TUJUH BELAS

95 11 0
                                        

        
            Mobil Catur kembali mengantarkan Alika ke gedung resepsi Ahsan dan Anindya. Mobil berhenti, namun Alika tak kunjung turun.

"Mbak Fris, bawa make up nggak?" tanyanya pada Friska.

"Buat apa dek?, Adek kan nggak terlalu suka dandan" bukan Friska yang menjawab, tapi Catur.

"Ada mbak Al, bentar."
Friska merogoh tas tangannya.

Catur memperhatikan Alika dari kaca, namun yang di perhatikan seolah tak peduli.

"Nih mbak Al" ucap Friska sembari menyerahkan pada Alika yang di terima dengan senang hati.

Alika mulai membuka kotak kecil berisi alat make up sederhana namun lengkap. Ia memang tidak mau ribet berdandan, tapi ia paham apa nama dan fungsi masing-masing alat make up tersebut.
        
        Alika mengaplikasikan foundation yang ia oles agak tebal. Setelahnya, ia poles dengan bedak tabur yang cukup tebal. Hal itu membuat Catur terpaksa menghentikan tindakan Alika yang ia rasa tak wajar.

"Adek cukup!" peringat Catur. Alika menulikan pendengarannya.

Alika terus saja menyapukan bedak, padahal wajahnya sudah seperti orang-orangan sawah. Tak di indahkan, Catur pindah ke belakang mendekati Alika tanpa keluar mobil.

"Adek udah!" sergah Catur seraya meraih tangan Alika yang tak mau berhenti memoles wajahnya sendiri.

"Abang nggak suka lihat Alika dandan?!. Kan Alika biar cantik?, biar Abang jadi nikahin Alika" ucapnya melantur.

Air mata itu perlahan kembali menetes dari mata Alika. Tak ada pilihan lain, Catur memeluk erat tubuh Alika.

"Fris, kunci pintunya!" perintah Catur yang di angguki Friska.

"Alika suka anak kecil. Abang tahu nggak?, Alika juga pingin punya anak dari abang. Makanya abang nikahin Alika ya?. Jangan nolak lagi. Soalnya Alika udah cantik sekarang, udah mau dandan" lanjut Alika masih dengan ceracaunya.

Tak ayal, keadaan Alika membuat Friska dan Catur iba. Mereka merasa bersalah karena telah menggores luka di hati Friska.
          
          Catur mencoba mengambil pembersih wajah yang juga ada di kotak kecil make up itu. Dengan kapas, perlahan ia membersihkan wajah mantan kekasihnya ini.

Alika tidak menolak. Setelah menghabiskan cukup banyak kapas, akhirnya wajah Alika sudah bersih dari bedak dan foundation.

Di situlah Alika baru tersadar posisinya dengan Catur.

"Maaf bang, maaf mbak Fris" ucapnya sembari menjauhi tubuh Catur dan segera mengalihkan pandangan.

Sejenak ia merasai detak jantungnya yang masih menggila. Kemudian ia kembali menoleh pada Catur.

"Mungkin ini terlambat. Tapi makasih bang, udah ngasih kenangan indah selama empat tahun kita bersama. Semoga hubungan Abang dan mbak Fris segera resmi, dan makasih untuk makan dan tumpangannya hari ini. Alika pergi dulu" pamitnya tanpa mau di sela.

Ia pun kembali masuk ke gedung resepsi abangnya. Sebisa mungkin ia memasang wajah ceria.                 
        
Setelah memastikan Alika masuk, Catur kembali mengemudikan mobilnya. Ia berencana membawa Friska ke rumahnya untuk di kenalkan sebagai calon istri. Ia tidak bisa membayangkan, bagaimana reaksi keluarganya?, ketika tahu bahwa ia akan menikahi gadis lain.

Ia paling tidak siap menerima kemurkaan orang tuanya. Tetapi ia juga tidak akan jadi manusia brengsek. Yang dengan senang hati mengambil keperawanan seorang gadis, lantas enggan bertanggung jawab. Walaupun peristiwa itu berawal dari jebakan nafsu. Namun ia sudah bertekad untuk mempertanggungjawabkan kebejatannya. Apapun konsekuensinya, ia siap menerima.

Finally Sah (Terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang