Ini sama saja Kalan memberikan pilihan antara, dia-Kalan- atau ayahnya-Yeneng-.
•••
Sudah dua minggu berlalu setelah Kalan memberikan pilihan pada Alkina. Sudah dua minggu pula Kalan tidak menghubunginya, apalagi menjemputnya.
"Hari ini kamu ke sekolah?" tanya seorang pria yang duduk santai di sofa ruang tamu apartemen milik Yeneng yang baru dibeli beberapa hari yang lalu.
Alkina menghela nafasnya, sebelum mengangguk. Hubungannya dengan Kalan benar-benar hancur lelaki itu tidak pernah menyapa atau sekedar melihatnya lagi.
"Mau diantar?" Alkina menggeleng.
"Nggak usah!" pekik Alkina sebelum melangkah menuju pintu, tanpa menghiraukan panggilan Husein. Yah! Lelaki itu adalah Husein.
Saat sampai di depan pintu, Alkina kembali menoleh ke arah Husein yang masih melihatnya.
"Boleh deh," ucap Alkina sebelum melangkah meninggalkan lelaki yang kini terkekeh akan tingkah labil Alkina.
Alkina duduk dengan tenang di samping Husein, memandang keluar jendela. Selama dua minggu ini, moodnya benar-benar tidak bisa ia kontrol, ia lebih muda marah dan menangis.
"Udah sampai," ucap Husein yang membuat Alkina menoleh.
"Makasih," ucapnya sebelum turun dan melangkah pergi meninggalkan Husein yang masih terdiam.
Alkina berjalan hingga tatapannya berhenti saat melihat Kalan bersama teman-temannya sedang berbicara di parkiran.
Alkina menghela nafasnya sebelum berjalan mendekati kerumunan itu.
"Eh, ibu Alkina," sapa Natan dengan sedikit kikuk setelah mengetahui permasalahan antara kedua manusia itu.
Alkina hanya menatap sebentar, lalu menghela nafasnya.
"Anter aku masuk kelas," ucap Alkina pada Kalan yang masih menatap datar ke arahnya.
Entahlah, pagi ini Alkina benar-benar ingin diantar oleh Kalan ke kelasnya. Bukan seperti biasanya, kali ini ia sangat ingin bisa dikatakan harus terjadi.
Kalan kembali duduk di atas motornya. "Lo siapa?"
Plak
Alkina dengan keras memukul bibir milik Kalan saat lelaki itu selesai dengan pertanyaan bodohnya. Siapa Alkina? Dasar bodoh!
Ke empat sahabat Kalan sontak memejamkan matanya saat mendengar ringisan dari Kalan yang kini mengusap pelan bibirnya.
"LO—-"
"APA?! AKU CUMAN MINTA DIANTER?!" potong Alkina dengan pekikan keras yang membuat Kalan sedikit memundurkan wajahnya karena wanita itu benar-benar teriak tepat di depan wajahnya.
"Kenapa nggak sekalian orang yang nganter lo kesini yang lo suruh temenin?"
"Kamu cemburu?" tanya Alkina sambil tersenyum malu.
Kalan mendorong pelan Alkina agar menjauh dari dirinya. Lelaki itu melangkah pergi meninggalkan Alkina yang kini menatapnya dengan tatapan kecewa yang membuat ke empat sahabat Kalan tidak tega meninggalkannya.
"Kita aja yang nganter, gimana?" tanya Alian sebelum meringis melihat tatapan tajam dari Alkina.
"Gak!! Kalian bukan Kalan?!" teriak Alkina sebelum pergi sambil menghentak-hentakkan kaki jenjangnya.
Ia melangkah pergi namun terhenti saat melihat geng Cecana yang melangkah menghampirinya.
Di sana sudah berdiri Angela sebagai ketua Cecana, diikuti tiga dayang-dayang setianya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Possessive Husband
RomanceAlkina mendekati gerombolan anak yang sedang bersantai di rooftop sekolah. Tentu saja kedatangan Alkina sukses mencuri perhatian. "Kalan?" Kalan membuang rokoknya setelah mendengar sapaan dari gadis yang selama ini sudah ia klaim sebagai kekasihnya...
