Kalan mengangguk. "Tapi belajarnya di ranjang, mau?"
•••
Kalan menatap malas pada Alkina yang sedang membaca buku pelajaran di atas ranjang. Yah! Mereka belajar di atas ranjang. Di atas ranjang.
"Kamu baca ini dulu," ucap Alkina sambil menunjuk beberapa bagian yang sudah wanita itu tandai.
Kalan menarik kasar buku yang diberikan Alkina sebelum membacanya.
"Kamu kenapa sih? Kan kemauan kamu udah aku turutin." Alkina menatap ke arah Kalan yang masih setia dengan tatapan malas yang tertuju pada buku.
"Mata lo nurutin," sindir Kalan sebelum membuka lembaran buku dengan kasar.
"Kamu mau belajar di atas ranjang, kan? Ini udah di atas ranjang."
Kalan menghela nafasnya sebelum berbaring terlentang menghiraukan Alkina menatapnya dengan tatapan penuh tanya.
"Terserah lo aja."
Kalan mulai memfokuskan pandangannya ke arah buku lalu membaca dengan teliti beberapa kalimat yang sudah ditandai Alkina menggunakan stabilo.
Setelah selesai, Kalan langsung memdudukkan tubuhnya di depan Alkina.
"Alkina?" Alkina mendonggak menatap ke arah sang suami.
"Iya?"
"Lo mau kuliah di mana?"
Pertanyaan Kalan membuat Alkina sedikit bingung. Haruskah ia kuliah dengan perut buncitnya nanti?
"Kenapa nanya kayak gitu?"
"Biar gue bisa cari univ yang lo mau."
Alkina terdiam sebelum menunduk menatap ke arah perutnya.
"Aku kan hamil," ucap Alkina sebelum kembali menatap sang suami.
Kalan mengangguk sebelum menarik tangan Alkina ke pahanya.
"Orang hamil bisa kuliah kok, apalagi kita kan udah nikah," jelas Kalan sambil mengusap pipi sang kekasih dengan pelan.
"Lo jangan insecure ya, lo cantik kok, hmm, nggak ada yang bisa—"
"Aku tau itu, aku cuman pengen fokus ke anak aja." potong Alkina cepat saat tahu Kalan akan kembali mengeluarkan gombalan recehnya.
"Bukannya kamu punya cita-cita?"
Alkina mengangguk. "Itu dulu sebelum dia hadir."
Kalan menatap manik hitam milik sang istri sebelum membaringkan kepalanya di paha terbuka milik Alkina. Ia tersenyum sambil mengelus perut sang istri. "Lo bakal jadi ibu terbaik setelah buna."
Alkina tersenyum sambil mengelus rambut sang suami. "Aku bakal jadi istri terbaik buat kamu."
Kalan mendonggak sebelum tersenyum. "Makasih ya. Udah terima gue jadi suami lo."
Alkina mengangguk. Tak lama kemudian, Kalan tertawa keras sambil bertepuk tangan.
"Kata-kata gue alay banget astaga!" teriaknya heboh setelah berdiri dan menunjuk ke arah Alkina yang menatap bingung ke arah Kalan.
"Gue cocok nggak jadi aktor film?" Alkina melotot sebelum ikut menegakkan tubuhnya.
"Gak jelas banget," sindir Alkina sebelum pergi menjauh dari Kalan yang terus saja menertawakan sesuatu yang menurut Alkina tidak lucu.
Setelah Alkina masuk ke dalam kamar mandi, Kalan menghentikan tawanya, lalu mengusap wajah tampannya.
"Seandainya lo tau, itu bukan sekedar lolucon. Tapi gue—"
KAMU SEDANG MEMBACA
Possessive Husband
RomansaAlkina mendekati gerombolan anak yang sedang bersantai di rooftop sekolah. Tentu saja kedatangan Alkina sukses mencuri perhatian. "Kalan?" Kalan membuang rokoknya setelah mendengar sapaan dari gadis yang selama ini sudah ia klaim sebagai kekasihnya...
