Tuhan apa benar dia senja yang kau kirimkan untukku jika itu benar buat dia menetap jangan hanya sekedar singgah, aku benar-benar ingin dia selalu disampingku.
"Sangat senang bersamanya, apakah ini awal dari kata nyaman?"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Sesampainya Chelsea dan Zee di depan gedung apartement, kemudian mereka turun dari mobil dan masuk kedalam gedung tersebut.
"Yakin gak mau masuk dulu?" tawar Chelsea pada Zee tanda terimakasih karena sudah mengantarkannya sampai depan pintu apartement miliknya.
"Mau nya gitu, tapi udah malem, gak enak diliat orang. Lagian temen kamu kan mau kesini."
"Iya juga sih. Nanti dikira macem-macem lagi."
"Kamu mau aku macem-macemin? hm?" goda Zee sambil menaikan alisnya sebelah.
Pukulan cukup keras dari Chelsea berhasil didapatkan oleh Zee di bagian lengannya.
"Aww... Sshh..." ringis Zee.
"Dasar mesum." ketus Chelsea.
"Maaf, tapi itu hal yang wajar kok." Zee mengelus lengan yang kena pukulan tadi.
"MATA MU!." sarkas Chelsea.
"Haha... udah ah aku mau pamit. Kamu hati-hati diapartement. Kalo ada apa-apa telpon aku."
Chelsea mengangguk. "Kamu yang harusnya hati-hati dijalan, Zee."
"Iya..."
Sebelum pergi, Zee sempatkan untuk mengacak puncak kepala Chelsea karena gemas.
"Kan kebiasaan tangannya gak mau diem. Udh balik sana." perintah Chelsea.
"Kamu dulu sana masuk, baru aku bisa pulang. Aku harus mastiin kamu sampai dengan aman."
"Ribet ya... Aku juga udah didepan pintu."
"Iya tau, udah kamu masuk dulu Chel."
"Iiihh... Bawel, oke aku masuk duluan."
"Nah, gitu dong." Zee tersenyum dan untuk kedua kalinya tangannya terayun untuk mengacak puncak kepala Chelsea.
Setelah itu Zee langsung lari sambil tertawa puas.
"Awas kamu nanti ku bales." Chelsea sedikit berteriak.
***
Akhirnya, pada hari itu adalah hari dimana Zee terakhir diskors. Pagi yang membosankan untuknya. Ia masih betah di dalam kamarnya, malas untuk bangun dan memilih untuk bermain game online dihpnya.
"Kak... Aku sekolah bareng Bunda aja." teriakan Christy sangat nyaring dari luar kamar.
"Iyaa..." sahut Zee dengan suara paraunya.
Tidak lama dari situ Zee berhenti untuk bermain game. Ia memandang jam dinding yang ada dikamarnya. Lalu, memikirkan apa yang harus dirinya lakukan untuk hari ini?