"Mas, Mas!" Panggil Ningsih sambil mendekatkan tubuhnya pada Dhanu yang sibuk dengan laptop di pangkuan pria itu. Saat ini keduanya tengah santai di kamar—yah, meski Dhanu masih mementingkan pekerjaannya juga.
"Hemmm..."
"Kalo anak kita laki-laki, Mas Dhanu mau kasih nama dia siapa?" Itu adalah pertanyaan kesekian kali di tanyakan oleh Ningsih.
Begitulah obrolan ringan yang belakangan menyelimuti rumah tangga Ningsih dan Dhanu. Setelah Dhanu berhasil membujuk Ningsih untuk kembali pulang ke rumah mereka, hubungan keduanya semakin membaik.
Posisi Dhanu yang sedang mengerjakan sesuatu pada laptop di pangkuannya sedikit terganggu dengan keberadaan Ningsih yang mencoba ndusel di pinggang Dhanu. Tapi apalah daya, dia tidak bisa memprotes tingkah sang istri—jika tidak mau di depak dari ranjang empuknya.
"Kamu udah nanya itu berkali-kali loh, Sayang. Pertanyaan lain, selain nama anak." Protes Dhanu tanpa menghentikan pekerjaannya yang tengah fokus pada tulisan di layar laptop.
"Tinggal jawab aja apa susahnya sih!" Ibu hamil dengan segala emosinya.
"Naruto." Jawab Dhanu masih konsisten seperti waktu awal Ningsih menanyakan nama calon anak mereka. Dia memang ingin memberi nama anaknya Naruto, serial anime kesukaannya.
"Bisa selain Naruto, nggak? Terus kalo perempuan?"
"Tetap Naruto, kalo perempuan aku pilih nama Hinata."
Ningsih menjewer telinga suaminya. "Dasar wibu edan!"
Setelah menutup layar laptop, Dhanu memfokuskan penglihatannya pada sang istri. "Daripada kamu, ngasih nama anak jadul banget."
"Nama Seruni untuk anak perempuan bagus kok dibilang jadul! Aku nggak mau tau ya, pokoknya kalo perempuan, namanya harus Seruni!"
Sabar... Dhanu hanya bisa mengelus dada sambil mengangguk patuh saja. Terserah, mau Seruni kek, Rinjani kek, yang penting bukan Nyi Roro Kidul aja! Terserah yang punya rahim!
"Ya, terserah kamu."
"Terus nanti kalo anak kita sudah lahir, aku mau dipanggil Biyung! Nanti Mas Dhanu dipanggil Romo. Bagus, kan?"
Ini lagi!
Buseett Ning, panggilan jaman kapan, Biyung dan Romo?
"Kamu pikir kita hidup di jaman Tutur Tinular?" Sahut Dhanu sedikit kesal. Semakin mendekati persalinan, semakin ada saja gebrakannya.
"Biarin. Biar beda dari yang lain. Ini tuh panggilan nusantara, harus di lestarikan."
Dari banyaknya panggilan Orangtua, kenapa istri ajaibnya ini justru memilih Biyung dan Romo? Dhanu masih nggak bisa membayangkan bagaimana nanti anaknya memanggilnya Romo Dhanu.
"Kenapa nggak Ibu dan Ayah saja?" Dhanu mencoba memberikan saran, siapa tau otak jadul Ningsih mau berpikir ulang.
"Katanya tadi terserah aku!"
"Iya, iya, terserah kamu. Sudah, istirahat. Besok kamu mau ke posyandu kan?" Ningsih mengangguk.
"Jadi dianter Ibu?"
"Nggak jadi. Mau dianter Tata saja."
Kemudian Dhanu mengapit kepala Ningsih yang ndusel di ketiaknya. Membawanya untuk tidur menyambut mimpi indah. Sembari tangannya mengelus rambut Ningsih yang dulu sempat ia ejek. Mata Dhanu menatap keatas menerawang kembali memori-memori yang dulu. Saat dimana awal pertama dirinya bertemu dengan Ningsih yang akhirnya berujung pada sebuah pernikahan.
Bibirnya mengulas senyum kala otaknya kembali memutar tingkah Ningsih yang dulu. Tapi sedetik kemudian senyum itu luntur saat mengingat sikapnya yang dulu sangat arogan pada sang istri.
KAMU SEDANG MEMBACA
All About Me and Him!
Fiksi UmumAku malas dengan pelajaran Matematika sejak SD sampai lulus SMK, aku tidak suka Guru Matematika dan aku benci Mas Dhanu! Mas Dhanu, pria sok cool yang kebetulan di utus Tuhan untuk melihat rambut kepalaku disaat aku sudah ber-nadzar di hadapan yang...
