39

2.6K 143 9
                                        

Alkina menghela nafasnya, entah mengapa hari ini rasanya ada sesuatu yang membuat hatinya berdetak tidak karuan. Kalan yang duduk di samping Alkina bisa merasakan kegugupan dari wanita hamil di sampingnya itu.

"Sayang, are you okay? Lo mau balik dulu?" Pertanyaan yang dilontarkan Kalan membuat Alkina menoleh. Ia menggeleng pelan, ini sudah menjadi keputusannya.

Alkina menatap ke arah gedung bertingkat di depannya, gedung serba putih dengan tulisan Rumah Sakit Khusus Jiwa Daranius, tempat di mana ibunya dirawat.

Entahlah. Alkina juga tidak mengerti dengan perasaannya saat ini.

"Kalau lo belum siap, kita bisa pulang aja."

"Kita udah jauh-jauh ke sini."

"Kin, gue ga peduli. Kalau sekarang lo ga nyaman untuk masuk ke sana lagi, it's fine, kita balik. Kita bisa ke sini kapan pun lo siap."

Alkina menggeleng, ia tidak ingin merepotkan Kalan terlalu jauh. Cukup hari ini saja.

"Ga usah, nanti kamu repot."

Kalan mengusap pipi putih yang mulai membesar itu, ia tahu perasaan istrinya kini sedang tidak baik-baik saja, tapi ini sudah menjadi pilihan Alkina. Menghadapi semua fakta menyakitkan yang akn terbongkar satu persatu.

"Kin, sekarang, besok, lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan, bahkan kalau lo mau dianter tiap hari cuman untuk liat bagunan ini, gue bakalan selalu ada buat temenin lo. Sekarang yang penting adalah, lo nyaman atau nggak? Kalau lo belum siap, kita bisa datang lain waktu."

Alkina lagi-lagi meghela nafasnya menoleh ke arah Kalan yang kini menatapnya dengan tatapan dalam. Alkina tahu, Kalan sebenarnya bingung harus bereaksi apa, karena ia tahu Kalan juga sedang tidak baik-baik saja jika melihatnya bertingkah seperti ini.

"Ayo turun."

Kalan yang mendengar ucapan Alkina sontak mengangguk, ia tidak lagi ingin bertanya karena ia tidak ingin membuat istrinya itu ragu dengan keputusannya sekarang. Untuk kedepannya biar Alkina yang menentukan.

Alkina menerima uluran tangan Kalan saat lelaki itu membukakan pintu untuknya. "Kamu jangan lepas tangan aku, ya?"

"Never, sayang. Trust me, gue bakal selalu ada di samping lo."

Mereka berjalan beriringan, selangkah demi selangkah mereka lewati hingga terhenti pada ruangan yang kemarin Alkina datangi. Di sana, wanita duduk dengan posisi menghadap ke jendela dengan tangan yang terikat oleh kain. Kalan menghela nafasnya, rasanya berat mengantar istrinya ke tempat ini dengan keadaan seperti ini.

"Kita pulang aja." ucapnya pelan yang langsung dibalas gelengan kepala oleh istrinya.

"Kalan? Kalau diliat dari samping, ada miripnya sama aku, ya?"

Kalan tidak bisa menutup hal itu, bahkan ia yakin semua orang akan percaya jika wanita paruh baya yang kini terduduk diam dengan tatapan kosong itu adalah ibu dari istrinya hanya dalam satu kali lihat. "Lo mau coba masuk?"

Alkina menggeleng. "Nggak, kayaknya aku lebih milih ngeliat aja."

"Mbak Mika?" Alkina menoleh, lagi-lagi dirinya dipanggil dengan sebutan itu. Mika.

"Mbak ke mana aja? Semenjak Mbak ga pernah datang, Ibu makin parah." ucap wanita dengan pakaian serba putih yang melekat pada tubuhnya.

"Istri saya namanya Alkina, bukan Mika, Sus." Belum sempat menjawab pertanyaan wanita itu, Kalan lebih dulu memberikan klarifikasi atas nama dan status Alkina.

Wanita di depan mereka tampaknya belum bisa mencerna ucapan Kalan, terlihat dengan dahinya yang berkerut tanda seseorang sedang berfikir keras. Kalan yang juga mengamati ekspresi wanita itu sontak memilih melanjutkan ucapannya. "Di mana kami bisa melihat data-data Ibu itu? Ada yang ingin kami pastikan."

