Tuhan apa benar dia senja yang kau kirimkan untukku jika itu benar buat dia menetap jangan hanya sekedar singgah, aku benar-benar ingin dia selalu disampingku.
"Kalo gitu kamu minta antar Pak Ujang aja sana, jangan pergi sendirian."
"Nggak usah Mah, minimarket depan sini doang kok. Fiony naik sepeda aja, udah lama juga gak naik sepeda."
"Tumben?" tatapan Celine beralih pada putrinya. Ia berpikir tidak yakin dengan ucapan sang anak.
"Biasa aja dong Mah liatin nya. Udah ah, Fio berangkat dulu. Mamah mau nitip?"
"Nggak. Oke, kali ini Mamah bolehin, tapi awas aja kelayapan atau bohongin Mamah."
"Iya Mah."
Fiony dengan segera membuka pintu rumah nya. Di luar ia bisa menarik napas lega karena berhasil ke luar rumah tanpa merasa dicurigai. Ia pun bergegas mengambil sepeda di garasi dan pergi ke minimarket.
Di lain tempat dua bocah random ini sedang melakukan pertandingan antara spidol dan pulpen. Mereka bilang untuk mengisi kekosongan waktu yang ada. Mungkin karena saking gabutnya.
"Ayo Kak, spidol snowman aku pasti menang." ucap Christy dengan pedenya.
"Mana mungkin menang, spidol itu gendut yang menang pulpen lah yang kurus."
"Dih... Gak boleh bodyshaming, kita buktiin aja sekarang."
"Ayo!!" tantang Zee semangat.
Christy dan Zee meletakkan masing-masing jagoannya di ujung meja makan. Di sebelah kanan ada Zee dengan pulpen berwarna ungu janda dan disebelah kiri ada Christy dengan spidol snowman permanen.