Berita kehamilanku ternyata sudah menyebar luas. Aku lupa bilang ke Mas Dhanu untuk jangan bilang hal ini ke Orangtuanya dulu, tapi dia sudah terlanjur bilang. Jadi, kemarin Abah dan Bu Bidan berkunjung ke rumah Ibu untuk menanyakan kabar terbaruku.
Diluar ekspektasi, Bu Bidan menerima keadaanku. Dia yang paling antusias saat aku menceritakan pengalaman pertamaku memeriksakan kehamilan meski periksanya di klinik lain. Bu Bidan nggak tersinggung. Mungkin Mas Dhanu sudah bilang lebih dulu kalo aku malu periksa di tempat Ibu mertua sendiri. Hanya saja, Bu Bidan pesan kalo ada apa-apa atau sesuatu yang aku rasa nggak enak, harus lapor ke beliau.
Selama menjadi menantunya, baru kali itu aku melihat wajah sumringahnya di depanku. Aku bahkan cuma bisa bengong waktu Bu Bidan minta aku dan Mas Dhanu tinggal di rumah mereka. Ya ampun! Jangankan rumah mereka, di rumah suamiku sendiri bahkan aku tolak. Untungnya Bu Bidan dan Abah nggak terlalu maksa, jadi aku masih bisa tinggal disini lebih lama. Aku masih betah tinggal dirumah bersama Ibu dan Ninid. Bisa main sepuasnya bareng Ambar dan anaknya bayinya.
Seperti sekarang ini, aku lagi main dirumah Ambar. Nggak tau kenapa siang-siang begini aku pengen ngerujak di rumah orang, nggak mau di rumah sendiri. Alhasil, si Ambar yang setiap hari sibuk ngurus bayi, siang ini aku recoki suruh bikin rujakan Mangga muda.
"Kurang pedes ini, Mbar!" Protesku setelah mencolek sambal yang sedang Ambar ulek.
"Kurang pedes gundulmu, Ning! Ini cabenya sudah sepuluh biji sama cabe merahnya satu! Sesuai request kamu lhoh." Bantah Ambar menoyor keningku.
"Tapi kok kurang pedes ya?"
Giliran Ambar mencoba merasai sambal buatannya. "Ini sudah pedes banget, Ning!" Katanya yang kulihat sudah ada bulir-bulir keringat di kening padahal cuma nyoba secolek saja.
"Tapi kok- lho Ibu, kenapa? Ibu kenapa?" Aku menjeda protesanku soal sambel buatan Ambar ketika kulihat Ibu masuk ke dapur rumah Ambar dituntun Ibunya Ambar.
Wajah Ibu kelihatan merah dan marah. Aku bangun dan menghampiri karena panik. "Ibu kenapa sih?" Tanyaku lagi sambil melirik Ibu Ambar untuk meminta jawaban.
"Itu lho Ning, tadi kita kan lagi duduk-duduk di teras depan biasa, ngerumpi! Lhaa.. si Leha mulut lambe turah tiba-tiba nyinyirin Ibumu, katanya kamu jadi istri nggak tau diri. Sudah dikasih suami sugeh malah ditinggal pergi. Terus nyindir-nyindir soal kamu yang pisah rumah begitu. Jadi Ibumu nggak terima lah. Tadi hampir saja adu jotos!"
Yaa Salam! Aku melirik Ibu yang ternyata lagi ngelap air mata. Yang tadinya mau aku marahi, lihat Ibu nangis begini malah jadi kasihan.
"Sudah, sudah! Besok nggak usah ngerumpi! Dirumah saja!" Kataku sambil merangkul pundak Ibu.
"Yaa Ibu nggak terima anak Ibu dibilang hamil sama laki orang!"
"Hah? Siapa yang bilang begitu?" Aku jadi ikutan marah mendengar ucapan Ibu. "Siapa yang bilang?" Tanyaku lagi.
"Si Leha tadi. Mentang-mentang kamu ketahuan hamilnya waktu di rumah Orangtuamu. Ujung-ujungnya bikin fitnah kalo kamu diusir sama suamimu karena kamu hamil anak orang." Ibu Ambar yang menjelaskan.
"Astagfirullah... Kurang ajar banget mulut Bu Leha!" Timpal Ambar.
Aku tau si Leha Leha ini. Dia memang Ibu-Ibu komplek rumah yang paling hobi ngerumpi. Tiap sore atau setiap ada waktu kosong dia selalu nongkrong di teras rumah Ambar dan ujung-ujungnya ngobrolin hal yang nggak penting.
Mungkin dia sudah kehabisan topik, sampai-sampai namaku naik dijadikan bahan gosipannya.
Ah! Harusnya tadi aku ke rumah Ambar sendiri saja, nggak perlu minta Ibu untuk mengantarku! Gara-gara bawaan bayi, aku jadi aleman sama Ibu. Sekarang apa-apa serba Ibu. Untung Ibu mau aku repoti.
KAMU SEDANG MEMBACA
All About Me and Him!
Fiction GénéraleAku malas dengan pelajaran Matematika sejak SD sampai lulus SMK, aku tidak suka Guru Matematika dan aku benci Mas Dhanu! Mas Dhanu, pria sok cool yang kebetulan di utus Tuhan untuk melihat rambut kepalaku disaat aku sudah ber-nadzar di hadapan yang...
