhanu soal kepulanganku yang pastinya akan sedikit lebih malam.
Peduli setan! Aku benar-benar sedang marah padanya.
Sebagai informasi saja, Mas Dhanu memiliki kekasih. Dan aku pernah memergokinya dia teleponan dengan kekasihnya. Tapi semakin kesini, dia semakin terang-terangan saja saat teleponan dengan kekasihnya itu. Nggak peduli pada keberadaanku meskipun aku ada di sebelahnya.
Ini bukan soal cemburu. Tentu saja aku nggak cemburu. Tapi, apa nggak sebaiknya dia menutupi sedikit saja kebejadannya di depanku? Dia suamiku, kami suami-istri dan dia memiliki kekasih. Ini rumit. Mana ada pria yang sudah menikah tapi masih main wanita di belakang? Bahkan dengan sebuah hubungan yang disebut pacaran.
Meski pernikahan kami tanpa landasan cinta, meski pernikahan kami terjadi dengan rasa terpaksa, setidaknya dia menyembunyikan kebusukannya. Dia selingkuh.
Aku semakin melajukan motor dengan kecepatan tinggi. Semakin memikirkan hal itu membuat emosiku naik dan melampiaskannya pada kendaraan yang sedang aku kendarai.
Setibanya di rumah Ambar, dia sudah menantiku di ruang tamu. Sejenak aku melupakan emosiku yang tadi sempat tersulut. Melihat Ambar tersenyum bahagia menyambut kedatanganku, itu sudah sangat cukup membuat bebanku menghilang.
"Lama banget sih, Ning!" Protesnya sambil menggeplak lenganku kemudian langsung merampas plastik di tanganku.
"Heh! Tahu gejrot pesananmu yang bikin lama! Ngantri, cok!"
"Ya harusnya kamu bilang ke penjualnya. Ini buat orang ngidam, gitu! Pasti dibuatkan tanpa ngantri."
Aku memajukan bibir bawah. Andai sedang tidak hamil sudah pasti saat ini juga aku akan menendang kakinya yang sedang dia gunakan untuk berjalan ke dapur. Aku mengikutinya dari belakang. "Itu punyaku satu. Kamu dua, Mbar."
"Iya. Mau makan dimana?" Aku mengarahkan dagu ke meja makan sederhana.
Kami menyantap tahu gejrot bersama. Aku bergidik ngeri melihat Ambar makan dengan lahap.
"Rumahmu sepi. Pada kemana?"
Ambar mengangguk. "Mas Agus ke Masjid, Ibu sama Bapak lagi keluar ngurus buat syukuran empat bulananku. Eh, nanti kamu datang ya. Pas hari minggunya kok. Awas kalo nggak!"
KAMU SEDANG MEMBACA
All About Me and Him!
Fiksi UmumAku malas dengan pelajaran Matematika sejak SD sampai lulus SMK, aku tidak suka Guru Matematika dan aku benci Mas Dhanu! Mas Dhanu, pria sok cool yang kebetulan di utus Tuhan untuk melihat rambut kepalaku disaat aku sudah ber-nadzar di hadapan yang...
