"Kamu nggak ada rencana liburan gitu, Nu? Mumpung masih libur." Pak Kunco bersuara disela-sela menonton televisi.
Malam yang syahdu ini, kami—aku dan keluarga Mas Dhanu lagi ngumpul nonton televisi di ruang nonton. Aku duduk di sebelah si Songong sedang Bu Bidan dan Pak Kunco duduk di sofa lain.
"Nggak. Lusa juga sudah mulai berangkat," jawab si angkuh tanpa repot-repot melihat wajah Bapaknya sendiri.
"Loh, mumpung besok masih libur. Liburan kan bisa di Pantai atau Guci, nggak harus ke luar Kota jauh-jauh."
"Sudahlah, Bah. Mungkin Dhanu mau memanfaatkan cutinya untuk istirahat. Abah kok ngotot banget nyuruh Dhanu liburan?" Bu Bidan ikut menimpali.
Aku yang merasa belum benar-benar masuk ke dalam keluarga berdaulat ini cukup tau diri dan lebih memilih diam. Lagi pula, memang aku mau ngomong apa? Aku juga nggak penting-penting amat di sini. Lebih baik fokus nonton televisi, meski yang di tonton iklan.
"Memangnya Ningsih nggak keberatan kalo nggak diajak kemana-mana?"
Merasa namaku di sebut, kepalaku menoleh ke Pak Kunco yang juga menatapku. "E-enggak apa-apa kok, Bah."
"Ya sudah kalo nggak keberatan. Abah takutnya kamu marah tapi di pendam sendiri. Itu nggak baik."
Aku cuma meringis dan mengangguk. Lagi pula aku juga ogah kalo harus pura-pura bulan madu dengan si Songong. Yah, meski sebenarnya aku pengin banget jalan-jalan.
"Terus masalah pindah rumah, gimana Nu?" Meski iklan sudah selesai tapi Pak Kunco masih tetap fokus mengajukan pertanyaan.
"Secepatnya, Bah." Jawab Mas Dhanu.
Nah, itu lebih baik. Jadi aku nggak perlu terlalu lama pura-pura sok manis di depan mertua.
"Loh kok secepatnya? Kamu kan sudah janji sama Mama kalo pindahannya nanti nunggu Dewi pindah ke sini." Bu Bidan menyela yang membuatku lantas menatapnya nggak setuju.
Dewi? Siapa?
Jangan-jangan bini pertamanya Mas Dhanu?
"Memang Dewi jadi pindah ke sini?" Tanya Pak Kunco pada Bu Bidan.
"Ya jadi! Dia lagi ngurus pindahan sekolah juga."
Kayaknya tebakanku salah. Yang namanya Dewi masih sekolah. Atau jangan-jangan Dewi-Dewi ini sebenarnya adiknya Mas Dhanu yang tersembunyi?
"Paling sebulanan lagi selesai ngurusnya." Lanjut Bu Bidan enteng.
Aku sampai melototkan mata mendengar lanjutannya. Sebulan lagi? Jadi aku harus tinggal di rumah megah ini sebulanan lagi? Bisa-bisa aku mati kaku!
Tiba-tiba Mas Dhanu berdiri dari duduknya. "Mau bikin tugas dulu buat anak-anak," katanya kemudian pergi tanpa sedikit saja melirikku.
Sialan memang pria satu itu. Daripada aku jadi patung mendadak di tengah-tengah mertua, terpaksa aku mengikuti langkah Mas Dhanu yang kali ini memasuki kamar kami. Aku nggak salah sebut kan? Sekarang memang makar dia sudah menjadi kamarku juga.
Mas Dhanu sibuk di meja kerja sudut kamar sedang aku rebahan sambil scroll beranda Facebook. Bosan dengan Facebook yang isinya cuma postingannya si Randa, aku beralih membuka aplikasi Instagram. Lebih baik aku gunakan kuota internetku untuk kepoin cowok-cowok ganteng di Instagram daripada ngelike postingannya si Randa.
Setiap kali buka Instagram, akun pertama yang wajib aku lihat adalah Belva Devara si cerdas pendiri aplikasi bimbel online bernama RuangGuru. Sudah lama aku tergila-gila dengan Mas Belva ini. Selain parasnya yang tampan dan berwibawa, dia juga pinter dan banyak wawasan. Tapi sayangnya Mas Belva sudah memiliki pawang yang sebentar lagi bakal di pinang. Akan menjadi hari terberatku kalo Mas Belva benar-benar akan menikah.
KAMU SEDANG MEMBACA
All About Me and Him!
Narrativa generaleAku malas dengan pelajaran Matematika sejak SD sampai lulus SMK, aku tidak suka Guru Matematika dan aku benci Mas Dhanu! Mas Dhanu, pria sok cool yang kebetulan di utus Tuhan untuk melihat rambut kepalaku disaat aku sudah ber-nadzar di hadapan yang...
