empat belas

410 72 9
                                        

"Ningsih Ayumi."

Kepalaku yang semula tertunduk seketika terangkat kemudian berdiri untuk menemui seseorang yang baru saja memanggil nama panjangku.

Langkahku semakin masuk ke dalam ruang pemeriksaan di sebuah Puskesmas yang ada di Desaku. Duduk di hadapan seorang Dokter.

"Tensi darah dulu, ya," katanya sembari memegangi salah satu tanganku.

Sambil menunggunya mengecek darahku, otakku memikirkan jawaban yang pas saat Dokter menanyakan, 'keluhannya apa?'. Pasalnya aku ke Puskesmas bukan untuk periksa, melainkan mencari Surat Dokter!

"Keluhannya apa, Mbak?"

"Pusing," jawabku singkat.

"Terus?"

"Mual."

"Sudah berumah tangga atau belum?"

Hampir saja aku kelolosan memutar bola mata di depan Dokter wanita yang usianya sekitar 30an awal. "Belum, Dok."

Kepalanya mengangguk-angguk sedang tangannya sibuk menuliskan sesuatu di kertas. "Jangan terlalu capek, ya. Nanti saya berikan resep agar nggak mual lagi," Katanya menyerahkan secarik kertas untuk menebus obat.

"Sekalian minta surat dokter, Dok," kataku sebelum berdiri.

"Satu hari cukup ya, untuk istirahat."

Itu sebuah pernyataan bukan pertanyaan. "Saya butuh dua hari untuk pemulihan, Dok. Kepala saya pusing kalo diajak kerja," belaku agar mendapat cuti seenggaknya dua hari.

Sudah capek-capek ngantri, masa cuma dikasih libur satu hari!

Dokter berkacamata di depanku ini mengernyitkan kening tampak berpikir. "Baik. Gunakan waktunya untuk istirahat yang cukup."

Senyumku mengembang dan mengangguk cepat. Menerima surat dokter darinya dengan senang hati.

"Minta stempel di bagian administrasi ya," katanya sebelum aku benar-benar keluar.

Tanpa suruh pun aku sudah tau prosedurnya. Keluar dari ruang pemeriksaan aku langsung menuju tempat administrasi untuk meminta stempel.

"Silakan di tunggu."

Aku mendengus keras. Inilah yang membuatku malas periksa di Puskesmas. Selalu di suruh menunggu, padahal nggak ngantri-ngantri amat. Aku terpaksa periksa di Puskesmas karena Faskes-ku dari BPJS Pabrik mendapat tempat di sini. Jadi, kalo pengin nggak berangkat tapi tetap di bayar, aku harus mendapatkan surat dokter dari Puskesmas sesuai Faskes yang tertera di BPJS. Rumit memang.

"Ningsih Ayumi."

Namaku dipanggil lagi, aku bergegas berdiri menghampiri tempat administrasi. "Makasih," ucapku setelah surat dokter sudah ada di tanganku.

Urusan selesai. Seharusnya aku menebus obat lebih dulu, tapi karena aku sakit bohongan jadi nggak aku tebus obatnya. Biasa aku menitipkan kertas resep obatnya ke tetangga yang kebetulan periksa, tapi sekali lagi—selain nggak butuh, aku juga lagi males basa-basi sok ke para tetanggaku!

Tolong jangan meniru adegan ini. Nanti trikku malah jadi ide cemerlang untuk kalian nggak berangkat kerja.

Alasanku hari ini dan besok nggak berangkat tentu karena pusing memikirkan PERNIKAHAN. Bukan pusing yang meriang.

Demi Allah semalam setelah Pak Kunco dan Bu Bidan menentukan tanggal pernikahan kemudian mereka pulang—aku sama sekali nggak bisa tidur!

Awalnya Pak Kunco dan Bu Bidan menyetujui tanggal pernikahan yang Ibu dan Bapak rekomendasikan—yaitu akan di selenggarakan 3 bulan lagi. Tapi tiba-tiba si Songong menyela kalo 3 bulan ke depan dia bakal sibuk untuk persiapan ulangan semester di tempatnya mengajar.

All About Me and Him!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang