Tuhan apa benar dia senja yang kau kirimkan untukku jika itu benar buat dia menetap jangan hanya sekedar singgah, aku benar-benar ingin dia selalu disampingku.
Jujur dirinya sangat takut terhadap preman itu. Dia menelan salivanya dengan susah payah. Dalam posisi tangan terkepal sambil bergetar, dirinya memasang ancang-ancang seperti siap untuk menghadapi preman itu.
"Dasar bocah!" Preman itu bersiul dan tidak lama kemudian datang lah satu orang laki-laki lagi yang tubuh nya lebih besar.
"Kenapa bro?" tanya teman preman itu.
"Ini ada bocah sok jagoan"
"Anak kayak gini nih yang mau kita habisin? gampang lah sekali tonjok juga nangis. Tunggu apa lagi, hajar!"
"Eh... Bang santuy dong jangan keroyokan" cegat nya dan kedua preman itu seketika berhenti untuk menyerang.
Sekarang ini, dia bukan hanya takut saja melainkan tidak sanggup jika harus melawan dua orang yang badan nya lebih besar dari padanya.
"Kenapa?! takut?! hahah..."
Kedua preman itu menertawakan dirinya. Malu sekali rasanya apa lagi yang dia lindungi adalah perempuan.