sembilan

339 61 3
                                        

Beban hidupku sudah sedikit lebih ringan. Aku sudah mengganti nadzar yang belakangan membuat otakku panas dan kelimpungan. Sekarang, aku adalah Ningsih yang dulu—sebelum si songong melihat rambutku.

Fyuhh.. rasanya lega banget sudah nggak terikat nadzar. Pikiranku jadi plong. Bekerja pun rasanya santai, meski masih ada saja kesalahan.

Semenjak kejadian di toko, sampai sekarang aku belum melihat tampang Mas Dhanu lagi. Syukurlah. Aku berharap dia lenyap dari dunia ini. Atau pindah gitu. Karena keberadaannya membuatku pernah merasakan kesialan yang haqiqi.

Ah, sudah lah. Ngapain aku ngomongin si songong lagi. Lebih baik lupakan namanya dan nggak perlu mengungkit lagi masalah dia yang pernah melihat rambutku.

"Nunggu siapa, Ning?" tanya salah satu temanku yang kebetulan lewat.

"Adikku, Ce." Jawabku kemudian dia pergi menuju tempat parkir motor.

Sekarang aku lagi duduk tergesa-gesa di kantin pabrik, menanti jemputan yang entah datangnya kapan. Biasanya aku bawa motor, tapi semenjak Ambar positif resign, aku males bawa. Lebih memilih diantar Bapak terus pulangnya di jemput Ninid.

Oh iya, ngomong-ngomong soal Ambar, dia lagi di pingit. Besok dia dan Mas Agus akan melaksanakan akad nikah. Aku nggak bisa berada disana karena tuntutan pekerjaan. HRD sudah memberiku SP 2 dan kalau SP 3 di turunkan, tamatlah riwayatku di pabrik ini.

Aku hanya boleh izin satu hari untuk hari pesta pernikahannya. Disana, aku dan Ninid yang akan menjadi penerima tamu. Hehehe. Sejujurnya aku sudah nggak sabar pengin di dandani. Memperlihatkan kepada para pemuda di desaku kalau aku juga bisa cantik dengan make-up.

Uhh... Jadi nggak sabar melihat reaksi tamu teman-teman desa yang melihatku di dandani. Pasti mereka pada pangling.

Oh, stop. Berhenti membayangkan itu. Sekarang bukan waktunya. Wajahku kembali pias mengingat Ninid nggak ada kabarnya.

Karyawan semakin bertebaran keluar berlari ke tempat parkir. Sedang aku terus menerus berdecak karena Ninid nggak menjawab teleponku.

Nggak enaknya minta tolong Ninid itu ya begini. Dia ngaret.

Nggak lama pesan WA dari Ninid masuk, memberitahuku kalo dia sudah di depan. Aku segera berdiri dan menerobos karyawan lain yang berhimpitan. Badanku sudah letih dan penuh keringat, jadi ingin cepet-cepet pulang dan mandi!

Begitu sampai, kulihat adikku satu-satunya itu lagi santai nangkring diatas motor sambil menikmati seplastik kecil—cilok? Aku menelan ludah susah payah dan menghampirinya lebih dekat. Ini sudah jam 5 sore tapi Ninid masih pake baju olahraga, berarti dia belum mandi.

Tiba di depan Ninid, dengan laknatnya dia memundurkan tubuh kebelakang. "Mbak yang nyetir," ucapnya tanpa dosa.

Napasku tertahan. Ingin menjambak jilbabnya sambil memberinya makian, tapi aku berusaha tenang agar hal itu nggak terlaksana. Karena kalau iya, kayaknya Ninid nggak bakal mau menjemputku lagi.

Jadi lebih baik sekarang naik ke motor dan tancap gas menuju rumah. Oke.

**

Hari yang kunanti telah tiba. Kemarin, kata Ibu acara akad nikah Ambar berjalan dengan lancar. Mas Agus berucap ijab qobul dalam satu kali dan satu tarikan napas. Aku juga sempat melihat videonya saat ijab. Pasti dia deg-degan banget.

Sekarang sahabatku sudah sah menjadi istri Mas Agus sedangkan aku masih setia menjomblo. Duh, stop Ning! Ini bukan waktunya untuk meratapi nasib.

Aku menarik napas dan menghembuskannya pelan-pelan. Tersenyum di depan cermin yang menampilkan wajah ayuku dengan balutan make-up tebal dan pakaian cantik berwarna pink.

All About Me and Him!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang