Menjelang persalinan yang kata Dokter seminggu lagi tapi bisa saja lebih cepat. Sesuai kesepakatan bersama, aku dan Mas Dhanu memutuskan untuk tinggal di rumah Ibu lagi. Kata suamiku sih, biar kalau ada apa-apa bisa ada yang bantuin. Kenapa nggak di rumah Bu Bidan saja? Karena disana tentu sama saja sepi. Tata pasti sibuk dengan pekerjaannya sendiri.
Kalau di rumah Ibu, aku bisa main ke rumah Ambar sambil nunggu Ibu pulang pasar jam sembilan.
Jadi, mulai semalam aku sudah nginep di rumah Ibu dan ini adalah pagi pertamaku disini. Mas Dhanu sudah berangkat ngajar pagi-pagi karena ada jadwal piket.
"Kamu nunggu siapa sih?" Tanyaku begitu masih melihat adikku duduk di kursi depan teras. Padahal sepuluh menit lagi sudah memasuki jam tujuh. Tadi dia sudah di tawari Mas Dhanu untuk berangkat bareng, tapi malah menolak.
"Mbak ngapain diluar sih! Udah sana masuk, sarapan kek." Balasnya malah sewot.
Aku tau dia pasti lagi nunggu Jepri si pangeran Ojolnya. Setelah beberapa bulan lalu aku menceramahinya sampai urat-uratku pada kelihatan, Ninid tetap menjalin hubungan sama si Jepri. Begitulah kalau sudah cinta buta.
"Kalo Jepri lama mending kamu bawa motor sendiri. Ini sudah mau jam tujuh, Nid. Kamu rela telat gara-gara si Jepri?" Ahhh, aku nggak bisa ngasih julukan-julukan aneh untuk Jepri karena posisiku lagi hamil. Padahal untuk nyebut nama dia sebenarnya aku malas.
Ninid melirikku yang berdiri di samping pintu. "Ini sebentar lagi sampe kok. Mbak masuk aja. Aku takut Mbak Ning emosi kalo lihat Jepri."
Tau kakaknya nggak suka, tapi masih bebal pacaran sama dia. Fix sih ini, adikku kena peletnya Jepri.
"Itu Jepri! Mbak, aku berangkat sekolah dulu ya." Ninid pamit menyalamiku. Si Jepri dengan helm full face yang sengaja kacanya ditutup rapi itu sama sekali nggak menyapaku.
"Iya. Hati-hati dijalan. Bilangin Jepri suruh jangan ngebut. Telat nggak apa-apa deh yang penting selamat." Pesanku.
"Iyaa, Assalamualaikum!"
"Wa—al—aduh! Nid! Aduh!" Aku mengaduh beberapa kali sambil mencengkeram tangan Ninid begitu selesai salaman. Nggak tau kenapa perutku terasa mules dan sakit bersamaan.
"Mbak Ning! Mbak kenapa? Mana yang sakit?" Adikku panik bukan kepalang.
Aku duduk di kursi teras sambil memegangi perut. Kepalaku menggeleng. "Nggak tau, perut Mbak mules. Kayak pengin berak, Nid."
"Jangan-jangan Mbak mau lahiran?" Aku hanya mengangguk saja mendengar tebakan Ninid yang kayaknya benar.
"Ayang, ayo berangkat!" Seruan Jepri membuat perutku semakin sakit. Kutatap anak muda yang masih berdiri di motornya itu.
Ninid melambai meminta Jepri mendekat. Dan si anak pemilik depot itu mendekat. Perutku semakin nggak karu-karuan rasanya. Mata sinisku sudah nggak bisa di kontrol lagi meski lagi kesakitan.
"Ayang, kenapa?" Tanya bocah itu sok care.
"Mbakku mau melahirkan. Aku minta tolong carikan angkot, ya? Suruh kesini."
"Hah? Melahirkan?" Wajah syoknya tertuju padaku. Kuberi dia pelototan.
"Ah! Angkot kelamaan. Bentar, aku ambil mobil dulu." Bak Galang si anak setengah Serigala, Jepri berlari cepat menuju motornya kemudian bergegas pergi.
"Nid, ambil tas besar yang di kamar Mbak. Sama hape terus dompet, ya." Suruhku. Untungnya semalam aku sudah menyiapkan semua barang yang perlu dibawa saat persalinan.
Nggak sampai lima menit, Jepri datang lagi. Tadi dia bilang mau ambil mobil, kukira mobil Avanza yang biasa dimiliki keluarga Cemara, taunya dia ambil mobil pickup bekas angkut ayam.
KAMU SEDANG MEMBACA
All About Me and Him!
Ficção GeralAku malas dengan pelajaran Matematika sejak SD sampai lulus SMK, aku tidak suka Guru Matematika dan aku benci Mas Dhanu! Mas Dhanu, pria sok cool yang kebetulan di utus Tuhan untuk melihat rambut kepalaku disaat aku sudah ber-nadzar di hadapan yang...
