tiga puluh tiga

366 37 6
                                        

"Wiiidih... foto anaknya siapa tuh, Mbak?" Seruan heboh dari arah belakang membuat Ningsih spontan mematikan layar ponsel yang sedari tadi menampilkan foto seorang bayi.

Ningsih menengok sekilas ke belakang sambil memasang muka sebel pada si pelaku yang tak lain adalah Ujang. "Kepo!" Tukasnya.

"Diih sensi amat. Itu tadi anaknya Mbak Ambar ya?" Ujang masih penasaran rupanya.

"Iya!" Ketus Ningsih sambil berlalu meninggalkan Ujang.

Sudah terhitung tiga bulan Ningsih kerja jaga toko di cabang utama. Selama itu dia harus sabar menghadapi sikap Ujang yang kadang suka bikin Ningsih naik pitam. Tak jarang Ningsih suka memarahi Ujang lantaran pria itu tidak pernah mau jika atas nama Ningsih yang menyuruhnya. Kata Ujang, hanya komandan Dhanu dan Abah yang boleh nyuruh-nyuruh dia. Cih!

Balik lagi ke masalah awal. Karena duduk di kursi kasir terkena gangguan Ujang, Ningsih beralih duduk di kursi pantry room. Kembali menyalakan ponselnya dan tersenyum kagum melihat foto anak Ambar yang sempat diabadikan tadi siang saat mengunjungi rumah sahabatnya itu. Ambar berhasil melahirkan putri kecilnya kemarin sore dan dia baru bisa melihat keadaan sahabatnya itu tadi siang.

"Ehmm."

Deheman berat yang sangat Ningsih paham mengejutkannya. Kedua alis Ningsih menukik sebelum akhirnya menoleh ke belakang dan melihat sosok Dhanu Mahesa berdiri di ambang pintu sana. Penampilan pria masih sama seperti tadi pagi saat berangkat mengajar, hanya saja batik yang Ningsih setrika itu sudah lusuh.

"Mas Dhanu ngapain disini?" Ningsih mengajukan pertanyaan sembari berdiri menghampiri. Rautnya masih menampilkan ekspresi terkejut. Karena ini kali pertama Dhanu menyusulnya ke toko. Dan, tumben sekali suaminya itu jam empat sore sudah pulang, karena biasanya selalu pulang maghrib.

Tak langsung menjawab, Dhanu justru mengalihkan pandangan ke arah lain seperti sedang berpikir. Kemudian kembali melabuhkan penglihatannya ke Ningsih. "Lupa nggak bawa kunci rumah."

Mulut Ningsih menganga tak percaya. Agak sedikit janggal dengan jawaban itu. Pasalnya, setiap kali Dhanu menyusul ke tempat Ningsih berada, pria itu selalu beralasan menggunakan 'Lupa bawa kunci' tiap kali Ningsih tanya.

Tapi yah, mungkin saja kali ini Dhanu benar-benar lupa membawa kunci rumah yang seharusnya selalu ada di ransel kerjanya itu. Jadi, Ningsih hanya mengangguk menerima jawaban itu. "Ya sudah, ayo pulang." Ajaknya karena memang sudah waktunya tutup toko.

"Sekalian cari makan di luar. Saya pengin makan pecel lele." Ujar Dhanu sambil mengikuti langkah Ningsih dari belakang.

"Boleh."

Keduanya pun keluar dari toko. Untung saja hari ini Ningsih tidak bawa motor karena tadi pagi dia berangkat bareng Abah yang kebetulan berkunjung ke rumah.

Di perjalanan pulang, Dhanu sesekali mencuri pandang ke arah spion motor untuk melihat keadaan Ningsih yang sibuk memandang kagum suasana jalanan sore.

"Pengin ke Alun-alun." Ucap Ningsih tiba-tiba.

Dhanu yang mendengar itu lantas memelankan laju kendaraannya untuk menyahut. "Mau ke Alun-alun?"

Ningsih mengangguk. "Pengin. Tapi, nanti saja lah sama Ninid."

"Sekarang saja sekalian maghriban disana. Nanggung."

Mata Ningsih melirik Dhanu dari kaca spion, membuat keduanya saling pandang untuk beberapa saat. "Nggak apa-apa?" Tanyanya sedikit ragu yang justru dibalas anggukan kepala oleh Dhanu.

Setibanya di Alun-alun Tegal, Ningsih mengajak Dhanu untuk berkeliling jalan kaki. Sebagai anak Kabupaten yang jauh dari perkotaan, mengunjungi tempat ramai seperti ini membuatnya sedikit katrok. Kini keduanya berhenti di depan Taman Pancasila.

All About Me and Him!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang