Ningsih menggulingkan tubuhnya memojok ke dinding kamar. Matanya masih terjaga meski jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Dia masih tak habis pikir dengan apa yang terjadi tadi sore. Katrina. Guru kebanggaan adiknya itu ternyata kekasih suaminya. Dan parahnya lagi suami Katrina ternyata sepupu Dhanu.
Demi Tuhan, bukan rasa cemburu atau sakit hati mendalam yang Ningsih rasakan, tapi justru ia malu mengetahui fakta itu. Katrina, wanita yang sempat ia kagumi sosoknya ternyata memiliki kehidupan yang menjijikan. Dhanu, pria yang Ningsih pikir sudah tobat dan mau berdamai dengannya rupanya tak jauh berbeda dengan Katrin.
Kali ini Ningsih bangun dari rebahannya. Memilih duduk bersandar di dinding kamar. Matanya menatap kosong kedepan. Sekarang pikirannya justru melayang mengingat kembali perkataan Abah tadi sore.
Beliau sangat terpukul. Sampai-sampai tangannya dengan ringan menonjok tulang pipi anak semata wayangnya. Ya. Dhanu sempat mendapat dua kali tonjokan dari Abah. Tadinya mau ditambah pakai tongkat bisbol, tapi istrinya sudah nangis kejer jadi Abah hanya memberi anak badungnya itu dua tonjokan tapi mampu buat hidung Dhanu berdarah-darah.
Ningsih meringis sendiri membayangkan kejadian tadi sore. Dia menyaksikan langsung hidung Dhanu yang bercucuran darah dan Ibu mertuanya menangis histeris.
"Itu pukulan untuk kamu karena sudah menyakiti hati istrimu sendiri!" Begitu kata Abah.
Padahal, Ningsih kira Abah memukuli anaknya karena sudah membuat malu citra keluarga. Tapi ternyata beliau melakukan itu sebagai bentuk rasa tidak terima karena menantunya disakiti.
Abah juga bilang kalau beliau menerima apapun keputusan Ningsih. Entah itu perceraian atau apapun. Hanya saja, Ningsih belum memutuskan. Karena yang tadi sore dia lakukan hanya diam menunduk kemudian tengok kanan-kiri seperti orang bodoh. Padahal seharusnya Ningsih menangis menjerit-jerit melihat suaminya selingkuh di depan mata dan di dalam rumah mereka pula.
Sekarang baru akan ia pertimbangkan keputusan apa yang akan diambil. Perceraian? Sebenarnya ini opsi yang menguntungkan karena selain bisa bebas dari Dhanu, Ningsih juga nantinya bisa cari bakal suami yang dia inginkan. Tapi masalahnya, Ningsih belum siap jadi janda. Kalau bertahan, memangnya Dhanu mau untuk benar-benar bertobat dari cinta butanya itu?
"Umur dua lima jadi janda nggak apa-apa kan?" Tanyanya pada diri sendiri sambil membayangkan kehidupannya nanti setelah jadi janda.
Mungkin Ningsih akan melanjutkan pekerjaannya di Garment dan menjadi bahan ocehan Leader karena jahitannya yang terlalu banyak salah. Aahh.. dia belum siap menerima itu. Sudah terlalu nyaman hidup enak di rumah Dhanu membuatnya enggan untuk keluar dari rumah ini.
Terlalu larut dalam pikiran runyamnya sampai tak terasa matanya mulai mengantuk. Ningsih tertidur dengan posisi duduk yang terasa tidak nyaman tapi mampu bertahan pada posisi itu sampai suara Adzan subuh berkumandang.
Paginya Ningsih melakukan aktivitas seperti biasa. Setelah ibadah dan membersihkan diri dia akan langsung berjibaku dengan dapur. Tapi, ketika akan melewati meja makan, dia melihat Dhanu sudah duduk disana sedang menikmati nasi bungkus.
Pria itu segera tersadar melihat kehadiran lain di sekitarnya. Menyambut pagi Ningsih dengan senyum canggung kemudian tangannya mengangkat tinggi-tinggi plastik hitam yang tadi dia letakkan di meja.
"Tadi saya keluar beli sarapan. Saya juga beli buat kamu." Katanya sedikit terbata-bata.
Ningsih hanya berdiri diam. Wajahnya menampilkan ekspresi tak suka. Entah kenapa sekarang melihat wajah Dhanu jadi terasa menjijikan. Bahkan senyum canggung yang pria itu tampilkan membuatnya ingin menarik kursi dan melemparnya ke wajah Dhanu.
KAMU SEDANG MEMBACA
All About Me and Him!
General FictionAku malas dengan pelajaran Matematika sejak SD sampai lulus SMK, aku tidak suka Guru Matematika dan aku benci Mas Dhanu! Mas Dhanu, pria sok cool yang kebetulan di utus Tuhan untuk melihat rambut kepalaku disaat aku sudah ber-nadzar di hadapan yang...
