Semenjak menikah dengan Dhanu, Ningsih jadi tidak terlalu suka dengan tanggal merah. Seperti Jum'at pagi ini. Yang seharusnya Dhanu pagi-pagi sudah bersiap dengan seragam kerja, tapi karena hari ini tanggal merah jadi pria itu hanya memakai kaos oblong abu-abu dan celana pendek saja.
"Ini kopinya." Ujar Ningsih meletakkan cangkir kopi di meja ruang tamu sambil terus memperhatikan aktivitas Dhanu yang sedang fokus memindai ikan-ikan kecil ke ember.
"Hmm. Nggak usah bikin sarapan." Sahut si Guru Matematika yang sudah punya istri tapi juga punya pacar.
Ningsih hanya menipiskan bibir saja. Pasalnya semalam Dhanu sudah bilang begitu juga. Lagipula, siapa juga yang mau masak? "Itu ikannya mau dibawa kemana?" Tanyanya saat Dhanu akan membawa ember berisi ikan kecil dari aquarium.
Sontak membuat Dhanu menoleh ke belakang, memperhatikan Ningsih dengan pandangan aneh dan sedikit terkejut karena ternyata Ningsih masih berdiri disana. "Mau saya kasih ke teman."
"Terus, aquariumnya mau diisi apa?" Baru kali ini Ningsih sedikit ikut campur tentang apa yang dilakukan suaminya.
"Mau saya isi Arwana." Jawabnya sambil bersiap membawa ember.
"Tapi kan—sayang ikannya."
Lagi-lagi suara Ningsih membuat Dhanu menghentikan pergerakannya. Sedikit memiringkan kepala menatap Ningsih bingung. "Kamu mau?" Tawarnya menodongkan ember.
Ningsih mengangguk tanpa ragu. Dari awal Dhanu membeli ikan-ikan kecil itu, Ningsih yang selalu memberi makan dan menguras aquariumnya. Tak jarang dia juga sering curcol dengan ikan-ikan kecil itu. Jadi, menurutnya agak di sayangkan kalau mereka sudah tidak di pelihara di rumah ini.
"Kamu suka?" Ningsih kembali mengangguk.
"Okey." Ucap Dhanu yang tak di mengerti Ningsih. Pria itu meletakkan kembali embernya di lantai dan pergi begitu saja.
Sedang Ningsih langsung menghampiri ember berisi ikan-ikan kecil, mengobok-obok tangannya disana mencoba mengambil satu ikan untuk dia ajak bicara. Tapi begitu suara langkah Dhanu terdengar, dia bergegas melepaskan ikannya dan undur diri dari sana. Lebih baik dia masuk kamar untuk bersiap ke tukang sayur. Dia harus membuat makan siang karena ada Dhanu di rumah.
Ah sial! Seharusnya siang ini Ningsih bisa bermanja-manja di sofa sambil nonton siaran televisi, bukannya berjibaku dengan pisau dan wajan.
Pulang dari tukang sayur, Ningsih dikejutkan dengan isi aquarium. "Kok di isi ikan itu lagi?" Tanyanya sembari melangkah menghampiri Dhanu yang lagi ngelap kaca aquarium.
"Katanya kamu suka."
Ningsih masih tidak mengerti jawaban Dhanu. "Ya terus?"
"Yaa nggak jadi di kasih ke teman lah."
"Terus Arwananya mau disimpan dimana?"
"Nggak jadi. Ikan ini aja udah. Jangan lupa di rawat."
Kening Ningsih berkerut tidak terima. "Lhoh, ini kan ikan Mas Dhanu."
"Ya sudah, kita rawat sama-sama."
Ningsih sedikit merasa aneh karena tumben sekali Dhanu tidak mendebat. Tapi Ningsih tidak mau terlalu memikirkan perubahan aneh itu. Terserah Dhanu. Sebelum akhirnya memutuskan pergi, Ningsih mengangguk mengiyakan untuk merawat ikan bersama-sama—meski lebih sering dia sih yang ngerawat.
Sambil bersenandung kecil Ningsih memasuki area dapur dengan tentengan plastik putih berisi belanjaan. Jilbab instan yang sedari tadi dia kenakan sudah ia lepas dan di campakkan begitu saja di bahunya.
"Mau masak apa?" Itu suara Dhanu yang tiba-tiba terdengar.
Posisi Ningsih yang awalnya akan membuka pintu kulkas kontan terhenti dan menoleh ke sumber suara. "Sayur terong lodeh, ayam goreng sama tempe goreng." Jawabnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
All About Me and Him!
General FictionAku malas dengan pelajaran Matematika sejak SD sampai lulus SMK, aku tidak suka Guru Matematika dan aku benci Mas Dhanu! Mas Dhanu, pria sok cool yang kebetulan di utus Tuhan untuk melihat rambut kepalaku disaat aku sudah ber-nadzar di hadapan yang...