Wanita itu kemudian kembali tersadar setelah mendengar ucapan Kalan. "Maaf, Pak. Kalau memang Mbaknya bukan Mbak Mika, saya ga bisa memberikan data pribadi pasien."

"Gapapa, Sus. Dia saudari Mika." Mendengar kalimat itu, sontak mereka menoleh bersamaan dengan tatapan kini tertuju pada sosok pria yang berdiri tak jauh dari mereka. Penampilan lelaki itu tampak lebih layak dari terakhir kali Alkina bertemu dengannya —di rumah sakit di mana Mika dirawat.

"Astaga Mbak, saya minta maaf, ya! Saya salah mengenali orang, soalnya Mbak plek ketiplek kayak Mbak Mika."

Alkina tersenyum menanggapi ucapan wanita itu, lalu tak lama kemudian Nichol berjalan mendekati mereka. Lelaki itu tampak berdiri dengan tenang di depan Kalan yang masih mengamati Nichol dengan tatapan tajam.

"Gue Nichol. Adiknya Mika."

Alkina mebulatkan matanya, pria ini? Jika ia adalah adiknya Mika, maka ia juga adiknya? Fakta apa lagi ini. Tanpa sadar Alkina memundurkan langkahnya, rasanya kakinya kini tidak mampu menopang tubuhnya karena terkejut dengan fakta baru yang ia temukan. Selain memiliki ibu kandung, saudara kembar, kini ia memiliki adik?

"Maaf belum sempat memperkenalkan diri dengan baik kemarin." Nichol menatap ke arah Alkina yang kini terlihat sangat terkejut dengan pengakuannya.

Kalan yang ikut bingung dengan posisi ini, segera melunakkan tatapannya, ia merangkul pinggang sang istri, lalu tersenyum.

"Gue Kalan, suami Alkina."

Nichol mengangguk, tidak ada raut terkejut di wajah pria itu, sehingga membuat Kalan berasumsi bahwa lelaki itu sudah tahu dengan status mereka. "Gue tau." Pernyataan itu sontak membenarkan pemikiran Kalan.

Nichol berjalan mendekat ke arah pintu ruangan, melewati sedikit Alkina dan Kalan.

"Ibu masuk ke sini udah lama, sebelum kak Mika kecelakaan." Alkina dan Kalan tidak memberikan tanggapan, mereka memutuskan untuk mendengar penjelasan lebih lanjut dari lelaki itu.

"Sejak kecil kami hidup pas-pasan, ibu banting tulang cari uang buat kami, beberapa tahun kemudian kehidupan kami sedikit lebih layak, punya rumah, tapi gak berlangsung lama ibu ketipu sama temennya sendiri. Semua yang kita punya tiba-tiba hilang dalam semalam, rumah, motor, tabungan, semuanya."

"Kami kehilangan uang sekitar 400 juta, makanya ibu jadi stress dan depresi?"

"Kehilangan 400 juta bikin depresi?" Pertanyaan Kalan membuat Nichol menoleh ke arahnya, lelaki itu tersenyum simpul sebelum mengangguk.

"Mungkin bagi lo, 400 juta itu cuman buat lo sebulan, tapi bagi kami? Bagi kami, 400 juta itu bisa buat sampai beberapa tahun hidup."

Kalan meringis saat Alkina melayangkan cubitan kecil di pinggangnya.

Nichol kembali menatap ke arah sang ibu, "Begitu pun dengan Ibu, kerja kerasnya hilang gitu aja."

"Saat ibu mulai sakit tapi masuk dirawat di rumah, Kak Mika yang cari uang, kerja apa pun biar kita bisa makan hari itu, sedangkan gue, gue tinggal di rumah jagain Ibu biar ga ngelakuin hal-hal aneh."

"Tapi, setahun kemudian, kak Mika kecelakaan, ditabrak mobil."

"Dia koma, Ibu yang tahu kondisi Kak Mika semakin terpuruk dan hampir bunuh diri tiap hari, sampai akhirnya gue nyerah. Gue takut kalau cuman modal obat, gue jadi kehilangan Ibu, makanya gue bawa ke sini, biar gue bisa jaga kak Mika juga."

Nichol menoleh ke arah Alkina dan Kalan, lelaki itu tersenyum simpul. "Mau tau kenapa kita bisa berpisah?"

________________________

Follow~~ satu persatu udah mulai ada cahayanya🧏‍♀️

Possessive HusbandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang