"Ngebut, Mbak. Cepetan... Kasihan Ibu, pasti lagi di marah-marahi sama Bu Bidan." Seru Ninid di belakangku.
Aku nggak tau maksud ucapan Ninid. Begitu dia lihat aku keluar dari pabrik, Ninid langsung menarikku untuk cepat-cepat pulang karena di rumah ada Bu Bidan dan Pak Kunco.
Ninid bilang, Bu Bidan lagi marah-marah ke Ibu dan Bapak. Cuma itu yang dia kasih tau ke aku. Sama sekali nggak ada penjelasan kenapa Bu Bidan bisa datang dan marah-marah ke Ibu.
Aku semakin dilanda penasaran. Melajukan motor semakin kencang agar cepat sampai ke rumah. Begitu tiba, aku bergegas masuk dan melihat Bu Bidan nunjuk-nunjuk Ibu yang cuma diam.
Sebagai anak, tentu saja aku nggak terima Ibu diperlakukan seperti itu. Biarpun Ibu pilih kasih karena sering kasih makan aku tempe sedang Ninid sering di masakkan ayam, aku tetaplah anaknya. Tubuhku berdiri di depan Bu Bidan menggantikan Ibu.
"Nah, ini nih anaknya! Kamu yang sudah mengguna-gunai anak saya, kan? Ngaku kamu!" Bi Bidan bertanya sambil menunjuk wajahku. Matanya melotot dan terlihat menakutkan.
Me—apa? Mengguna-gunai Dhanu? Fitnah macam apa ini? Hei, Bu Bidan yang terhormat! Meski aku jelek dan nggak ada yang naksir, aku nggak akan seputus asa itu untuk mencari jodoh. Sekalipun Mas Dhanu ngemis cinta di depanku, aku akan menolaknya mentah-mentah. Sikapnya nggak cocok untuk aku jadikan seorang pemimpin keluarga.
Aku tersenyum miring memandang Bu Bidan remeh. "Saya nggak pernah pake yang begituan, Bu."
"Halah, ngeles aja kamu! Kalo nggak pake guna-guna pemikat, terus kenapa anak saya nolak ketika perjodohannya dengan Ning Syifa di lanjutkan? Dan dia ada bilang nggak akan menikah kalo pasangannya bukan kamu! Itu apa namanya kalo bukan guna-guna?"
Aku terdiam cukup lama hanya untuk mencerna penjelasan wanita di depanku. Penjelasannya cukup sulit untuk aku masukkan ke logika. Apa benar adanya Mas Dhanu bilang begitu? Mustahil banget.
"Anak Ibu salah makan sesuatu mungkin," sahutku asal karena nggak menemukan kebenaran. Ya, mana mungkin seorang Dhanu Mahesa bilang gitu? Yang ada dia nolak mentah-mentah kalo disuguhi aku untuk jadi pasangannya.
"Jangan sembarangan ya kamu kalo ngomong." Pak Kunco yang sedari tadi setia memegangi Bu Bidan Cantika dari belakang mencoba menenangkan istrinya.
Sedang punggungku juga sudah di pegangi oleh Bapak dan Ibu dari belakang. Takut aku medot, mungkin.
"Selama ini Mas Dhanu nggak ada sikap ketertarikan sama saya, saya juga nggak suka sama anak sampean, Bu. Lagian, kalo mau guna-guna juga saya mikir dua kali. Mending saya guna-guna artis sekalian yang hartanya melimpah ruah." Aku nggak suka ketenangan hidupku dan keluargaku di usik, jadi lebih baik selesaikan sekarang.
"Nah itu makanya kamu pilih anak saya yang dekat, kan? Kalo artis pasti kejauhan."
Oh, masih mau nantangin ternyata.
"Jangan remehkan mantra guna-guna, Bu. Yang dari luar negeri saja bisa kena. Ibu mau saya coba santet apa gimana?" Hilang sudah rasa hormatku padanya.
Ucapanku membuatnya naik pitam. Tangan Bu Bidan terkepal. "Kamu!! Kamu pikir saya mau punya menantu seperti kamu?! Dhanu lebih pantas mendapatkan Ning Syifa!"
"Aku juga 'Ning'—tapi bedanya bukan anak Kyai, melainkan anak petani. Aku bangga punya Bapak sebagai petani. Kalo nggak ada petani, emang kalian—orang-orang kaya bisa makan apa? Adanya beras juga karena petani!"
"Pinter jawab aja kamu. Sudahlah, jujur aja kalo kamu mengguna-gunai anak saya."
"Demi Allah, Tuhan alam semesta, Bu. Berani sambar geledek deh kalo saya bohong." Aku mengacungkan jari membentuk huruf V.
KAMU SEDANG MEMBACA
All About Me and Him!
Ficción GeneralAku malas dengan pelajaran Matematika sejak SD sampai lulus SMK, aku tidak suka Guru Matematika dan aku benci Mas Dhanu! Mas Dhanu, pria sok cool yang kebetulan di utus Tuhan untuk melihat rambut kepalaku disaat aku sudah ber-nadzar di hadapan yang...
