Seminggu sudah, Alika tidak pernah mengistirahatkan matanya. Kalaupun terpaksa tidur, ia tidak akan memilih ranjang sebagai tempatnya. Ia takut mimpi buruk akan mengganggu tidur nyenyaknya.
Sudah seminggu, ia bekerja tanpa sahabat-sahabatnya. Mereka sudah resign dari kantor EO dan WO miliknya, karena fokus dengan keluarga. Alika memahami itu.
Pagi ini, Alika tengah berada di dalam butik miliknya. Ia tengah memastikan kesiapan gaun yang akan di pakai kliennya dua Minggu lagi.
Sementara kantor EO dan WO nya, di jaga seorang kepercayaannya.
Ia tampak puas dengan rancangan desainer yang ia miliki, ketika di pertunjukkan gaun yang ia pinta.
Juga kerja keras karyawan yang bekerja di bagian busana ini, ia sangat puas.
"Mbak Hesti, makasih kerja kerasnya ya?. Aku suka banget dengan hasil jadinya."
"Iya mbak Al, sama-sama."
"Ini mau di ambil sama yang punya, apa mau di peketin aja?" tanya mbak Hesti.
"Emm, di paketin aja deh mbak. Takut orangnya lagi riweh" usul Alika.
"Ya udah mbak. Biar habis ini aku panggilin kurir buat maketin."
"Ya udah mbak, kalau gitu aku balik ke sebelah dulu" pamit Alika yang di angguki mbak Hesti.
Mbak Hesti beralih membungkus tiga gaun milik pelanggan, sementara Alika berjalan keluar butik menuju kantor EO dan WO nya.
Baru saja masuk ke dalam kantornya, ia di sambut admin kantornya.
"Maaf mbak Al, ada yang nyari" ucap Nina sang admin.
"Siapa nin?, Orangnya mana?" tanya Alika.
"Orangnya ada di ruangan mbak" jawab Nina.
"Oh oke, aku masuk dulu."
Alika segera masuk ke ruangannya.
Di sofa panjang dalam ruangannya, ia melihat Fadil duduk santai sembari memainkan ponselnya.
"Pagi Dil?" sapa Alika yang mengambil atensi Fadil dari ponselnya.
Sadar orang yang ia cari hadir di depannya, Alika menaruh ponselnya di meja.
"Pagi kak. Habis dari mana?"
"Dari butik nih, cek persiapan gaun buat acara nikahan dua Minggu lagi" jawab Alika setelah duduk di sofa single sebelah Fadil.
Rona cerah di diri Fadil mendadak meredup, melihat buruknya keadaan Alika.
Kantong mata tampak hitam dan membesar. Badan Alika juga terlihat lebih kurus dari sepuluh hari lalu.
"Kak Ika udah makan?" tanya Fadil.
"Udah."
"Nggak tidur berapa hari, kak?" selidik Fadil.
"Seminggu, mungkin?" jawabnya meragu.
"Kakak pengen mati?!" seru Fadil spontan.
"Ih, kamu apaan sih?, sok-sok jadi Haikal?!" tanya Alika tak terima.
"Bukan sok jadi siapa-siapa kak. Kakak emang udah kelihatan banget sakitnya kali ini."
"Aku sehat kok" elak Alika.
"sini deh kak, bentar" pinta Fadil agar Alika mendekat.
Tanpa berpikir lagi, Alika memenuhi permintaan Fadil. Ia mendekat di mana Fadil duduk.
Fadil secara perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Alika.
Dengan segenap perasaan, Fadil mengecup kedua mata Alika yang menghitam bagian bawahnya secara bergantian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Finally Sah (Terbit)
De TodoBanyak waktu di korbankan demi keyakinan bersama di kemudian hari. Namun keyakinan itu akhirnya meluruh seiring dengan takdir yang tak berpihak. Menutup diri, namun ada yang memaksa membuka. Mencoba masuk dengan sisi yang berbeda. Hingga kepercayaan...
