Empat Belas

86 11 0
                                        


Side, Ahsan and Anindya's wedding day

     
       Sebulan dari waktu yang di sepakati. Hari ini, adalah hari terbesar dalam kehidupan Ahsan Hendra putra, anak tertua di keluarga Hendra Sasmita.

Hari ini Ahsan akan melepas masa lajangnya, bersama Anindya, wanita baik pilihannya.

          Sebuah masjid yang terletak seratus meter dari rumah Anin, akan menjadi tempat prosesi ijab kabul nantinya.

Pagi ini, tentu saja Alika sudah ada di masjid tersebut. Bertugas sebagai WO, ia turun tangan langsung dalam penataan masjid, yang akan menjadi tempat titik awal sejarah hidup baru abangnya. Sementara orang rumahnya akan tiba nanti sekitar jam 08.00 WIB.

Pekerjaannya sudah selesai. Sisanya ia serahkan pada beberapa anak buah yang membantunya. Ia memutuskan untuk kembali ke rumah Anin yang sebentar lagi resmi menjadi kakak iparnya.
      

                              💔💔💔

        
       Berjalan kaki ia menuju rumah Anin. Ponsel di saku celana selututnya
berdering. Ia segera mengangkat panggilan penelpon. Matanya berbinar, senyumnya merekah, mendengar suara yang menyapanya di seberang.

"Assalamualaikum adek?!" sapa suara di seberang yang tak lain adalah Catur.

"Waalaikum salam Abang!" jawab Alika riang.

"Adek lagi apa?," tanya Catur.

"Ini lagi jalan ke rumah Anin, habis dari ngedekor masjid tadi. Emm, Abang jadi Dateng?!" tanya Alika memastikan.

"Jadi dek. Emm, Abang ajak si Friska boleh?!" tanya Catur ragu.

"Boleh. Emangnya, om dan tante nggak dateng?!" tanya Alika.

"Dateng dek, insyaAllah. Tapi ini nanti Abang habis meeting ke situnya. Jadi otomatis abang bareng Friska. Nggak apa-apa kan?!" tanya Catur lagi.

"Iya bang, boleh. Ya udah bang, Ika udah di rumah Anin lagi nih. Ika mau siap-siap dulu" pamit Alika.

"Iya, dandan yang cantik ya dek?" goda Catur.

"Beres itu mah!" timpal Alika.

"Ya udah, adek siap-siap.

"Assalamualaikum."

"Waalaikum salam."

Panggilan terputus. Alika masuk ke dalam kamar Anin. Di sana, Anin di temani kakak dan mamanya, tengah di dandani perias. Memang dasarnya Anin cantik dan tidak pernah dandan. Jadilah ketika sedikit saja di poles, cantiknya sudah luar biasa. Alika terpana melihatnya.

"Cantik banget calon kakak gue!" puji Alika.

"Makasih calon adek!" balas Anin.

"Udah selesai Al, ngedekornya?!" tanya Nabila, kakak Anin.

"Beres kak. Emm, Alika mandi dulu deh ya?. Setengah jam lagi kita ke sana. Keluarga Alika mungkin langsung ke masjid" terang Alika.

"Ya udah sana nak, mandi dulu" perintah  mama Fatimah, mama dari sahabat sekaligus calon kakak iparnya, Anindya.

Alika pun masuk ke kamar mandi yang ada di kamar Anin. Sedangkan Anin kembali di poles dan tinggal sentuhan terakhir.

                           💔💔💔

        Di kamarnya, Catur tengah memasang dasi di depan cermin. Sudah sebulan ini, ia jarang bertemu Alika. Walaupun komunikasi via virtual masih lancar.

Pekerjaan di kantor yang menggunung, membuat ia seolah istirahat saja harus pandai mencuri waktu. Di tambah lagi penatnya memikirkan langkah hubungannya dengan Alika yang sudah ia nodai, walaupun tiada niat di awalnya.

Finally Sah (Terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang