Merry Christmas everyone✨
Pliss jgn emosi, aku juga baca ulang kok!
Follow dulu, bantu author baru sampai 10k dong🧏♀️
____________________
Kalan terus saja memperhatikan kekasihnya yang sibuk merenung di depan jendela kamarnya. Sebenarnya is sangat tahu suasana hati Alkina saat ini memang tidak sedang baik-baik saja. Hidup di keluarga cemara sepertinya tentu saja tidak pernah merasakan yang namanya tidak diharapkan, tidak dianggap, dan dibuang. Tapi Alkina? Gadis itu benar-benar menerima semuanya baik itu dari keluarga angkat maupun kandungnya.
"Hari ini lo ga mau jalan? Gue rindu quality time bareng." Kalan berjalan menghampiri Alkina dengan roti bakar selai coklat di tangannya. Ia menyimpan piring itu di nakas samping ranjang.
Alkina menoleh, tertawa pelan. Quality time? Bukannya selama ini di mana ada Alkina selalu ada Kalan? Mereka bahkan sangat jarang terpisahkan. "Kita kan selalu bareng."
"Ya, maksud gue kita bener-bener bareng, kayak di pantai hari itu."
Alkina mengangguk, sebenarnya ia memang memerlukan tempat yang tenang saat ini. Rasanya sangat gelisah, entah mengapa perasaannya saat ini sangat kacau, padahal tidak seharusnya ia pikirkan. Ia sebenarnya bisa saja pura-pura tidak mengetahui apa-apa, toh selama ini hidupnya tetap berjalan semestinya. Tapi, ikatan yang tak terlihat itu entah mengapa membuatnya sedikit terusik.
"Gimana kalau aku benar-benar punya keluarga kandung?" Pertanyaan tiba-tiba dari Alkina membuat Kalan terdiam cukup lama, sebelum berlutut di depan istri kecilnya itu.
"Kenapa? Masalahnya apa?"
"Jawab aja."
"Ga gimana-gimana, Kin. Kina, gue ga bisa ngomong apa-apa, nyuruh lo buat baik-baik aja pun gue ga tega, gue ga pernah ada di posisi lo, kita terlahir dengan keluarga yang jauh berbeda. Gue ga semunafik itu untuk nyuruh lo buat nerima semuanya dengan lapang dada."
Alkina menunduk, benar! Mereka dua orang yang terlahir dengan status yang berbeda, berat rasanya jika harus mempertanyakan hal kepada seseorang yang tidak mengerti rasanya menjadi kita.
"Tapi lo punya gue. Kin, gue selalu ada buat lo, soal keluarga, lo ga usah mikirin sesuatu yang udah terjadi di masa lalu, kita ga bisa ubah apa-apa, berandai-andai pun ga akan ada gunanya."
Alkina terdiam, Yap! Mau seberusaha apapun dirinya ia tetaplah tidak bisa merubah masa lalu, seberapa sering pun dirinya bersedih tetap saja ia adalah Alkina, anak yang tidak pernah diinginkan.
"Tapi, kita bisa bangun keluarga cemara itu, lo sebagai ibunya dan gue sebagai ayahnya. Kita bisa, Kin. Kalau lo ga bisa ngerasain kehangatan keluarga yang utuh, kita bisa ciptain itu. Lo sama gue."
Alkina membalas genggaman tangan sang suaminya, Yap! Tidak seharusnya ia larut dalam plot twist kehidupannya ini. Seharusnya ia lebih paham sesuatu yang sudah terjadi tidak bisa ubah, yang perlu adalah bagaimana ia kedepannya.
"Sekarang lo punya dua pilihan. Pertama, lo bisa bertingkah kalau ga terjadi apa-apa dan berjalan sesuai seperti sebelum lo tau soal mereka atau kedua, lo mau nerima mereka sebagai seseorang yang emang punya hubungan sama lo."
Alkina menghela nafasnya, jika posisinya ia bertemu dengan mereka dengan keadaan yang lebih layak, mungkin saja ia akan memilih untuk membiarkan mereka menjalani kehidupannya masing-masing, tapi melihat gadis yang memiliki wajah persis dengannya sedang terbaring lemah dengan berbagai alat bantu kehidupan yang menghiasi tubuhnya, dan sang wanita yang mewariskan mata indah dan hidung mancung, serta rambut hitam tebal sedang berjuang untuk kembali normal, rasanya ia tak tega untuk bertingkah tidak terjadi apa-apa.
"Gimana kalau aku mutusin untuk pilih pilihan kedua."
Kalan tersenyum, ia tahu istrinya itu akan memilih pilihan kedua, ia tahu bagaimana perasaan Alkina tanpa gadis itu harus mengutarakannya. Ia tahu sedari awal Alkina sudah memutuskan pilihan ini bahkan sebelum Kalan menawarkannya, hanya saja istrinya itu perlu dorongan dan dukungan darinya.
"Apa pun yang lo butuhin, apa pun yang lo mau, gue selalu ada buat lo."
Alkina tersenyum lalu memeluk tubuh sang suami dengan erat, tak lama kemudian suara isak tangis itu terdengar, Alkina tidak bisa menahan air matanya lagi, entah harus bagaimana ia membalas lelaki yang berstatus suaminya ini. Entah mengapa ia selalu percaya bahwa Kalan akan ada terus untuk menemaninya.
"Makasih, yaa, Kalan. Kamu udah selalu ada buat aku."
"Udah tugas aku, ngapain kamu berterima kasih." Kalan mengusap punggung kecil istrinya itu, ia tidak akan menyuruh Alkina menghentikan tangisnya, ia membiarkan Alkina menangis mungkin dengan begitu ia bisa membuatnya sedikit lebih lega.
"Maaf belum bisa jadi apa yang kamu mau, belum bisa jadi istri yang baik, dan cuman bisa nyusahin kamu." gumam Alkina sambil mengusap hidungnya di bahu sang suami.
Kalan menjauhkan wajah Alkina dari dadanya, menatap mata yang mulai sembab, dan kedua tangannya yang mengusap lembut pipi merah milik Alkina. "Kalau pun ada kehidupan kedua, ketiga, keempat, keseratus, gue bakal selalu cari lo, Kin!"
____________
Maaf🙏🏻 iyaaaa, boleh emosi kok, bolehhhhhh🙏🏻🧏♀️ siap menerima makian, tapi follow ya☺️🤏🏻
KAMU SEDANG MEMBACA
Possessive Husband
RomanceAlkina mendekati gerombolan anak yang sedang bersantai di rooftop sekolah. Tentu saja kedatangan Alkina sukses mencuri perhatian. "Kalan?" Kalan membuang rokoknya setelah mendengar sapaan dari gadis yang selama ini sudah ia klaim sebagai kekasihnya...
